
Sesuai janji Daffin, malam harinya Alfa di datangkan ke rumah utama Arkarna menemui istrinya dan mamanya. Daffin penasaran dengan apa tujuan istrinya memanggil Alfa ke rumahnya.
Jantung Daffin makin deg degan ketika papanya ikut bergabung. Ia masih takut dengan apa yang terjadi saat ini. Melihat wajah Mezza yang masih sendu membuatnya semakin cemas saja.
"Ada apa ca kamu mengumpulkan kita semua?" tanya Dita kepada menantunya.
"Papa boleh nggak nggak ikut gabung dulu ma." ucap Mezza ragu. Ia tau bahwa papa mertuanya ini sangat keras kepada Daffin.
"Begini ca, antara mama dan papa ini tidak ada rahasia, jadi jika mama tau papa juga harus tau." jawab Dita dengan lembut.
"Baiklah, tapi aku ingin bertanya kepada Alfa, bisakah kamu menjawab dengan jujur?" tanya Mezza kepada Alfa.
Alfa agak takut dengan pertanyaan pertama mezza. Ia tau bahwa ia diminta kejujurannya mengenai hal yang di liat tadi pagi jam 10.
"Baik Bu."
"Apakah kamu pernah menelpon Daffin pas honeymoon kemaren dan menyuruh Daffin pulang kerena ada pekerjaan urgent?"
Daffin lansung terkejut mendengar pertanyaan Mezza. Ia tidak tau bahwa istrinya akan curiga seperti ini.
"Tidak mungkin, mana berani asisten menelpon bosnya, itu mustahil." yang menjawab bukan Alfa melainkan papa Bian sang mertuanya.
__ADS_1
Daffin semakin cemas dan gelisah mendengar jawab papanya.
"Apakah ini alasan Daffin makanya kalian pulang lebih cepat dari jadwal seharusnya?" tanya Abian dengan dingin. Ia pernah di posisi Daffin. Maka ia tidak ingin anaknya mengulangi hal yang sama dengannya dulu. Yaitu plin plan.
Mezza hany diam sehingga papanya mengulangi pertanyaannya untuk Daffin.
"Apakah begitu alasan kamu Daffin kepada istri mu?" tanya papa Bian.
"Pa, mungkin Daffin tidak perlu menjawab, maaf mezza lanjut ke pertanyaan berikutnya."
"Baik, lanjutkan nak." ucap Dita mulai merasa ada yang tidak beres dengan hubungan anak menantunya.
"Sudah berapa lama Hanum datang ke kantor mengantarkan sarapan?"
"Semenjak bos pulang dari Swiss buk."
"Dia datang setiap hari kan karena bos kamu tidak pernah menyentuh sarapan yang saya buat, benar begitu?" tanya Mezza.
"Iya buk."jawab Alfa serba salah. Ia bisa saja di marahi oleh bosnya. Tapi posisinya saat ini seperti buah simalakama.
"Dan apakah setiap malam dia lembur bersama kamu?"
__ADS_1
"Nggak buk, bos selalu pulang sore."
"Berati tiap malam dia singgah di rumah gundiknya sampai jam sebelasan malam."
"Mezza." ucap Daffin emosi mendengar Mezza memanggil Hanum gundik.
"Jadi Daffin ini tiap hari pulangnya jam 12, lalu lagi - pagi sekali sudah ke kantor." ucap Mezza menjelaskan lebih detail.
"Daffin datang ke kantor jam 9." ucap papanya yang selalu bertanya kepada sekretaris anaknya.
"Berarti dia singgah di rumah gundiknya pa, soalnya jam 6 dia sudah berangkat." jawab Mezza.
Daffin semakin kesal dengan Mezza. Bisa - bisanya istrinya mempermalukan dirinya di depan keluarganya.
"Dan tadi pagi saya juga memergokinya sedang berduaan di ruangannya, dia memeluk wanita itu, artinya setelah dari rumah wanita itu dia masih nggak puas, sehingga wanita itu bebas masuk ruangannya." ucap Mezza menundukkan kepalanya. Hatinya sangat hancur saat ini. Dia mencoba menahan air matanya supaya tidak jatuh.
"Jadi semua sudah jelas, saya tidak mau mencemari nama baik keluarga Arkarna, sebelum saya di nyatakan sebagai tersangka, lebih baik kami pisah aja, saya mohon kepada papa atau mama agar menyuruh Daffin mengurus surat perceraian kami, saya rasa dia tau dimana kantor pengadilan agama." ucap Mezza sudah tidak bisa membendung air matanya.
Daffin tiba-tiba merasa iba melihat wanita itu menangis di sebelahnya. Ingin sekali dia merangkul wanita itu kedalam pelukannya. Tapi ia yakin bahwa wanita itu enggan untuk di peluknya setelah tau semuanya.
"Pa gimana ini? kok bisa wanita itu keluar masuk perusahaan sebebas itu pa? ini pernikahan mereka belum sebulan masa udah bubar, Eca beri Daffin kesempatan untuk memperbaikinya." ucap Dita mencoba memohon kepada Mezza.
__ADS_1
"Maaf ma, mungkin ini yang terbaik, biarlah Daffin berbahagia bersamanya tanpa harus ada penghalang." ucap Mezza kekeh.
Daffin hanya terdiam mendengar ucapan wanita yang di sebelahnya. Dia tau bahwa saat ini wanita itu terlanjur sakit hati kepadanya. Dia tidak tau apakah harus berbahagia atau bersedi.