Cinta Dafizza

Cinta Dafizza
Part 43


__ADS_3

Setelah dua hari menjelajahi kota Bern akhirnya mereka naik kereta menuju Lauterbrunnen menggunakan kereta api. Mereka menikmati perjalanan menuju desa Lauterbrunnen.


Lauterbrunnen terletak di salah satu lembah lembah paling mengesankan di Pegunungan Alpen, di antara permukaan batu raksasa dan puncak gunung.


Perjalanan menuju Lauterbrunnen selama 1 jam 20 menit. Selama menuju ke sana mereka di suguhi pemandangan yang indah.


Mezza tersenyum ketika mengingat perjalanan ketika remaja menuju Lauterbrunnen. Ia sangat ingat bagaimana indahnya menuju Lauterbrunnen. Di sinilah cinta pertamanya tumbuh kepada lelaki yang duduk di sebelahnya saat ini.


Mezza mengingat kembali apa yang terjadi beberapa tahun yang lalu.


Flashback


Mezza tidak menyadari bahwa ia ketinggalan di kereta api. Dia ketakutan sekali. Dia mengedarkan pandangannya untuk mencari rombongannya. Ia tidak menemukan. Ia juga tidak tau bagaimana bisa terpisah dari keluarganya.


Ia mencari mondar mondar tanpa henti. Ia tidak terpikir untuk bertanya kepada petugas stasiun. Saat ini ia hanya ingin menangis. Akan tetapi hatinya mulai lega ketika melihat sosok yang mencarinya.


Dia melihat Daffin remaja mendatanginya. Dia segera berlari mengejar Daffin. Karena ketakutannya, dia lansung berlari memeluk Daffin. Dai menangis ketakutan di pelukan Daffin.


"Udah tenang, ada aku." ucap Daffin menenangkan Mezza. Ia mengusap punggung Mezza untuk menenangkan.


Mezza merasakan kenyamanan saat di pelukan Daffin. Dia merasa ada ketenangan di dalam pelukan lelaki remaja itu. Dia merasa jatuh hati kepada lelaki itu saat ini juga. Dia merasakan terlindungi ketika bersama lelaki ini.

__ADS_1


"Terima kasih." ucap Mezza belum juga melepaskan pelukannya.


"Mau sampai kapan kita berpelukan seperti ini?" tanya Daffin tersenyum sehingga ia nampak gagah sekali.


Hati Mezza meleleh melihat senyuman gagah lelaki remaja itu. Saat ini ia merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Mezza dengan cepat melepaskan pelukannya. Ia tidak ingin lelaki ini mengetahui bahwa jantungnya berdetak lebih cepat.


Ia tau banget karakter lelaki yang ada di depannya. Lelaki ini sangat hobi merendahkannya. Lelaki ini juga yang paling rajin mencelanya tanpa ampun.


"Kamu nggak apa-apa nak?" tanya Siska yang baru datang bersama dengan Dita.


"Aku nggak apa-apa ma."


"Dia jika nggak menyusahkan aku mana bisa Tante." ucap Daffin memasukkan tangannya kedalam sakunya.


"Sok cool sekali." ucap Mezza dalam hati.


Daffin berjalan meninggalkan semua. Tapi meskipun begitu dia memang nampak paling keren di mata Mezza saat ini juga.


Flashback end


Daffin merasa ganjil ketika melihat Mezza senyum - senyum sendiri. Ia tidak tau dengan apa yang di pikirkan oleh wanita itu.

__ADS_1


"Kamu mikirin apa sih?" tanya Daffin menyerngitkan keningnya.


"Mikirin kamu."


"Jangan bohong, kamu mikirin lelaki cinta pertama kamu itukan."


"Udah deh jangan mulai, sekarang aku di samping kamu, aku ini istri kamu maka jangan bahas yang lain lagi."


"Raga kamu bersamaku tapi jiwamu."


"Ya udah deh, mari hari ini kita buat momen baru saat melewati perjalanan ini untuk kenangan kita bersama."


"Udah seringpun kita melewati jalan ini, kamu ingat nggak dulu kamu pernah hilang pas turun dari kreta api menuju Lauterbrunnen." ucap Daffin mengingat kembali masa remaja mereka.


"Udahlah, kenapa harus di ingat pas kejadian itu." ucap Mezza cemberut.


"Tapi itu kayak drama Korea loh, ketemu pasangannya di stasiun." senyum Daffin begitu manis.


"Mungkin karena itu juga aku suka kamu."


"Jangan berdrama segala deh." ucap Daffin menowel hidung Mezza.

__ADS_1


__ADS_2