Cinta Dafizza

Cinta Dafizza
Part 41


__ADS_3

Daffin sudah duduk menunggu Mezza yang sedang bersiap-siap. Mezza masih berada di dalam kamar mandi. Daffin nampak sibuk memeriksa pekerjaan lewat ponselnya.


Sudah dua malam mereka menginap di hotel tanpa ada kemana - mana. Hal ini membuat Mezza kesal karena hanya berkutat di kamar hotel.


Mezza keluar dengan baju lengkap. Tadi pagi - pagi asisten Daffin mengantarkan koper baru dan mengambil koper yang ada di hotel.


"Kita lansung ke bandara?" tanya Mezza menghias wajahnya dengan bedak yang tipis. Kulit nya yang putih tidak memerlukan bedak yang tebal.


"Iya, mama dan papa udah tau kita mau honeymoon." jawab Daffin sambil memasukkan ponselnya kedalam sakunya.


"Kita di sana jalan - jalankan?"


"Ngapain jalan - jalan di sana? kan kamu udah lama tinggal di sana."


"Tapi aku pengen mengulang masa kecil kita di sana, bukan di Bern tapi di desa Murren."


"Iya kita kesana juga, emang ada yang kamu kenang di sana?" tanya Daffin penasaran.


"Aku mau mengenang cinta pertama aku."


"Jangan harap, bahkan aku tidak akan membiarkan kamu mengenang lelaki manapun selain aku." ucap Daffin kesal mendengar Mezza menyebut lelaki lain di depannya.

__ADS_1


"Kamu tau kan jika aku punya cinta pertama, kenapa sekarang kamu protes."


"Aku ini suami kamu, masa kamu ingin mengenang lelaki lain di waktu honeymoon kita." ucap Daffin makin kesal.


"Mau pergi apa nggak nih?" tanya Mezza ikut kesal.


"Aku sih tidak masalah, dalam kamar sebulan aja nggak masalah, asal bersama kamu." ucap Daffin tersenyum.


"Terserah, jika nggak jadi berangkat ke sana jangan coba-coba sentuh aku." ucap Mezza lansung menghamburkan tubuhnya ke atas ranjang.


"Kamu mengancam aku?" tanya Daffin tidak suka di ancam.


"Aku tidak pernah mengancam siapapun namun aku punya hak atas tubuh aku." jawab Mezza.


"Lalu jika kamu punya hak dengan tubuh aku, kamu mau ngapain? mau memperkosa aku? begitu?" ucap Mezza dengan nada agak meninggi.


"Hey aku tidak sehina itu, merendahkan perempuan seperti itu." ucap Daffin mulai melunak karena tidak ingin bertengkar setelah dua hari menikah.


"Bagus jika tau diri."


"Udah ah, jangan mengambek gitu, iya aku janji kita jalan - jalan di sana." bujuk Daffin yang mengalah.

__ADS_1


"Malas."


"Ayolah ca, jika nggak mau aku gendong ya." ucap Daffin memberikan ancaman.


"Coba aja jika berani." ucap Mezza sambil memeletkan lidahnya.


"Oke."


Daffin berjalan mendekati Mezza. Setelah dekat dia lansung menggendong Mezza.


"Jangan harap kamu bisa turun." ucap Daffin.


Sebelum keluar Daffin menelpon Alfa yang sudah di bawa menjemputnya. Ia menyuruh Alfa agar membawa Kopernya ke bawah. Daffin membawa Mezza keluar dari kamar dengan cara gendongan ala brist


Ketika di dalam lift dia berpapasan dengan beberapa orang. Mezza mencoba meminta agar Daffin menurunkannya.


"Sakit ya mbaknya mas?" tanya ibu - ibu dalam lift.


"Bukan Bu, biasalah Bu nggak bisa jalan setelah malam pertama." ucap Daffin membuat Mezza mencubit perutnya. Daffin meringis kesakitan akan tetapi gendongannya tidak turun juga.


Mezza menutup wajahnya dengan telapak tangannya karena malu. Ia mencoba memberontak akan tetapi tenaga Daffin sangat kuat.

__ADS_1


Ibu - ibu yang di lift tersenyum melihat pasangan muda itu. Dia merasa ingin kembali muda lagi setelah melihat keduanya.


__ADS_2