Cinta Dafizza

Cinta Dafizza
Part 72


__ADS_3

"Jadi gimana me, kamu yakin menikah dengan Rey?" tanya Papanya berbicara dengannya berdua.


"Iya pa."


"Kamu siap dengan apapun konsekuensinya?" tanya Galuh lagi.


"Siap pa."


"Jika Rey cemburu itu wajar karena dia nanti suami kamu, kamu memang harus pandai menempatkan diri sebagai istri dia." nasehat Galuh.


"Kamu dan Daffin nggak usah terlalu instens lagi, dan kamu benar mencintai Rey." tanya Galuh ingin memastikan hati anaknya.


"Saya akan belajar pa untuk mencintainya."


"Memang kamu belum mencintainya?" tanya Galuh kaget.


"Entahlah pa, cuma dia baik pa, dia terlalu banyak berkorban untuk meme." jawab Mezza.


"Me cinta nggak bisa di hitung balas budi."


"Iya pa,Mezza rasa ini keputusan yang pas."


"Lalu bagaimana perasaan kamu kepada Daffin?" tanya Galuh lagi.


"Perasaan itu sudah hilang dan berganti menjadi benci pa."


"Kamu serius?" tanya Galuh.


"Serius pa." jawab Mezza.


"Baiklah jika itu maumu maka papa hanya merestui."


"Pa minta maaflah sama papa Bian, biar papa dan mama akur."


"Kenapa kamu ingin papa yang meminta maaf?" tanya Galuh.


"Papa kemarin agak berlebihan, semua. ikan salah Daffin."


"Apa ini tanda cinta? saling melindungi?" selidik Galuh.


"Bukan pa, sungguh, kemaren itu mang aku yang mengajak Daffin mengunjungi Fizza agabisa meninggalkan Zahyan dengan Beby."

__ADS_1


"Emang kenapa dengan Zahyan dengan Beby?" selidik Galuh lagi.


"Kayaknya Beby menyukai Zahyan pa."


"Jadi kalian mak comblangnya?" tanya Galuh tersenyum.


"Apa mak comblang pa?" tanya Mezza.


"Yang mempertemukan atau menyatukannya dua manusia menjadi pasangan." jawab Galuh bingung menjelaskan.


"Ohw itu namanya konektor pa."


"Mak comblang."


"Konektor."


"Konektor itu yang di pakai untuk masker." jawab Galuh tidak mau kalah.


"Apa guna konektor pa?" tanya Mezza.


"Menghubungkan tali masker."


"Aneh - aneh saja bahasa kalian." ucap Galuh berdiri dari duduknya.


"Jangan lupa pa, berbaikan dengan mama." ucap Mezza memperingatkan papanya.


"Jika nggak lupa."


"Ingat wanita tidak pernah salah." ucap Mezza mengingatkan papanya.


Mezza tersenyum melihat punggung papanya memasuki Kamarnya bersama dengan istrinya.


"Semoga aja mereka akur malam ini?" gumam Mezza.


Di dalam kamar Galuh melihat Siska senang sibuk dengan ponselnya. Dia mengabaikan suaminya yang masuk saat itu. Siska juga tidak menegur Galuh sejak kejadian kemaren.


"Sis maaf ya."


"Buat apa, kamu kan benar." ucap Siska tidak peduli.


"Aku minta maaf atas semua yang terjadi semalam, aku janji akan meminta maaf dengan Abian besok." ujar Galuh membujuk istrinya.

__ADS_1


"Benaran?" tanya Siska semangat.


"Iya." angguk Galuh.


"Baiklah." ucap Siska lansung gembira lalu lansung memencet nomor telepon seseorang.


"Kamu mau ngapain?" tanya tanya Galuh kepada Istrinya.


"Ini lagi nelpon Dita."


"Ngapain?" tanya Galuh


"Mau kabarin bahwa harga cabe mulai mahal." ucap Siska bercanda.


"Serius?" tanya Galuh.


"Serius semua bahan pokok naik di pasar." ucap Siska serius.


"Halo, Assalamualaikum dit."


"Iya sis, kenapa?"


"Abian mana, ini bang Galuh mau minta maaf." ucap Siska membuat mata Galuh melotot melihatnya.


"Ada ini." Jawab Dita menyerahkan ponselnya kepada Abian.


"Ini bang." ucap Siska juga memberikan ponselnya kepada Galuh.


"Halo, assalamualaikum." ucap Abian.


"Waalaikumsalam, apa kabar bi?" tanya Galuh.


"Sehat."


"Yang tidak sehat hatinya sebenarnya." ucap Dita di samping Abian tersenyum.


"Aku pribadi meminta maaf karena ikutan emosi tidak jelas." jawab Galuh.


"Sama - sama, Semoga keluarga kalian selalu sehat dalam dalam lindungan Allah SWT."


"Aamiin." ucap semua yang mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2