Cinta Dafizza

Cinta Dafizza
Part 92


__ADS_3

Daffin telah sampai di kafe tempat biasa ia makan siang dengan Hanum sebelumnya. Dia bingung kenapa Hanum menelponnya. Tapi dia tidak enak untuk tidak datang.


"Ada apa num?" tanya Daffin telah sampai.


"Pesan makanan dulu."


"Nggak usah, ngomong aja."


"Kamu mau kembali dengan Mezza lagi?"


"Iya kenapa?"


"Aku merasa tidak bahagia dengan Fino Fin, Fino nggak seperti kamu." Hanum menyampaikan apa yang ada di hatinya.


"Ya jelas nggak sama Num, secara kita orang yang berbeda."


"Aku kangen saat bersama kamu seperti ini." ucap Hanum entah kenapa hatinya mulai galau kembali ketika mendengar mantannya mU menikah.


"Hanum kita itu udah mantan, nggak mungkin akan bersama kembali." Daffin mencoba mengingatkan.


"Kenapa nggak bisa?


"Hati aku sudah di Mezza, kamu jangan membanding - bandingkan segala sesuatu."


"Fino nggak peduli ama aku, dia nggak seperti kamu dalam melindungi aku fin."


"Fino sangat menyayangi kamu num, kamu aja yang merasa tidak, aku bisa liat sendiri bahwa kalian saling menyayangi, stop jangan ingat masa lalu, lihat masa depan num." Daffin mengingatkan mantan sekaligus sahabatnya itu.


"Apa yang kamu lihat sehingga kamu bisa bilang Fino sangat mencintai aku, dia nggak pernah bucin kayak kamu ke aku dulu."


"Setiap orang berbeda-beda dalam mengungkapkan cintanya kepada pasangannya, coba kamu ingat lagi bagaimana Fino menyanyangi kamu, ingat kebaikannya bukan kejelekannya num." nasehat Daffin lagi.


Hanun mengingat semua kenangan yang ada di antara dia dan Daffin. Lalu dia mengingat apa yang terjadi dengan dirinya dan Fino. Dia dan Fino hampir tidak pernah bertengkar. Tidak seperti Daffin yang selalu cemburu kepadanya. Fino selalu membebaskannya dalam melakukan apapun. Terkadang dia sering bertanya apakah seperti itu cinta.


"Gimana?" tanya Daffin.


"Aku masih nggak yakin dia mencintai aku, dia nggak pernah cemburu." ucap Hanum agak sedih.


"Oke, markilih ( mari kita lihat)." ucap Daffin.


Daffin sengaja membuat histori. Stori ini sengaja di buat untuk Fino. Dia sengaja memprivat semua yang ada di kontaknya. Karena bisa hancur hubungannya jika mezza tau tentang ini.


"Okey kita tunggu 30 menit apa yang terjadi, jika Fino hanya diam, Fix dia tidak mencintai kamu." ucap Daffin.


Daffin akhirnya memanggil pelayan. Menunggu 39 menit lumayan lama sehingga lebih baik memanfaatkan waktu untuk makan pikirnya.


Ternyata tidak sampai 30 menit Fino datang. Saat Daffin sedang makan dia lansung datang dan emosi. Dia lansung memukul Daffin tanpa bertanya.


Akan tetapi Daffin menahan tinju Fino sehingga tertahan di angin.


"Gimana num, apa ini kurang cemburu?" tanya Daffin kepada Hanum.

__ADS_1


"Duduk dulu bro, biar aku jelaskan."


"Jelasin apalagi, dah jelas kamu berduaan dengan istri aku." ucap Fino emosi.


"Iya berduaan, tapi apakah dalam kamar hotel? emang kamu ngapain di sini di DEPAN UMUM begini?" tanya Daffin.


"Jika nggak ketahuan lewat histori, mungkin aku nggak tau...."


"Histori itu sengaja buat kamu seorang, liat ini." ucap Daffin melihatkan ponselnya kepada Fino.


"Ada apa ini num?" tanya Fino belum mengerti.


"Biar aku yang jelaskan tapi kita hanya berdua." ucap Daffin.


"Di sini aja." ucap Hanum tidak terima.


"Ini obrolan para lelaki, kamu akan malu jika ada di sini." ucap Daffin ingin menoyor kepala hanum yang membuatnya hampir celaka hari ini


"Emang apaan Fin?" tanya Fino.


"Oke di sini, istri kamu ini merasa kamu ini tidak mencintai dia, tunjukkan bahwa kamu sangat mencintai dia, dia sangat mencintai kamu, tapi dia merasa kamu tidak karena tidak merasa cemburu, hubungan kalian datar, cepat bawa istri mu itu bulan madu kedua." ucap Daffin dengan cepat.


"Daffinnnnnnn." ucap Hanum dengan geram.


"Apakah begitu num?" tanya Fino.


"Kamu nggak percaya aku sebagai sahabat dan partner bisnis kamu?"


"Hey, aku tidak ada rasa dengan istri orang, Mezzaku telah menguasai hatiku."


"Sebelum kamu menikah aku nggak percaya."


"Hey kami akan menikah secepatnya, untuk itu bahagiakan istri kamu, nanti dia cari aku pula untuk curhat bisa cemburu Mezzaku."


"Kamu..." ucapan Hanum terputus.


"Apa? mau marah? malu? buang aja sama suami kamu itu." ucap Daffin tersenyum.


"Menyesal aku cerita sama kamu."


"Ngapain cerita sama mantan."jawab Fino.


"Aku nggak ngerasa dia mantan aku, dia istri sahabat aku." jawab Daffin dengan cepat.


"Aku juga nggak akan anggap kamu mantan aku, mantan kurang ajar." jawab Hanum dengan kesal namun ia senang karena melihat respon Fino.


"Aku tau kamu senang num karena aku berhasil memancing emosi Fino."


"Senang kepala otakmu." jawab Hanum tidak mengakui.


"Ah ngaku aja sulit." jawab Daffin.

__ADS_1


"Terima kasih ya Fin, tapi bisa nggak pakai cara yang nggak ektrim kaya tadi, bisa jantungan aku pas bawa mobil." ucap Fino menyedot minuman Daffin.


"Hey ada minuman bini Lo ngapain nyedot minuman gua." ucap Daffin kesal.


"Punya dia kurang menarik, Kitakan sahabat, masa pelit begitu." jawab Fino.


Fino memang kurang menyukai minuman Hanum makanya dia menyedot minuman Daffin.


"Kita cari tempat lain yok." ajak Hanum kepada suaminya.


"Eh bayar dulu." ucap Daffin.


"Jika ada bos Daffin kenapa kita harus bayar." jawab Fino.


"Suami istri sama saja, kalian itu setipe makanya adem ayem tanpa ribut, besok Tarok handuk sembarangan biar istri kamu tu ribut, dia cari ribut sama kamu." ucap Daffin memancing keduanya.


"Nggak ngefek, mana bisa Fino kayak gitu, dia malah lebih rapi dari aku." jawab Hanum sambil mencibir.


"Udah yang, cuekin aja dia." ajak Fino meninggalkan Daffin.


"Pasangan aneh, tadi aja bilang nggak cinta, sekarang lihat kompak ngebully aku." jawab Daffin kesal tapi ia tersenyum puas melihat keduanya.


Dafiin hanya berharap bahwa hubungan sahabatnya langgeng. Dan dia juga berharap bahwa mereka tetap bersahabat. Apalagi setelah membangun bisnis bersama.


drdrdrdrrrrrrrrrrrr


Mezza calling.


"Halo sayang, udah kangen?" tanyanya sambil tersenyum.


"Jemput aku makan siang bareng."


"Makan siang bareng?" tanya Daffin hampir keseleg.


"Ia, kamu nggak mau makan bareng aku?"


"Mau banget sayang."


"Atau kamu udah makan siang?"


"Belum kok, belum, sebentar ya, aku jalan menuju ke sana."


"Aku tunggu, hati - hati."


Daffin membayar sebelum pergi. Dia segera berangkat menjemput Mezza. Ia tidak ingin wanita itu cemberut menunggunya.


Meskipun dia sudah makan, demi wanita itu dia akan tetap makan siang kembali. Dia tidak mau membuat wanita itu kecewa jika dia tidak makan bersamanya.


"Aku gila demi kamu." gumam Daffin sambil tersenyum.


Dia sudah makan 3 kali hati ini dari pagi. Dan ini menuju ke empat kali. Daffin bisa membayangkan jika ini terjadi setiap hari maka sudah dipastikan dia akan membuncit.

__ADS_1


__ADS_2