Cinta Dafizza

Cinta Dafizza
Part 103


__ADS_3

Momo membuka matanya secara perlahan. Badannya terasa sakit semua saat ini. Dia melihat bahwa hanya selimut yang menutupi keduanya. Dia tersenyum saat mengingat apa yang terjadi tadi malam.


Momo memandang Rey masih tertidur. Saat ini Rey memeluknya dengan erat. Momo memandang wajah gagah Rey yang emang dia idolakan semenjak bangku SMA.


"Ganteng." gumamnya.


CUP


Momo mengecup pipi Rey sebelum ia bangun. Momo tau setelah bisa bangun maka laki - laki ini akan sangat mengesalkan.


"Ternyata ketika tidur lebih tenang nggak bawel." ucapnya lagi.


Ketika Rey menggeliat Momo lansung memejamkan matanya. Ia tidak ingin ketauan bahwa pagi - pagi sedang mengagumi suaminya.


"Udah puas ngangumi kegantengan aku?" tanya Rey berbisik di telinga Momo.


"Nggak usah pura - pura tidur setelah mencuri ciuman dari suamimu ini." ucapnya membuat Momo semakin malu.


"Udah sana ah, mau mandi." ucap Momo berniat melepaskan diri dari Rey. Dia tidak ingin Rey melihat wajahnya yang memerah karena malu.


"Mana bisa pergi setelah membangunkan dia." ucapnya serak.


"Pagi itu emang bangun."


"Repot jika di bangun mo." ucap Rey memeluk Momo lebih erat.


"Ngap ah."protes Momo.


"Sekarang bilang ngap, tadi malam suka." ucap Rey.


Cup


"Morning kiss." ucapnya tersenyum.

__ADS_1


Debaran di dada Momo Semakin kencang melihat senyum lelaki yang memeluknya. Ia merasa tenggelam di dalam senyuman lelaki itu.


"Pagi ini kamu ada kuliah?" tanya Rey.


"Siang ada bimbingan sama pembimbing kedua, aku rasa aku nggak sanggup melewati semua ini, dah lah aku pasrah, jika kamu tinggalin aku." ucap Momo agak bersedih.


Rey melihat Momo sedang putus asa saat ini. Ia mengeratkan pelukannya sambil mengelus kepala wanita itu.


"Usaha dong, jangan menyerah."


"Aku nggak bisa."


"Bisa, kamu pasti bisa."


"Udahlah, aku menyerah, mau tinggalin aku juga nggak apa-apa."


"Setelah kejadian tadi malam mana bisa seperti itu." ucap Rey.


"Aku ini bukan lelaki bejat yang udah ambil kesucian seorang gadis lalu pergi." ucap Rey.


"Jadi kamu terpaksa karena itu?" tanya Momo agak sedih. Rey tidak mau meninggalkannya bukan karena cinta tapi karena tanggung jawab saja.


"Hey jadi harus seperti apa?" tanya Rey panik.


"Aku mau kamu cintakan aku." jawab Momo.


"Iya, aku akan belajar mencintai kamu, kita akan mulai semua dari awal." jawab Rey.


"Sampai sekarang kamu masih tak cinta aku?" tanya Momo lagi.


"Aku nggak tau apa yang aku rasakan saat ini, tapi aku marah saat kamu jalan dengan lelaki lain seperti kemaren, aku cemas saat melihat ada yang membahayakan kamu." ucap Rey.


"Jadi kemaren kamu cemburu?" tanya Momo tersenyum menggoda.

__ADS_1


"Tau ah." ucap Rey.


"Kamu cemburu kan?." tanya Momo sambil tertawa puas.


"Nggak." jawab Rey.


"Cemburu kamu cemburu."


"Nggak."


"Ya udah nanti siang aku mau di antar Riko bimbingan." ucap Momo mencoba memanasi Rey.


"Jangan coba-coba, jika nggak mau aku patahkan tangannya." ucap Rey emosi.


"Nah cemburu kan hahaha, akhirnya kamu cemburu juga."


"Panggil abang dong."


"Panggil sayang dulu."


"Ya udah, sebelum mandi nambah lagi yang sayang." ucap Rey lansung menggoda Momo.


Tubuh Momo menjadi panas saat tangan Rey menyentuh kulitnya dengan lembut. Dia menahan nafas karena tau apa yang akan terjadi. Saat Rey mendekatkan wajahnya, Momo tau Rey akan mencium bibirnya.


Momo memejamkan matanya. Ia pasrah karena ini memang hak suaminya. Namun bukannya kelembutan yang ia rasakan. Tetapi mulutnya seperti di pelintir.


"Otaknya mesum pagi - pagi." ucap Rey memang sedang memelintir bibirnya dengan tangan tapi tidak terlalu kuat. Saat Momo kesal dia malah tertawa terbahak-bahak.


"Mau nambah lagi?" Tanya Rey sambil tertawa.


"Udahlah ah, sana aku mau mandi." ucap Momo mencoba melepaskan pelukannya Rey.


Momo berlari menuju kamar mandi sedangkan Rey masih tertawa terbahak-bahak karena senang melihat wajah kesal Momo.

__ADS_1


__ADS_2