Cinta Dafizza

Cinta Dafizza
Part 106


__ADS_3

ketika makan malam Daffin dan Mezza saling diam. Tidak ada yang mau menegur sejak tadi sore. Dafizza merasa ada yang aneh dengan kedua orangtuanya.


Dafizza hanya memandang kedua orang tuanya yang makan dalam diam. Dafizza merasa ia juga di cuekin efek adanya perang dingin ini.


Suasana di meja makan tampak sangat mencekam. Hanya dentingan sendok di piring yang terdengar.


"Daddy sama mami berantem ya?" tanya Dafizza membuka pembicaraan.


"Jika sedang makan jangan bicara." ucap Mezza menegur anaknya.


"Biasa kita juga saling tanya kegiatan pas makan malam." ucapnya sambil merengut.


"Diam Fizza." tegur Daddynya.


Mendengar Daddynya yang bersuara membuat Dafizza terdiam. Dafizza merasa ingin menangis saat Daddynya agak membentaknya.


Dafizza berdiri dari kursinya. Dia malas untuk makan.


"Habiskan makanan kamu, jangan di biasain mubasir." tegur maminya.


Dafizza kembali duduk di mejanya. Ia tidak bisa memakan nasinya dan malah menangis.


"Haaaaaaaaaaaaaa." tangis Dafizza.


"Bisa diam nggak fi?" bentak maminya.


Dafizza menangis semakin kencang. Dia berlari menuju kamarnya.


Daffin yang melihat itu menjadi kasihan. Dia merasa berlebihan terhadap anaknya. Daffin berjalan menuju kamar Dafizza.


Daffin melihat Dafizza menangis di atas ranjang miliknya. Dia menyembunyikan wajahnya di balik bantal. Daffin merasa tersenyum melihat anaknya seperti orang dewasa.

__ADS_1


"Fi sedih ya?" tanya Daffin.


Bukannya menjawab malah menangis semakin kencang.


"Boleh kita bicara?" tanya Daffin.


"Nggak mau, semua nggak sayang fi." ucapnya di sela tangis.


"Siapa bilang, Daddy sedih loh jika di bilang Daddy nggak sayang fi." ucap Daffin.


"Mami nggak sayang fi, mami marah."


"Mami marah tanda sayang sama fi."


"Bohong bohongan aja Daddy, mami nggak sayang fi."


"Sayang coba di tanya mami."


"Nggak mau." teriaknya.


"Dafizza, sudah nangisnya, nggak malu apa? udah besar masih nangis." tiba-tiba Mezza masuk kamar Dafizza.


"Biarin, Mami jahat."


"Dafizza." tegur maminya.


Daffin memberi kode kepada Mezza agar jangan terbawa emosi.


"Mami sangat sayang sama fi, begitu juga Daddy." ucap Daffin.


"Tapi mami dan Daddy nggak saling sayang, mami sama Daddy pasti berantem lagi, fi nggak mau ikut sama mami atau Daddy." ucapnya.

__ADS_1


"Kok fi ngomong kayak gitu, mami sama Daddy nggak berantem."


"Teman fi mama dan papanya berantem terus, trus tinggalnya terpisah, fi nggak mau dad kita kayak dulu lagi." ucapan Dafizza membuat Daffin dan Mezza terdiam.


Anaknya yang masih kecil sudah merasakan sakit hati. Anaknya yang masih kecil sudah pernah merasakan hidup tanpa orang tua lengkap.


"Mami dan Daddy nggak marahan sayang, Daddy kamu tadi hanya malas ngomong, mulut Daddy sariawan karena kurang minum air putih." jawab Mezza.


"Daddy masih malas minum air putih?" tanya Dafizza berhenti menangis.


Daffin hanya mengangguk demi buah hatinya tenang.


"Makanya minum air putih Daddy, kata mami biar kita selalu sehat." ucapnya berdiri berdecak pinggang.


"Iya sayang." jawab Daffin memeluk putrinya.


"Tapi Daddy sayang sama mami kan?"


"Sayang dong." jawab Daffin.


"Mami sayang sama Daddy?"


"Jelas, jika nggak sayang nggak mungkin nama kamu Dafizza." jawab Maminya.


"Emang apa Dafizza?" tanya anak dan Daddynya kompak.


"Kepo ni ye???" ucap Mezza sambil tersenyum.


"Serang mami." ucap Daffin mengajak anaknya menggelitik maminya.


Mezza tertawa kegelian saat Daffin dan Dafizza menggelitiknya.

__ADS_1


Kira - kira apa kenapa ya Mezza memberi nama anaknya Dafizza? yuk bantu jawab di komentarnya.


jangan lupa : like, vote , komen, follow akun author dan follow author di Instagram ya ( erna.gusnita)


__ADS_2