Cinta Dafizza

Cinta Dafizza
Part 80


__ADS_3

Setelah keluarga Daffin pulang keduanya sama-sama diam. Daffin hanya diam pura - pura menatap ponselnya. Mezza juga bingung dengan situasi saat ini.


"Kamu mending pulang aja." ucap Daffin mencairkan suasana.


"Kenapa kamu dari tadi senang sekali mengusir aku? apa aku mengganggu di sini?" ucap Mezza juga kesal dengan sikap Daffin.


"Emang Rey ngizinin kamu?" tanya Daffin.


"Emang harus izin dia?"tanya Mezza merasa aneh.


"Kamu itu udah istri dia, masa kamu di sini, aku masih belum kuat untuk bergulat dengan dia." ucap Daffin.


"Kenapa harus bergulat dengan dia? kamu kurang kerjaan?"


"Ah pusing ngomong sama kamu." ucap Daffin membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


"Kamu udah mau tidur?"


"Iya, mau ngapain lagi, aku ini pasien harus banyak istirahat." jawab Daffin jutek.


"Kita belum bercerita loh."


"Cerita apa? power rangers?dah sana naik ke ranjang kamu." ucap Daffin mengusir Mezza dari kursinya.


" Aku masih belum bisa tidur, soalnya tadi tidur dari siang sampai sore."


"Trus kamu mengajak pasien begadang menemani kamu sampai ngantuk? kamu dokter apa nggak sih?"


"Ya dokterlah." jawab mezza mulai kesal.


"Dokter nyuruh pasien istirahat atau begadang? ini baru bangun dari koma loh."


"Tergantung jenis pasiennya, kamu itukan pasien paling ngesalin."


"Masa, perasaan dari tadi para perawat atau dokter malah senang aku di rawat di sini."


"Siapa?"

__ADS_1


"Semua yang ada di sini."


"Mereka aja yang keganjengan."


"Lalu kamu apa bedanya dengan mereka?"


"Apa maksud kamu ngomong seperti itu?" ucap Mezza langsung berlinang air mata. Jika orang lain bicara maka dia tidak akan ambil pusing. Tapi ini yang bicara Daffin membuatnya bersedih.


"Kamu kenapa? jangan nangis." bujuk Daffin ketika melihat mata Mezza memerah.


"Emang aku ganjen di mata kamu?"


"Ya nggak lah, aku cuma bercanda." ucap Daffin merasa bersalah.


"Tapi jika ganjen ke aku nggak masalah." goda Daffin.


"Kamu..." cubit Mezza di tangan Daffin.


"Sakit tau, ini namanya penyiksaan pasien, bisa di laporkan." ucap Daffin meringis kesakitan.


"Laporin siapa?"


Mezza tertawa mendengar ucapan Daffin.


"Tapi sayang orangnya udah menikah." jawab Daffin memonyongkan bibirnya karena kesal.


"Siapa yang udah menikah?" tanya Mezza.


"Bapak kamu, ya kamulah."


"Bapakku memang udah nikah sih, maka terlahir lah aku yang cantik ini."


"Ini Rey memang nggak cariin Kamu?" tanya Daffin Mandang Mezza dengan dalam.


Baginya Mezza hari ini nampak begitu cantik. Namun ia harus bisa menjaga hatinya karena sudah milik orang lain.


"Kamu mau nggak merebut aku dari Rey?"

__ADS_1


"Kenapa bertanya seperti itu? dia menyiksa kamu?" tanya Daffin nampak kuatir dan kembali duduk dengan perlahan.


"Hati - hati." ucap Mezza membantu Daffin.


"Dia ngapain kamu?"


"Nggak ada." ucap Mezza tersenyum dalam hati.


"Lalu kenapa kamu bertanya seperti tadi?"


"Mau nggak?"


"Jika kamu mau,malam inipun aku bisa membawa kamu kabur." ucap Daffin tidak peduli di laporkan oleh Rey.


"Kamu nggak takut sama papaku?"


"Demi kamu aku rela ngapain."


"Izin dulu sana sama papaku jika mau bawa aku, tapi Hanum bagaimana?"


"Kok Hanum? diakan udah punya suami."


"Kamu nggak cinta lagi sama Hanum?"


"Ya nggaklah, kamu itu lebih segalanya dari Hanum."


"Tapi aku insecure sama dia tadi." jawab Mezza jujur.


"Cantikan kamu kemana - mana, kenapa kamu yang insecure."


"Aku serius nih, kamu mau bercerai dengan Rey?" tanya Daffin serius.


"Kenapa harus bercerai jika belum menikah." jawab Mezza sambil tersenyum.


"Maksud kamu?"


"Aku dan Rey nggak jadi nikah karena dia akhirnya menikah Momo."

__ADS_1


"Serius?" tanya Daffin tidak percaya.


Mezza menganggukkan kepala lalu Daffin tersenyum bahagia.


__ADS_2