
"Sakit bang." ucap Aya kesakitan ketika telinganya di jewer Daffin.
"Ada apa ini daf?" tanya mamanya ketika melihat kedua anaknya heboh di kamar Aya.
"Ma tolong, Abang jahat nih."
"Daffin." tegur mamanya.
"Dia udah jadi pengkhianat ma."
"Apaan sih, orang cuma nggak kasih tau di mana kak Eca masa dia marah ma." jawab Aya bela diri.
"Ma selama ini dia sekongkol dengan Aya ngerjain daf, biar seolah-olah daf kangen gitu sama Eca kan."
"Mana ada, Abang sendiri yang awalnya cari dia."
"Tapi kenapa kamu sembunyikan dia, pura - pura nggak tau dia dimana." jawab Daffin kesal dengan adiknya.
"Mama juga tau, katanya nggak suka jadi buat apa kasih info kak Eca ke Abang."
"Mama juga tau ma?"
"Ya taulah, toh kamu nggak ada tanya mama, jadi benaran kamu mulai suka sama Eca?" tanya Dita antusias.
"Mana ada, Aya lebai ma, kangen sebagai teman aja."
"Ohw gitu."
"Ma kayaknya daf mau jalan-jalan ke Swiss deh, mumpung ada Eca di sana biar ada kawan."
"Terserah kamu aja, izin sama papa dulu."
__ADS_1
"Cie cie yang ngejar cintanya."
"Bising ah." jawab Daffin keluar dari kamar adiknya sambil tersenyum senang.
Daffin lansung menyusun rencana agar bisa liburan menghabiskan liburan musim panas. Ia ingin memberi kejutan kepada Mezza sahabatnya dari kecil. Mungkin dari bayi kali ya sudah kenal.
Ketika malam harinya saat bertemu dengan papanya, Daffin izin jalan - jalan ke Swiss bersama dengan Aya. Daffin gengsi di depan papanya jika harus pergi kesana sendiri. Akan tetapi papanya tidak mengizinkan Aya ikut dengan banyak pertimbangan.
"Ayolah pa, Abang aja di kasih izin masa Aya nggak."
"Nanti siapa yang jaga kamu, papa nggak bisa kesana."
"Kan ada abang pa, Aya mau kesana yah, disana ada kak Eca jugapun."
"Kamu yakin ajak adikmu Daf?" tanya Papanya.
" ayolah pa." bujuk Aya.
"Ah papa nggak adil, Ayakan juga pengen kesana." ujar Aya sambil mengambek.
Abian memang tidak pernah melepas Aya bepergian sendiri. Beda dengan Daffin karena 8a anak lelaki ia tidak masalah. yang penting masih dalam pengawasan anak buahnya.
"Pa izinkan Aya ikut bersama Daffin, nanti Daffin pastikan Aya selamat sampai rumah."
"Apa kamu nggak capek harus bolak-balik?" tanya papanya.
"Atau kita pergi juga pa." usul Dita agar liburan kali ini bermakna bagi anak-anaknya.
"Tapi papa masih banyak pekerjaan ma." jawab Abian.
"Pekerjaan nggak akan habisnya pa, lagian ada Deni yang bisa mengatasi ini semua pa, ayo kapan lagi kita punya waktu sama anak - anak." goda Dita.
__ADS_1
Abian nampak berpikir sejenak. Lalu ia melihat schedule dia. Setelah menghubungi Deni, akhirnya dia bisa mengambil keputusan.
"Baiklah, mari kita kesana." ajak Abian membuat keluarga kecilnya senang.
"Hore." ujar Aya dengan gembira sambil memeluk papanya dan mencium papanya berkali-kali.
"Yang lain di ajak pa?" tanya Dita memastikan.
"Nggak usah dulu, ini kan agak mendadak, lusa kita berangkat."
"Papa emang yang terbaik." ucap Aya belum melepas pelukannya.
"Papa tidak akan membiarkan anak gadis papa sendirian di sana."
"Ada Daffin pun pa."
"Kamu ini masih labil, bisa - bisa kamu sibuk ngurus asmara kamu yang tidak jelas, belajar yang giat agar bisa jadi pemimpin."
"Ah papa, dulu papa juga pernah muda, macam nggak pernah pacaran aja." ujar Dita.
"Papa pacaran ketika udah sukses, kamu cari uang aja belum bisa." ujar papanya.
"Biar ajalah pa, toh kita masih mampu."
"Nggak bisa gitu ma, jika papa nggak ada,siapa yang melanjutkan Arkarna Group."
"Ngomong apa sih pa, Daffin janji akan membanggakan papa, Daffin nggak akan sia - siakan masa muda Daffin."
"Ya papa percaya, sekarang aja papa udah mulai bangga dengan kamu."
Dita tersenyum ketika melihat interaksi antar suami dan anak-anaknya. Semua membahagiakan baginya.
__ADS_1