
Mereka telah sampai di kafe serba mewah. Di kafe ini nampak sepi. Tidak ada pengunjung lainnya. Mezza yakin bahwa ini adalah ulah dari lelaki yang berada di sisinya.
Mereka di sambut oleh pelayan yang berbaris di pintu masuk. Mereka memberikan hormat kepada Mezza dan Daffin. Daffin menggenggam tangan Mezza ketika masuk kedalam kafe.
Ketika Mezza mau duduk, Daffin segera memundurkan kursi agar Mezza bisa duduk dengan nyaman. Baru saja duduk beberapa pelayan membawakan beberapa menu terbaik. Mira tersenyum dalam hatinya melihat usaha Daffin malam ini. Dia tidak menyangka bahwa lelaki dingin ini bisa menyiapkan acara seperti ini.
"Kok nggak di kafe om Alan aja?" tanya Mezza ketika pelayan kembali ke tempatnya.
"Mana seru jika di sana, pasti banyak mata - mata yang di kirimkan mamaku atau mamamu." jawab Daffin tersenyum manis.
Melihat senyum manis Daffin membuat Mezza terbuai sesaat.
"Manisnya senyumnya." teriak Mezza dalam hatinya.
"Emang kamu yakin jika di sini mereka nggak bisa masuk?"
"Nggak, aku sudah bilang ke pemilik cafe ini agar tidak ada yang masuk selain kita berdua."
"Mana tau mama bayar mata - mata."
"Nggak akan mungkin pelayan di sini berani berkhianat."
"Boleh di makan?" tanya Mezza usil.
"Tentu dong, jadi untuk apa kamu di ajak kesini jika nggak boleh makan." jawab Daffin mulai kesal.
"Baru beberapa menit bersama masa udah kesal aja." sindir Mezza.
"Kamu sih bikin spaning naik aja."
"Loh kan kamu nggak ada nawarin gimana mau makan, nggak romantis sama sekali."
__ADS_1
"Udahlah jangan merusak mood malam ini." ujar Daffin mulai menyantap santapannya.
"Siapa sih pacar kamu saat ini?" tanya Mira kepo.
"Saat ini kamu, kan aku kencan sama kamu."
"Sejak kapan pula aku mau jadi pacar kamu."
"Menyesal kamu jika nggak mau jadi pacar aku."
"Emang apa keuntungan jika aku jadi pacar kamu?" tanya Mezza tertawa sinis.
"Aku gagah, aku kaya dan sukses."
"Tapi kamu tidak bisa romantis, wanita itu sukanya sama lelaki romantis." ucap Mezza lalu meminum minumannya.
"Romantis itu jika dompet kosong juga percuma." jawab Daffin tidak mau kalah.
"Ya bukan gitu jugalah."
"Sempurna, aku kaya, cantik dan udah punya pekerjaan yang jelas."
"Tapi bukan itu yang di butuhkan lelaki, lelaki butuh kenyamanan di sisi wanitanya."
"Maksud kamu aku nggak bisa memberikan kamu kenyamanan, gitu?" tanya Mezza dengan mata melotot.
"Ini buktinya, kita malah beradu mulut."
"Itu karena kamu." ucap Mezza tidak terima.
"Karena kamu." Daffin tidak mau kalah.
__ADS_1
"Kamu."
"Kamu."
"Kamu....kamu...kamu...kamu....kamu."
"KAMU." ucap Daffin menekan kata kamu.
"Sama wanita aja nggak mau ngalah." ucap Mezza dengan ketus.
"Karena itu kamu."
"Nggak pernah juga liat kamu baik sama wanita lain."
"Karena mereka semua tidak penting." jawab Daffin mengulum senyum.
Mezza semakin kesal dengan sikap Daffin. Apalagi ketika melihat Daffin yang mengulum senyum.
"Ngapain senyum - senyum sendiri?"
"Suka - suka dong."
"Bisa nggak sih kamu patuh sama aku sebentar." ucap Mezza makin kesal.
"Bukannya terbalik."
"Setelah ini kita kemana?" tanya Mezza mengalihkan pembicaraan.
"Pulang, emang kamu mau kita kemana? ke hotel?" tanya Daffin tersenyum menggoda.
"Kamu...." Mezza mencubit tangan Daffin yang ada di atas meja. Dia begitu malu mendengar jawaban Daffin. Entah apa yang membuatnya malu padahal Daffin hanya bicara biasa saja.
__ADS_1
"Aku udah kenyang, ayok pulang." ujar Mezza lansung berdiri.
"Tunggu sebentar." ucap Daffin berdiri dan nampak sibuk dengan ponselnya.