
"Kamu sih, kan jadinya malu." ucap Mezza ketika dalam mobil.
"Kok aku sih? kan sama-sama mau." ucap Daffin sambil tersenyum memeluk Mezza.
"Apa kata uncle Amar nanti." ucap Mezza menyandar di bahu Daffin.
"Ah uncle pun pernah muda, santai aja nggak. udah di pikirkan." ucap Daffin membuka ponselnya .
"Kamu ngapain?" tanya Mezza mendongakkan kepalanya.
"Aku periksa laporan sebentar."
"Jika sibuk ngapain ajak aku pergi segala." ucap Mezza dengan bibir monyong.
"Nyandar sini aja, aku cuma sebentar." ucap Daffin menyandarkan Mezza ke bahunya.
Mezza memejamkan matanya sambil menghirup aroma wangi tubuh Daffin. Baginya aroma ini sangat menenangkan pikirannya. Dia betah jika harus berlama-lama seperti ini.
"Fa nanti aku cuti dua Minggu, kamu ambil alih pekerjaan." ucap Daffin kepada Alfa yang sedang menyetir.
"Baik bos."
"Kamu harus cepat menemukan pendamping agar tidak shock melihat kami berduaan."
"Emang kita ngapain sampai buat dia shock segala."
"Dia kelamaan jomblo takutnya jantungnya nggak kuat melihat kita bermesraan ca."
__ADS_1
"Ah katanya mesrah, tapi tetap aja panggilan bukan sayang." ejek Alfa.
"Sekali lagi kamu ngomong saya potong gaji kamu 60 persen." ucap Daffin sinis.
"Sensitif kali bos." ucap Alfa tersenyum merayu.
"Iya sensitif sekali, biarin aja Alfa sendirian yang, syukur - syukur dia bisa membantu kita." ujar Mezza.
"Siap selalu nona, bahkan berciuman di belakang pun aku tidak akan melihatnya." ujar Alfa membuat Mezza batuk - batuk.
"Kamu nggak apa-apa Ca? jangan di dengarin ucapan dia, kadang dia suka ngigau." ucap Daffin.
"Setelah di salon, kamu balik ke perusahaan dulu, nanti sekita 2 jam balik lagi kesini jemput kami." perintah Daffin.
"Baik bos." ucap
Daffin dan Mezza masuk kedalam salon.
Seminggu berlalu.
Pesta pernikahan mereka sedang berlangsung. Tadi pagi ijab kabul sudah di laksanakan di mesjid kediaman orang tua Mezza.
Daffin dan Mezza sudah sepakat akan tinggal di apartemen milik Daffin yang baru saja di beli dengan alasan dekat dengan rumah sakit.
Hari ini pesta berlangsung dengan meriah. Kedua belah pihak merupakan orang penting dan kaya di kota ini. Sehingga tamunya membludak.
Tamu - tamu yang datang adalah orang-orang dari kalangan penting. Wajah kedua orang tua mereka nampak gembira sekali.
__ADS_1
Rey nampak hadir di pesta pernikahan. Daffin tampak cemburu ketika Rey mengobrol dengan Mezza. Apalagi ketika ingin pamitan. Rey meminta berfoto dengan Mezza. Daffin sengaja berdiri di tengah di antara Mezza dan Rey.
"Begini lebih aman bro, maklum takut wartawan pada beritain yang aneh-aneh." ucap Daffin tersenyum menggenggam tangan Mezza dengan erat.
"Biasa aja kali, Mezza nggak akan lari kok, sampai harus di genggam kayak gitu." ejek Rey.
"Harus, takutnya bukan lari tapi di bawa lari sama orang lain, wajar sih kepemilikan di jaga dengan baik." balas Daffin.
"Udah ah, bisa nggak nggak usah adu mulut."
"Nggak." ucap Daffin dan Rey bersamaan.
"Udah Rey, terimakasih sudah datang, sepertinya tamu lain mau pamit juga." ucap Mezza tidak enak melihat antrian panjang.
"Aku pamit dulu ya, ingat jika nggak bahagia kamu bisa lari kepelukan aku." ucap Rey sengaja memancing kemarahan Daffin.
"Hey jangan berharap, dia bakalan jauh lebih bahagia hidup bersamaku." ucap Daffin dengan kesal mendengar ucapan Rey.
"Udahlah."
"Bisa - bisanya dia berkata seperti itu di samping aku." ucap Daffin dengan kesal.
"Dia sengaja memanas manasi kamu, kamu aja yang terpancing." ucap Mezza tersenyum.
"Kamu apa nggak capek?" tanya Daffin kepada Mezza.
"Belum, Kenapa?"
__ADS_1
"hampir seharian kita berdiri, mungkin kita harus istirahat duluan." ajak Daffin.
"Nggak usah, tunggu sampai selesai aja." ujar Mezza yang agak grogi jika harus berduaan dalam kamar dengan Daffin.