Cinta Dafizza

Cinta Dafizza
Part 98


__ADS_3

Rey mengikuti saran dari Mezza. Semenjak itu dia berusaha menerima takdirnya. Dia berusaha menerima Momo sebagai jodohnya. Dia berusaha untuk lebih memperhatikan wanita itu.


Akan tetapi Momo selalu nampak sibuk belakangan ini. Bahkan Momo tidak mau menerima uang saku darinya. Rey tahu bahwa uang saku yang di berikan Amar pasti sangatlah banyak.


Momo semakin hari tampak tidak terlalu peduli dengan Rey. Pergi pagi-pagi lalu pulang tepat waktu. Ketika di rumah Momo lebih sering di dalam kamar.


Sore ini cuaca hujan deras. Momo juga belum pulang sejak tadi. Rey mulai mengkuatirkan wanita itu. Apakah Rey sudah cinta? tentu saja belum. Rey hanya kuatir karen takut terjadi apa-apa sama Momo. Ia bisa di marahi orang tua Momo jika terjadi sesuatu dengan wanita itu.


"Kemana dia?" tanya Rey begitu kuatir.


Rey mencoba menelponnya, namun tidak kunjung di jawab. Rey semakin kuatir.


drdrdrdrrrrrrrrrrrr


Momo calling.


"Ya mo, kamu di mana?"tanya Rey kuatir.


"Ban mobilku kempes, tapi di sini hujan, nggak ada orang di sini."


"Di mana, kirimkan alamatnya." ucap Rey seperti memberikan sebuah perintah.


Sebuah pesan masuk. Momo telah membagikan lokasi dia berada. Rey lansung bergegas menuju lokasi.


Lokasi Momo dan rumahnya memakan jarak tempuh kurang lebih 2 jam. Rey heran kenapa wanita itu sampai di jalan sepi di sana.


Dalam waktu kurang lebih dua jam Rey telah sampai. Dia melihat jalanan sepi. Hari sudah malam. Jalan ini nampak gelap sekali.

__ADS_1


Tidak ada nampak rumah siapapun di sini. Hujan deras dan gelap membuat Momo ketakutan. Rey berjalan menuju mobil Momo.


"Ayo kemobil ku."


Momo hanya berjalan tanpa banyak menjawab. Tadinya ia enggan untuk menelpon Rey. Tapi karena lelaki itu menelponnya makanya dia berani menelpon ulang.


"Kok bisa sampai kesini?" tanya Rey sambil menjalankan mobilnya


Momo hanya diam tanpa menjawab.


"Kenapa sampai di sini Momo Kusuma?" tanya Rey dengan nada agak keras.


"Aku sebenarnya.....aku....aku..." Momo gugup.


"Apa Momo?" tanya Rey tidak sabar.


"Pelanggan?" tanya Rey memotong pembicaraan Momo. Rey menoleh ke arah Momo walau sebentar.


"Pelanggan apa?" tanya Rey tidak sabaran kembali fokus ke jalan.


"Aku jadi sopir taksi online." ucap Momo menundukkan kepalanya.


Rey yang kaget lansung menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Kenapa?"


"Papa menyetop uang sakuku, dan menyita semua kartuku, aku tidak ingin merepotkan kamu." ucap Momo.

__ADS_1


"Tidak mau merepotkan aku?" tanya Rey melihat Momo sebentar.


"Aku tau kamu nggak suka aku karena anak manja, yang bisanya merepotkan semua orang." ucap Momo memejamkan matanya.


"Lalu apa kata orang jika tau anak Amar Tiandra Kusuma jadi sopir taksi online? apa kata orang jika istri dokter Reynolds jadi sopir taksi online?" tanya Rey dingin.


"Maaf aku hanya ingin mandiri, aku hanya ingin di cintai oleh kamu, aku hanya ingin berdiri di kakiku sendiri, tapi aku tidak punya keahlian, aku hanya bisa nyetir, aku tau kenapa aku tidak di sukai oleh kamu, karena aku tidak berguna sama sekali." ucap Momo mulai meneteskan air mata.


"Hapus air mata palsu kamu itu." Bibir Rey sedikit melengkung.


"Ini air mata asli tau." ucap Momo sambil merengut.


"Coba liat sini jika asli." ucap Rey mendekatkan wajahnya ke wajah Momo.


"Nih." ucap Momo polos juga mendekati wajahnya kepada Rey.


Cup


Cup


Momo terdiam saat Rey mengecup kedua matanya.


Cup


"Apakah dengan begini pertanda kamu berhasil menarik perhatian saya?"


Pertanyaan Rey membuat Momo sadar bahwa itu ciuman pertamanya.

__ADS_1


"Aaaaaaaa, itu ciuman pertamaku." teriaknya memukul bahu Rey.


__ADS_2