Cinta Dafizza

Cinta Dafizza
part 88


__ADS_3

"Udah selesai" tanya Abian dengan wajah datar.


Dalam hatinya dia senang melihat hubungan mereka berdua sudah dekat kembali. Bahkan Abian sangat senang saat dia tau bahwa mereka siap rujuk kembali.


Abian sengaja memasang wajah datar karena tau bahwa calon menantunya sedang malu. Wajah calon menantunya memerah karena malu.


"Papa mau ngapain pa?" tanya Daffin.


Papanya yang menjabat sebagai komisaris yang terkenal sangat profesional.


"Tadi papa mau tanya mengenai kelanjutan ¹3eqdqq¹ proyek yang diluar kota, tapi karena ada tamu kamu lanjut aja."


"Eh aku bisa pergi pa." ucap Mezza merasa tidak enak.


"Kamu yakin bisa pergi jika dia nampaknya masih rindu dengan kamu?"tanya Daffin sambil tersenyum lalu berbalik untuk pergi meninggalkan ruangan itu.


Daffin kembali tersenyum senang saat papanya sudah pergi. Dia kembali memeluk wanita yang ada di hadapannya.


"Kunci pintunya."ucap Mezza dengan manja.


"Emang kita mau ngapain?" goda Daffin sambil tersenyum.


"Ya nggak ngapain - ngapain." ucap Mezza sambil cemberut.


"Tadi suruh kunci pintu." ucap Daffin sambil tersenyum menggoda.


Ia paling senang jika Mezza cemberut karena dirinya.


"Udahlah ah, aku mau ke rumah sakit aja." ucapnya semakin kesal.

__ADS_1


"Nanti bentar lagi, cuma becanda kok marah gitu." bujuk Daffin sambil tersenyum.


"Kamu resek."


"Tapi sukakan?" bisik Daffin membuat darah berdesir. Mezza merasa tubuhnya panas dingin saat ini juga.


"Daf ayo sarapan dulu." ucapnya menahan nafas. Jika berdekatan begini terus bisa - bisa ia tidak tahan dengan gejolak yang ada di dirinya.


"Kamu udah sarapan?" tanyanya dengan lembut.


"Belum, di usir mama sebelum sarapan." jawabnya dengan sedikit manyun.


"Kok dilarang?"


"Ya gara- gara kamu lah, biar bisa nemani kamu sarapan." jawabnya dengan kesal.


"Tapi aku sudah sarapan." jawab Daffin dengan tersenyum.


Mata Daffin tertuju ke bibir merah merekah milik Mezza. Baginya kegiatan Mezza sangat menarik perhatiannya.


"Jangan di gigit sayang." ucap Daffin membawa Mezza ke sofa di mejanya.


"Bibir bibir aku, suka - suka akulah." jawab Mezza.


"Tapi itu akan menjadi milik aku sayang bentar lagi, mana rela aku jika milikku di gigit orang lain." jawab Daffin mengusap kepala Mezza dan matanya masih ke bibir sensual Mezza.


"ini aku sendiri pemiliknya bukan orang lain." ucap Mezza memonyongkan bibirnya.


"Ini bibir monyong - monyong mau di gigit ha?" tanya Daffin mendekatkan wajahnya.

__ADS_1


Mezza menahan nafasnya karena wajah mereka terlalu dekat. Daffin mendekatkan lagi. Mezza memejamkan matanya.


Dafiin tersenyum saat Mezza memejamkan matanya. Lalu tidak Lama kemudian dia mencubit bibir Mezza.


"Haduw sakit."pekik Mezza tertahan.


"Mesum." goda Daffin.


"Apaan sih?" ucap Mezza dan kesal.


Wajahnya sudah memerah karena malu.


" bodoh bisa - bisanya aku memejam mata." ucap Mezza dalam hatinya.


"Kenapa kamu pengen kali di cium sama lelaki tampan ini?" tanya Dadidn tersenyum senang.


"Udahlah, jangan suka menggoda aku." ucap Mezza kesal.


"Jangan kesal, nanti aku kasih sepuasnya, sekarang aku akan tahan karena kita belum halal, aku akan jaga nama baik kamu seperti dulu." ucapnya sambil memegang tangan wanita itu.


"Oh ya, aku pengen tanya, ketika kamu pergi meninggalkan aku, kamu kan sedang terhalang kasus, kenapa bisa pergi secepat itu?" tanya Daffin mengulang masa lalu.


"Kasus itu terselesaikan dengan cepat, besoknya tau ternyata buang salah dari pihak produksinya salah kasih label."


"aku lupa waktu itu karena memikirkan kamu setiap hari."


"Sarapan yuk." ajak Mezza dengan manja sambil membuka rantang yang di bawanya tadi.


"Kenapa nggak dari dulu kamu semanja ini sama aku ca?"

__ADS_1


"emang kenapa?"


"Jika dari dulu mungkin aku akan terperangkap terlalu jauh, dulu aku berpikir bahwa aku melindungi kamu karena anaknya teman mama dan papa, tapi ternyata aku sangat tidak bisa membedakan mana cinta mana kasih sayang kepada adik atau teman."


__ADS_2