
Semenjak peristiwa kejadian siang itu, Mezza selalu di bully di sekolah. Ia hanya diam tanpa membalas sedikitpun. Baginya ia hanya ingin cepat - cepat menyelesaikan pendidikannya.
Berlalunya waktu yang di lewatinya selama hampir dua bulan membuat ia membenci Daffin saat ini. Baginya Daffin hanyalah lelaki paling egois dan mengesalkan.
Mezza juga jarang kerumah Daffin jika tidak ada kumpul keluarga. Dia juga menjaga jarak dengan mamanya Daffin yaitu Dita.
Awalnya Dita uring - uringan kepada Daffin karena jarangnya Mezza ke rumahnya. Akan tetapi dengan alasan yang di berikan Mezza membuat Dita mau menerima alasan tersebut.
Kedua orang tua Mezza yaitu Galuh dan Siska sudah kembali ke Indonesia beberapa bulan yang lalu. Awalnya mereka juga curiga ketika Mezza mencoba menghindar jika ada perkumpulan keluarga.
Mereka juga tidak memaksa Mezza agar berjodoh dengan Daffin. Ia melihat banyak ketidakcocokan di antara keduanya.mereka hanya mengikuti kata hati Mezza.
Jika dulunya Siska antusias dengan perjodohan ini. Tapi tidak dengan saat ini. Dengan arogant dan dinginnya sikap Daffin membuat ia agak cemas jika anaknya tidak bahagia.
Kadangkala Dita masih meyakinkannya bahwa Daffin akan hangat kepada keluarganya sama seperti papanya Abian. Tatapi melihat cara Daffin dan Mezza saling tidak suka akhirnya mereka pasrah.
__ADS_1
Mezza sedang duduk sendirian di perpustakaan. Mezza sedang mempersiapkan ujian sekolah. Ia lebih banyak berdiam di perpustakaan dari pada di manapun. Terkadang dua sahabatnya sampai bosan dengan aktivitasnya.
Mezza hanya fokus untuk belajar mempersiapkan diri agar bisa masuk perguruan tinggi. Mezza sudah memutuskan untuk kemana ia pergi. Yang jelas baginya adalah di sana tidak ada Daffin.
"Wow ada gadis pembohong di sini belajar." ejek Mita.
Semua siswa yang di sana tertawa mendengar ejekan tersebut. Suasana perpus jadi gaduh saat itu juga. Mendengar suara gaduh penjaga perpus menegur semuanya. Mezza hanya berdiri berlalu tanpa suara. Baginya melawan mereka tidak ada gunanya. Hanya membuang tenaga.
Saat Mezza berjalan keluar dari perpustakaan, sepasang mata memandangnya dengan iba. Akan tetapi pandangan itu hanya sebentar.
"Kenapa memandang dia seperti itu?" tanya Hanum dengan tidak suka.
"Bohong, kamu kasihan sama dia kan? apa mulai suka?"
"Kamu apaan sih, jika suka dari dulu lagi karena keluarga dia dan aku berteman baik." jawab Daffin.
__ADS_1
"Ciee yang sudah akrab keluarganya." ejek Hanum.
"Udahlah fokus ke hubungan kita sendiri, nggak usah pikirkan orang lain." ucap Daffin menasehati Hanum kekasihnya.
Daffin fokus kembali ke pekerjaan yang ia buat dengan laptopnya.
...****************...
Ujian sekolah tingkat sekolah menengah atas telah berakhir. Mereka hanya menunggu kelulusan dan acara perpisahan. Mezza masih sibuk belajar mempersiapkan pendidikan selanjutnya.
Hatinya saat ini terlanjur kecewa. Ia lebih banyak belajar daripada bermain dengan kawan karibnya. Baginya ia harus menyongsong masa depannya dengan baik.
Saat di rumah ia juga nampak agak pendiam karena sibuk dengan buku-bukunya. Keluarganya terkadang merasa aneh dengan sikap anak gadis mereka.
Siska sampai menanyakan kepada Daffin apa yang terjadi dengan Mezza. Namun ia tidak puas dengan jawaban Daffin.
__ADS_1
Ketika dia bicara dengan Galuh, maka suami hanya menjawab jangan terlalu kuatir. Karena semua proses menuju sukses. Sampai bosan Siska mendengar nasihat suaminya.
Siska juga melarang Mezza menjadi dokter. Karena dia tau bagaimana kerasnya kuliah kedokteran. Akan tetapi papanya sangat mendukung kedokteran sesuai dengan cita-cita keluarganya.