Cinta Dafizza

Cinta Dafizza
Part 7


__ADS_3

Kami telah sampai di rumah kediaman kakek dan nenek. Semua keluarga sedang berkumpul di rumah ini. Aku duduk di sebelah uncle Amar. Aku akui uncle Amar ada kemiripan dengan papa.


Uncle Amar memelukku agar aku tenang mendengar ceritanya. Aku hanya menangis saat uncle Amar menceritakan semuanya.


Ternyata mama dan papaku kecelakaan saat menuju rumah sakit. Saat ini keduanorang tuaku sedang kritis di rumah sakit sana. Mereka di awasi oleh dokter bagus dan di jaga oleh kedua adikku.


Aku ingin segera berkunjung kesana dan merawat mereka. Namun uncle menyarankan untuk tinggal terlebih dahulu. Jika dalam Minggu ini belum melewati kritis barulah berangkat ke sana lagi.


"Kamu fokus sama sekolah, Minggu ini kita liat perkembangan mama dan papa kamu." ucap Uncle Amar.


"Uncle yakin kan papa dan mama Alan sembuh?" tanyaku kepada dokter spesialis bedah saraf ini.


"Uncle yakin jika Meme sering berdoa kepada Allah, Allah akan mengabulkan doa orang yang mengangkat tangannya dengan tulus."


"Ayo makan dulu, kalian pasti semua capek." ucap Tante Dita dengan ramah.


Lagi - lagi Tante Dita menunjukkan sisi baiknya kepadaku. Dari tadi beliau sibuk mengurus kamu semua. Begitu juga dengan om Bian yang notabenenya sahabat papa. Dia sudah seperti keluarga bagi keluarga papa.

__ADS_1


Kami berjalan menuju meja makan. Aku sama sekali tidak berselera untuk makan. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka hanya memakan sedikit untuk mengganjal perut saja. Setelah itu semua menghilang untuk beristirahat karena masih merasakan jetlag.


Aku terdiam duduk di kursi yang ada di dapur. Khayalan ku beterbangan kemana - mana saat ini. Tiba-tiba pandangan ku tertuju kepada lelaki itu. Daffin tampak sedang duduk sambil bergelut dengan pacarnya Hanum.


Aku tidak tau bagaimana bisa Hanum datang ke rumah ini padahal dia memang tidak mengundang wanita itu. Eh apakah orang meninggal pakai undangan. Tentu saja tidak. Ah aku saja yang bodoh kali.


"Dasar tidak berperimanusian." gumamku


"Kenapa kak? siapa yang tidak berperikemanusiaan?"tanya Aya yang baru saja ku liat batang hidungnya.


"Kakak kesal sama bang Daffin karena cewek itu?" tanya Aya masih kepo.


"Nggak, kenapa harus kesal dengan dia?" jawabku seadanya.


"Memang aku kesal sama dia, beraninya bawa wanita lain saat orang lain lagi berduka cita." gumamku pelan agar tidak terdengar oleh yang lain.


"Kak Echa nggak istirahat?" tanya Aya membuyarkan lamunanknya.

__ADS_1


"Nggak, aku di sini aja." jawabku melihat ekspresi Aya bingung.


"Kak sebenarnya ai enggak suka bang Daf sama dia."


"Kenapa nggak suka, gitu - gitu wanita idaman kakak mu loh itu." jawabku sambil cengengesan.


"Nggak suka aja, sibuk menempel sama bang Daf "


"Belajar menyukai ya, kasihan dia nggak di restui padahal udah lama pacaran."


"Mending Abang Daf bersama kakak." ucapnya tanpa dosa.


"Eh ini lagi berduka." ucapku mengingatkan Aya. Aku malas mendengar semua keluarga sibuk nak menjodohkan baku dengan dia. Padahal semua mata sudah melihat bahwa hari ini dia sudah punya pacar.


Aku tidak peduli dengan mereka berdua. Aku sibuk memainkan ponselku ditangan. Aku sedang melihat salah satu media sosial yang lagi ngetrend saat ini.


Namun kegelisahan ini tetap ada meski mencoba belajar lapang dada. Aku hanya berharap semoga semua keluargaku sehat - sehat semuanya.

__ADS_1


__ADS_2