
Daffin POV
Semenjak om Amar dan keluarga datang, aku melihat dia nampak menangis. Aku paham bahwa kedua orang tuanya tidak sadarkan diri. Aku paham jika om Amar masih terlalu berhati-hati berbicara dengannya agar dia tidak terkejut.
Aku sudah mendengar dari mama bahwa mereka besok menyusul sahabatnya ke Jerman. Mama hanya ditemani oleh papa dan dua sahabatnya yaitu om Dion dan Tante Febi.
Om Alan suami Tante Bella yang merupakan sahabat mama juga tidak memungkinkan untuk berangkat karena Tante Bella masih berkabung.
Saat di makan semua sepupunya berdiri saling memeluk dan menangis. Dia entah mengapa berdiri sendiri sambil mencoba menahan tangisnya. Apakah dia sedang berusaha mencari perhatian ku. Tatap saja aku tidak akan tertarik, Hanum sudah memenuhi hatiku.
Saat air matanya sudah meleleh, entah kenapa kakiku melangkah mendekati dirinya. Dorongan darimana membuat aku memeluknya sambil menenangkan dia.
Hey kenapa otak dan tubuhku ini tidak sinkron. Aku harus menjaga perasaan pacar aku yang juga datang berkabung.
Setelah pulang dari makan aku hanya berdua dengan Hanum. Sedangkan mama ku liat sibuk membantu pelayan menyiapkan makanan untuk keluarga ini. Om Amar dan keluarga sedang mencoba menenangkan dia.
"Ternyata dia cengeng juga." gumamku dari kejauhan.
Saat semua pergi beristirahat tapi tidak dengan dia. Dia hanya duduk melamun seorang diri di dapur. Terkadang dia terlihat membuka ponselnya.
__ADS_1
Tiba-tiba pandangannya tertuju ke arah aku sambil menatap jijik aku. Aku tau kenapa dia memandang aku seperti itu. Aku bisa menebaknya karena keberadaan Hanum di sisiku.
Aku tidak peduli dengan pandangan kesal atau jijiknya itu. Karena dari dulu kami memang tidak pernah akur. Kami selalu bertengkar apalagi jika itu berhubungan dengan perayaan ulang tahun kami yang selalu di adakan berbarengan.
...***************...
Setelah beberapa hari kami mendengar kabar baik dari Jerman sana. Kedua orang tua Mezza sudah melewati masa kritisnya. Menurut cerita mama bahwa Tante Siska ataupun om Galuh dalam tahap pemulihan.
Semenjak itu pula penderitaanku bertambah. Ada yang tau kenapa. Pasti kalian tau dong. Masa gitu aja kalian tidak mengerti. Apalagi jika bukan menyangkut gadis manja yang keras kepala itu.
Kali ini mama pasti membawa - bawa nama Aya agar dia menginap lagi di rumah. Dan ini membuat aku di repotkan oleh dia seperti pagi ini.
"Sabar, ini bentar lagi." jawabnya berlari menuju mobil.
Aku kesal karena sudah menunggu dia tiga puluh menit. Ayu yang biasanya on time juga ikutan seperti dia.
"Kalian kok lama sekali sih? kalian begadang tadi malam?" tanya ku heran melihat mata mereka yang kurang tidur.
"Biasa bang, kami nonton drama Korea tadi malam, serukan ceritanya kak Echa." ucap Aya antusias.
__ADS_1
"Kamu lupa hari ini sekolah, dan kamu Echa sebentar lagi lulus masih aja main - main sekolahnya."
"Santai bro, masih ada waktu dua bulan lagi."
"Aku heran, mau jadi apa sih kamu nanti."
"Aku orangnya santai tapi sukses, liat aja nanti." ucapnya dengan belagu.
"Sukses habisin duit bokap lu." jawabku asal.
"Yang penting bukan duitmu aja." jawabnya yang membuat aku makin kesal.
"Rugi lelaki yang nikah sama kamu nanti, punya otak di dengkul."
"Kakak ini aneh deh, kenapa marahnya sama kak Echa, mau dia jadi apa, mau suaminya rugi, kan nggak ada hubungannya dengan kakak, kecuali kakak yang jadi suaminya." jawab Aya dengan polos di kursi belakang.
"Diam." ucapku dan dia berbarengan.
"Kalian kok kompak banget dan lucu sekali." ujar anak SMP kelas 9 tersebut tersenyum senang sedangkan aku dan dia sama-sama merengut.
__ADS_1