Cinta Dafizza

Cinta Dafizza
Part 34


__ADS_3

Mezza berdandan dengan cantik malam ini. Mendengar Mezza akan keluar dengan Daffin mamanya heboh sendiri. Dari magrib mamanya sudah sibuk menyediakan baju-baju yang akan dipakai oleh Mezza.


Berita ini juga sampai ketelinga Dita. Siska dan Dita begitu antusias mendengarkan hal baik begini.


Mezza turun ke lantai dasar menggunakan gaun merah. Warna merah membuat kulit mezza semakin putih dan cantik. Auranya begitu mempesona sehingga Daffin tidak berkedip memandangnya.


"Cantik kan Daf?" tanya Siska tersenyum melihat pandangan Daffin yang tidak berkutik.


Daffin tidak menjawab ucapan Siska sehingga di cubit oleh Mezza.


"Mama ngomong loh."


"Eh iya Tante, ngomong apa Tan?" tanya Daffin.


"Nggak apa-apa, ya udah silahkan pergi nanti keburu malam." ujar Siska antusias melihat mereka.


"Mama usir kami?" tanya Mezza.


"Bukan, takut kemalaman." jawab Siska.


"Ya udah Tan kami pamit dulu."


"Semoga membawa hasil yang positif makan malam kalian." ujar Siska.


Daffin berjalan menggandeng tangan Mezza. Ini bukan pertama kali i menggandeng tangan wanita ini. Dulu sering tapi belum dewasa seperti ini. Jantung Daffin bergerak lebih cepat seperti mau meledak.


Begitu juga dengan Mezza. Sentuhan tangan Daffin membuatnya canggung dan malu. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus.


Daffin membukakan pintu mobil. Mezza tersenyum ketika Daffin memperlakukan seperti ini. Saat Daffin masuk kedalam mobil, ia lansung mendekatkan wajahnya ke arah Bella sambil tersenyum.


Wajah mereka yang dekat membuat Mezza makin tidak karuan.


"Ka...ka..mu nga..pain?" tanya Mezza gugup.

__ADS_1


"Aku mau pasangin ini." ucap Daffin memasangkan seatbelt dengan cepat.


"Kamu maunya aku lakuin hal lain?" bisik Daffin di telinga Mezza.


"Mana ada." ucap Mezza tertahan.


Jantungnya rasanya ingin keluar malam ini. Jika lelaki ini tidak cepat menjauh maka bisa jadi lelaki itu akan mendengar suara jantungnya.


"Benaran nggak mau? padahal seru loh." goda Daffin.


"Awas minggir sana, jangan mencuri ciuman pertama aku."


"Ciuman pertama? berati kamu belum pernah begituan sama Rey?" tanya Daffin tersenyum senang.


"Ya nggaklah, aku akan kasih ciuman pertama aku untuk suami aku nanti."


"Wah senangnya suami kamu nanti."


"Tentu, emangnya kamu, nanti istri kamu cuma dapatnya sisa, bekas orang lain."


"Berati kamu sering berciuman sama Hanum?"


"Nggak usah bahas itu, bahas tentang kita aja." ujar Daffin yang tidak senang membahas orang lain ketika berdua dengan Mezza.


"Kamu percaya cinta pertama?" tanya Mezza.


"Entahlah, aku lebih memilih cinta sejati."


"Aku punya cinta pertama, jika kamu?"


"Aku?" tanya Daffin menunjuk dirinya sendiri.


"Pasti Hanum cinta pertama kamu kan?" tanya Mezza agak kecewa tapi Nia sembunyikan dengan baik.

__ADS_1


"Mungkin dia pacar pertama bukan cinta pertama."


"Kenapa?"


"Bisa jadi yang di sebelah ku ini cinta pertamaku kan?" tanya Daffin menggoda.


"Bercanda terus." jawab Mezza dengan kesal lalumemandang ke sisi lain.


"Jangan ngambek gitu lah, ini malam kencan loh."


"Masa bodoh." jawab Mezza tidak peduli.


"Ya udah janji nggak bercanda lagi." ucap Daffin merayu Mezza.


"Nggak mempan."


"Ya udah kamu mau apa nanti aku Kabulin."


"Benaran?" tanya Mezza antusias.


"Iya, mau apa?"


"Lamar aku malam ini juga." ucap Mezza menoleh ke arah Daffin.


"Kamu serius?" tanya Daffin mencari keseriusan dalam wajah Mezza.


"Ya bercandalah, hahahaha." terdengar tawa Mezza memenuhi dalam mobil.


"Coba aja serius, aku tinggal kamu di jalan." ucap Daffin tersenyum menatap Mezza.


"Dah fokus ke jalan sana, aku tau aku lebih menarik daripada jalan di depan." ucap Mezza masih tersenyum.


"Udah pandai merayu ya." ucap Daffin menowel hidung milik Mezza.

__ADS_1


"Cantik." ujar Daffin dalam hati sambil tersenyum.


__ADS_2