Cinta Dafizza

Cinta Dafizza
Part 61


__ADS_3

Sejak tadi malam Dafizza demam. Sejak dua hari yang lalu dia ngmbek karena ingin bertemu dengan Daddynya.


Mezza sudah mencoba menghubungi Daffin. Tapi Daffin tidak bisa di hubungi. Bahkan Mezza juga menghubungi papa Bian dan Mama Dita. Akan tetapi papa dan mama Daffin juga tidak tau keberadaan Daffin.


Menurut keterangan orang tua Daffin, anaknya tidak pulang semenjak perceraian itu. Abian memang sengaja tidak mencari Daffin karena tau bahwa Daffin butuh waktu untuk menenangkan diri.


Tapi mendengar cucunya sakit, Abian lansung memerintahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan anaknya dan berjanji akan mengabari Mezza.


"Gimana kak Eca? udah ketemu Daddynya?" tanya Zahyan.


"Belum, nggak tau dimana dia."


"Kenapa kakak kemaren sangat egois sih? nggak memikirkan perkembangan anak sebelum berpisah." ucap Zahyan yang memang berada di luar negeri.


"Kamu tidak tau apa-apa, jadi jangan banyak bacot." ucap Mezza kesal dengan adiknya satu ini.


"Kakak juga egois, hanya memikirkan perasaan kakak tanpa berpikir perkembangan anak kedepannya, tidak ada bapak tiri yang sebaik bapak kandung Kak."


"Bisa diam nggak?" ucap Zahran sedang memeriksa Dafizza.


"Bisa nggak kalian bicara cari tempat lain, di sini ada Fizza." ucap Zahran kesal dengan kakak dan adiknya.


Mezza pergi keluar karena kesal dengan kedua adiknya.


"Gara - gara kamu sih." ucap Zahran kesal dengan saudara kembarnya.

__ADS_1


"Aku hanya kasihan dengan Fi." ucap Zahyan.


"Mereka masih bisa berbahagia lewat cara mereka, doakan saja yang terbaik." ucap Zahran.


"Kamu udah siap membantu perusahaan kakek?"tanya Zahran kepada adiknya.


Selama ini perusahaan keluarga mamanya si urus oleh kakeknya. Namun karena mamanya anak satu-satunya membuat kakeknya masih bekerja sampai tua.


Setelah siap menimba ilmu akhirnya dia siap untuk memimpin perusahaan keluarga dari mamanya.


Mezza terduduk di kursi luar tidak jauh dari kamar anaknya.


Tingningnungning Tingningnungning ( iramakan sendiri bunyi ponsel Mezza).


"Ca papa udah tau tempat Daffin, dia ada di cottage keluarga yang di daerah z, papa telpon nggak aktif dan kabarnya semua pelayan di liburkan oleh Daffin, papa akan jemput dia kesana."


"Pa biar Eca aja yang pergi kesana, terima kasih ya pa." Entah kenapa Mezza ingin menemui lelaki itu sebelum anaknya bertemu dengan Daddynya.


Mezza lansung berpamitan dengan Zahran. Awalnya Zahyan mau mengantarkannya, namun egonya mengatakan tidak. Ia masih kesal dengan adik bungsunya itu.


Mezza mengendarai mobilnya menuju salah satu cottage milik keluarga Arkarna. Dia membawa mobil dengan kecepatan tinggi agar sore sampai ke resort itu. Jarak cottage yang agak jauh membuatnya menempuh perjalanan selama 2 jam.


Mezza sampai ke sana sudah hampir magrib. Dia berjalan masuk menuju Cottage yang nampak agak gelap karena belum ada satupun lampu yang hidup.


Mezza mendorong pintunya yang tidak di kunci. Dalam ruangannya nampak remang. Mezza berjalan mencari keberadaan Daffin. Dia terkejut melihat Daffin sedang menangis di kelilingi oleh makanan cemilan Ciki dan mie cup.

__ADS_1


Makanan itu hanya terbuka tapi masih banyak sisa di dalam bungkusnya. Begitu juga dengan mie cup yang udah di rebus tapi masih utuh.


"Jadi begini cara kamu mau mati cepat? biar Fizza cepat jadi anak yatim." ucap Mezza sengaja memancing Daffin agar dia bangkit.


Daffin terkejut mendengar suara Mezza, tapi beberapa detik kemudian dia menundukkan kepalanya lagi.


"Saat begini aja kamu masih hadir dalam hidup aku ca." gumamnya.


"Hallo, aku ini nyata bukan halusinasi, anak kamu sakit di sana, apa kamu mau fi tidak bangun karena demam tinggi." ucap Mezza membuat Daffin lansung mendongakkan kepalanya.


"Fi sakit?" tanyanya kaget.


"Iya, sudah dua hari dia mencari kamu, tapi kamu malah enak - enakan di sini, lagi pesta ya." ucap Mezza lagi.


Daffin lansung berdiri dari duduknya. Dia lansung menyambar kunci mobilnya.


"Mau kemana kamu?"


"Mau pulanglah, jumpai fi."


"Kamu kira fi senang kamu jumpai dalam mata bengkak kayak gitu, tunggu beberapa jam, dan satu lagi kamu harus makan dulu, nanti fi makin sakit melihat kamu yang loyo kayak gini." ucap Mezza lalu mengemasi semua makanan yang berserakan di ruang santai.


Daffin hanya diam melihat Mezza melakukan semua itu.


"Kompres dulu mata kamu pake es batu." ucap Mezza mengingatkan Daffin yang dari tadi bengong.

__ADS_1


__ADS_2