
Liburan semester telah datang. Daffin sudah tidak sabar untuk pulang ke negara asalnya. Selain kangen sama keluarga, dia juga kangen dengan Mezza. Entah kenapa, selama kuliah setahun ini pikirannya tersangkut dengan Mezza.
Ketika di pintu kedatangan dia di sambut oleh keluarganya. Dita memeluk anak bujangnya. Sebenarnya papanya kurang setuju jika Daffin harus pulang secepat ini. Secara finansial mereka mampu aja. Toh mereka juga punya jet pribadi.
Daffin berjanji bahwa tahun ini pulangnya cepat. Di tahun berikutnya dia hanya akan pulang ketika satu tahun. Dengan begitu papanya baru mengizinkannya.
Baru satu jam di rumah Daffin sudah mulai gelisah. Dia sudah tidak betah dirumah. Dia berpamitan kepada mamanya untuk keluar.
"Mau kemana Daf? baru aja sampai loh, apa nggak jetlag."
"Bentar ma, mau ketempat Zahran dan Zayyan dulu."
"Mau ketemu kembar apa kakak si kembar?" tanya Dita menggoda anaknya.
"Apaan sih ma, ketemu si kembar lah."
"Percuma, kakak si kembar nggak pulang, paling dia pulangnya tahun depan dari Bern, toh baru kemaren Tante Siska dan keluarga pulang dari sana."
"Bern?" tanya Daffin tidak percaya.
"Iya, kenapa emangnya?"
"Jadi Eca nggak di Jerman ma?" tanya Daffin duduk di kursi yang dekat dari tempat ia berdiri.
__ADS_1
"Kok Jerman? dapat info darimana?"
"Nggak sih cuma nebak aja, udahlah jika begitu mungkin kembar juga capek, jadi lebih baik Daf juga istirahat ma." ujar Daffin berjalan menuju kamarnya dengan lunglai.
"Mulai sukakan? nggak mau ngaku sih." gumam mamanya.
"Kenapa dia bohong berada di Jerman?" gumam Daffin.
"Tapi apa alasannya kuliah di sana?" tanyanya bicara sendiri sampai dikamar.
Ia mulai membaringkan tubuhnya di atas ranjang miliknya. Ia kecewa dengan Mezza. Ia pikir bahwa wanita itu benaran akan pulang menemuinya. Dia pikir wanita itu memang Sedang di Jerman seperti tebakannya. Namun wanita itu ternyata hanya untuk mengerjai dirinya.
"Baiklah jika ini yang kamu mau, artinya kamu lebih senang jika aku diam seperti dulu." jawab Daffin kesal.
...****************...
"Kak, kata mama tadi Abang cariin kakak." lapor Aya lagi kepada Mezza.
"Lalu?" tanya Mezza dengan antusias.
"Dia agak kecewa ketika tau kakak nggak pulang."
"Hahahaha dia pasti kesal sama kakak."
__ADS_1
"Bagaimana dia bakalan nyusul kakak ke situ?"
"Paling dia nyusulnya ke Jerman." jawab Mezza sambil tersenyum duduk di kursi yang ada di kamar apartemen miliknya.
"Kok kakak yakin seperti itu?"
"Karena dia taunya kakak di Jerman, ingat jangan ada yang kasih tau soal itu." pesan Mezza kepada Aya.
"Tenang kak, aku siap bersekutu dengan kakak jika menyangkut dia marah." ujar Aya tertawa puas.
"Nanti ketika dia udah jadi CEO Arkarna, maka dia buat hidup kamu miskin yang mengemis uang darinya."
"Aduh ngeri juga ya, tapi nggak mungkin kak, aku ini adik kesayangannya."
"Tapi kamu sudah menyengsarakan abangmu dengan lancang."
"Ini semua gara - gara kakak." ucap Aya pura- pura merayu.
" Ya udah berpandai - pandai aja sama dia, Sayang Aya selalu."
"Sayang akak selalu."
Mereka telah siap menelpon. Mezza kembali membuka bukunya untuk belajar. Liburan semester bulan ini dia akan belajar dengan giat agar kuliahnya cepat selesai.
__ADS_1
Dia sadar otaknya tidaklah sepintar Daffin. Maka untuk itu dia harus belajar dengan giat. Dia yakin akan mencapai apa yang ia impikan tanpa embel-embel dari Daffin.