
Mezza dan Daffin sedang sarapan bersama. Daffin padahal sudah sarapan, tapi karena ini yang membawakan adalah Mezza maka ia tidak ingin wanita itu sedih.
Daffin memakan nasi goreng buatan mama Mezza dengan lahap. Dia juga menyuapkan Mezza. Mezza tidak bisa menolak karena semua sudah di ambil alih oleh Daffin.
Saat sedang makan tiba-tiba ponsel MezzA berbunyi. Yang menelponnya adalah asisten dia Indra sebagai penata anestesi.
"Ya ndra ada apa?"
"CITO dok."
"Apakah tidak ada dokter anestesi yang lain?"
"Dokter Ana juga sedang operasi dok, ini pasien gawat darurat dok."
"Oke saya akan kesana, tolong kamu cek fungsi vitalnya ya." ucap Mezza mematikan teleponnya.
"Kenapa?" tanya Daffin serius.
"Aku harus pergi, ada pasien gawat darurat." 7cap Mezza berkemas.
"Tapi sarapannya belum habis yank." ucap Daffin dengan manja.
"Ini menyangkut nyawa orang lain Daf, aku pergi dulu ya."
"Biar aku antar." ucap Daffin merasa tidak nyaman jika Mezza harus ngebut.
"Tapi apa kamu nggak sibuk?" tanya Mezza.
"Hari ini aku agak santai, jangan banyak protes."
"Nanti aku pulangnya gimana?" tanya Mezza.
"Aku yang akan jemput kamu, bisa nggak nurut tanpa protes." ucap Daffin sudah memakai jasnya.
Mereka berjalan meninggalkan ruangan Daffin. Ketika di lift Daffin masih sempat menggoda Mezza. Daffin mengacak rambut Mezza yang terurai sebahu.
__ADS_1
"Bisa nggak jangan ngacak rambut Daf?" Mezza dengan kesal.
"Sama dokter siapa operasinya?"
"Nggak tau juga, lupa tanya tadi kenapa pasiennya."
"Jika sama Rey jaga jarak."
"Gimana jaga jarak orang satu ruangan."
"Apa perlu ku buat bangkrut aja itu rumah sakit ya?"
"Coba aja, jika nggak mau terhalang restu pak Galuh Tiandra Kusuma." jawab Mezza sambil tersenyum.
"Jangan dekat - dekat dengan Rey."
"Mau dekat apa salahnya sih."
"Aku cemburu."
"Tapi dia partner dan teman aku loh Daf."
"Ngaco, dia udah punya istri."
"Di sukanya kamu bukan Momo."
"Aku sukanya kamu." jawab Mezza tersenyum.
"Kamu ini hmmmmm." ucap Daffin mengurung Mezza di sudut liff hendak mendekatkan wajahnya ke wajah Mezza.
Pintu lift terbuka. Semua karyawan yang melewati liff melihat sambil senyum-senyum. Mezza keluar lift dengan cepat meninggalkan Daffin. Tapi Daffin kembali mensejajarkan diri dengan Mezza. Dia menggandeng tangan Mezza kembali.
"Nanti sore jika siap kabari ya." ucap Daffin ketika mereka sudah masuk di dalam mobil.
"Iya Daffin sayang, ayo bergerak aku harus sampai dengan cepat."
__ADS_1
"Tadi ngomong apa?" tanya Daffin ingin Mezza mengulang ucapannya kembali.
"Daffin ayo berangkat nanti terlambat."
"Nggak mau, ulangi lagi." ucap Daffin belum juga menjalankan mobilnya.
"Cepatlah sayang, aku ini operasi bukan pergi main -main." ucap Mezza.
Daffin tersenyum ketika sudah mendengar apa yang dia inginkan. mobil berjalan dengan kencang. Mezza hanya diam menahan ketakutannya. Dia agak takut namun dia ingin cepat sampai di rumah sakit.
Mobil berhenti di rumah sakit dalam waktu lima belas menit. Saat Mezza turun Daffin kembali mengingatkannya.
"Ingat jangan terlalu dekat dengan Rey."
"Iya bawel." ucap Mezza turun dari mobil.
Ketika Mezza sudah masuk ke rumah sakit, Daffin menjalankan mobilnya kembali sambil tersenyum.
Drdrdrdrrrrrrrrrrrr
Hanum Calling.
Daffin mengangkat telepon Hanum.
"Halo num."
"Bisa kita bertemu di tempat biasa?"
"Ada apa num? apa ini mengenai pekerjaan?"
"Ada sesuatu yang aku ingin sampaikan, tapi nggak bisa di telpon."
...****************...
Hallo reader apa kabar? semoga sehat selalu di manapun berada.
__ADS_1
Kira - kira Hanum membicarakan apa ya????????
Jadi nggak ya Daffin menikah dengan Mezza?