
Dafizza berlari kesana dan kesini di sebuah restoran. Dia hanya tau ya bermain dengan teman-teman sebayanya. Mezza hanya melihat dari jauh. Walau bagaimanapun dia takut jika Mezza bertemu dengan Daffin.
Mezza takut jika Daffin mengetahui bahwa anak itu adalah anaknya. Mezza tidak ingin Daffin mengambil Dafizza darinya.
Mezza mendapatkan telpon dari tempat kerjanya. Mezza bekerja di rumah sakit di kota P. Dia menghidupi anaknya dengan bekerja kembali. Dia sering melihat Daffin mondar - mandir masuk majalah bisnis.
Mezza tersenyum mengejek dirinya saat itu. Di saat ia meninggalkan Daffin, lelaki itu bukannya sengsara tapi dia malah semakin sukses. Dibuang oleh Arkarna Group. Dia malah menjadi pengusaha muda yang omsetnya ratusan milyar di umur muda.
Perusahaan yang di bangunnya berkembang lebih cepat. Saat itu Mezza mencemooh dirinya yang tidak berkembang lebih hebat. Dia hanya dokter yang sama sejak dulu kala tanpa kuliah lagi.
"Saya mungkin akan urus surat secepatnya, karena keluarga saya ingin saya di pusat." jawab Mezza yang memang bekerja diam - diam di salah satu rumah sakit kakeknya.
Mezza sibuk dengan telponnya sampai lupa memperhatikan Dafizza.
Dafizza berlari mengejar seseorang. Dia berlari mengejar seseorang yang mirip dengan lelaki yang ada di ponsel mamanya.
"Dady."teriaknya.
Lelaki yang merasa di panggil menoleh ke arah Dafizza. Dia sedang berjalan bersama dengan Hanum.
"Anakmu Fin?" tanya Hanum.
"Bukan, tapi sepertinya saya pernah melihatnya tapi lupa dimana." jawab daffin mengingat kembali.
"Dady, aku anakmu." ucapnya lagi.
__ADS_1
"Kamu siapa?" tanya Daffin jongkok di hadapan Dafizza.
"Aku Dafizza Dady, anakmu?." ucapnya dengan ngotot karena lelaki yang mirip dengan dadynya memasang wajah bingung.
"Siapa ibumu?" tanya Daffin masih bingung.
"Me..."
"Di, ayo kesini." panggil maminya.
"Itu momyku." tunjuk Dafizza.
Jantung Daffin seakan berhenti ketika anak kecil itu menunjuk Mezza. Daffin barulah menyadari bahwa wajah anak itu sangatlah mirip dengan Mezza. Wajar jika merasa familiar dengan anak ini.
"Bisakah kita bicara 4 mata?" tanya Daffin.
"Ternyata nggak pernah berubah dari dulu, masih saja berhubungan dengan dia." ucap Mezza dalam hati.
"Num kamu bisa tinggalkan kamu berdua?" tanya Daffin kepada Hanum.
"Baik, aku juga mau nyusul Fino ketoilet, lama sekali." jawab Hanum melenggang meninggalkan mereka.
"Dafizza bisa main di sana?" tanya Daffin menunjuk area permainan anak-anak di dalam restoran itu.
"Baik Dady." jawabnya berlari meninggalkan Daffin dan maminya. Daffin merasa senang saat anak itu memanggilnya Dady.
__ADS_1
"Apakah dia anakku?" tanya Daffin lansung to the point.
"Bukan dia anakku."
"Anak kita?"
"Bukan."
"Berapa umurnya?"
"Nggak penting, yang penting dia adalah anakku."
"Apakah dia anak Rey?" tanya Daffin dengan agak takut jik kenyataan menyatakan bahwa anak itu anak Mezza dan Rey.
"Rey adalah papanya."
"Kamu menikah dengan dia padahal kamu masih istri aku." ucap Daffin mulai nampak menahan emosinya.
"Kita secara agama sudah cerai, cepat kamu urus secara hukum, jika tidak aku yang akan menggugatmu." ucap Mezza dengan ketus.
"Segitu bencinya kamu sama aku?" tanya Daffin melihat sorot kebencian di mata Dafizza.
"Lalu apakah aku harus merindui kamu?" tanya Mezza sambil tertawa mengejek.
"Ca marilah kembali."
__ADS_1
"Ogah kembali dengan kamu, di hatiku sudah di isi oleh orang lain." jawab Mezza kesal meninggalkannya sendiri.