
"Me ada Diffin di bawah." ucap mamanya di balik pintu.
"Ya biarin aja ma, paling main sama Zahyan atau Zahran." jawab Mezza.
"Dia ke sini hanya untuk bertemu kamu."
"Ngapain ma toh tadi udah ketemu di sekolah."
"Mana mama tau." jawab mamanya mengangkat kedua bahunya.
"Bilang aja meme tidur ma." jawab Mezza dengan malas.
"Nggak boleh bohong gitu me, mama nggak tau permasalahan kalian, tapi selesaikan baik - baik, bagaimanapun keluarga kita akrab."
"Ya ma."
Mezza berjalan ke bawa dengan lunglai. Sudah beberapa bulan ia mencoba menjauh dari Daffin. Tapi pada akhirnya sore ini bisa - bisanya lelaki dingin itu berniat ingin menemuinya.
"Ada perlu apa?" tanya Mezza dengan ketus sambil duduk tidak jauh dari Daffin. 54
"Aku hanya ingin mastiin, kamu kuliah dimana?"
"Haduw kenapa aku ngomong kayak gitu." ucap Daffin dalam hatinya.
"Bukan urusan kamu."
"Aku hanya ingin mastiin jika kamu tidak ikut kemana aku pergi." ucap Daffin dengan gagap.
__ADS_1
Daffin bingung mau bicara apa dengan Mezza. Tiba-tiba dia merasa gugup sehingga lain yang yang keluar dari mulutnya dengan yang ada di hatinya.
"Tenang bro, kali ini aku pastikan kita tidak akan satu negara."
"Emang kamu mau kemana?"
"Nggak usah kepo, urus aja dirimu sendiri."
"Kamu ini kenapa sih sama aku?" tanya Daffin masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Mezza.
"Aku kenapa? aku nggak kenapa - napa." jawab mezza acuh tak acuh.
"Kamu menjauhi aku semenjak kejadian itu."
"Hei ingat bung bahwa kita memang saling tidak menyukai dari kecil, jadi jangan sok dekat."
"Sok dekat?" tanya Daffin dengan nada tidak suka.
"Kamu mengusir aku?" tanya Daffin tidak percaya dengan ucapan Mezza.
"Aku tidak mengisi kamu, tidak mungkin aku bisa mengusir keturunan Arkarna dari rumahku, aku hanya capek ingin istirahat." ucap Mezza berjalan meninggalkan Daffin.
"Mungkin lebih baik di masa depan kita pura - pura tidak kenal aja, meladeni kamu termasuk hal yang membuat capek." ucap Mezza lagi ketika dia sudah berjalan beberapa langkah.
Mezza melanjutkan langkahnya menuju kamarnya. Sedangkan Daffin hanya diam berdiri di tempat dengan hati yang merasa aneh. Ia merasa tidak rela jika Mezza mengacuhkannya seperti ini.
Ketika Daffin berjalan menuju pintu rumah, tiba-tiba langkahnya terhenti.
__ADS_1
"Mau pulang Daf?" tanya Siska dari ruang tengah.
"Iya tan, maaf tante tadi nggak nampak, kirain di kamar." jawab Daffin dengan sungkan.
"Tidak apa-apa, boleh duduk sebentar?" ajak Siska mama Mezza.
"Boleh Tan." jawab Daffin kembali duduk di kursi ruang tamu.
"Tante mau tanya, apa kalian bertengkar?"
Daffin kaget dengan pertanyaan yang keluar dari mulut mama Mezza yang juga sahabat mamanya.
"Nggak juga sih Tan, cuma nggak tau kenapa Eca menjauh aja." jawab Daffin dengan ragu.
"Ohw mungkin karena kalian saling tidak enakan ya, maaf ini semua salah Tante dan mama kamu yang mau jodohkan kalian sejak kecil." ucap Siska.
"Nggak apa-apa Tante, Daffin juga minta maaf Tan karena cinta juga nggak bisa di paksa, Eca sudah kayak adik bagi Daffin sama seperti Aya."
"Yah Tante paham, pasti akan aneh rasanya jika suka sama orang yang kalian sudah anggap seperti keluarga, semoga kalian bertemu jodoh yang baik."
"Terima kasih Tante."
"Kamu jadi melanjutkan kuliah ke Cambridge university?" tanya Siska.
"Insya Allah Tan, Eca menyambung kemana Tan?"
"Eca kabarnya mencoba di......"
__ADS_1
"Ma..... tadi Zahran cari mama." potong Mezza dari tangga.
"Oh iya, maaf Tante ada keperluan sedikit." ucap Siska yang sadar hampir keceplosan kepada Daffin.