Cinta Dafizza

Cinta Dafizza
Part 77


__ADS_3

Mezza terbangun di tengah malam. Ia mengucek matanya berharap apa yang terjadi adalah mimpi. Tapi ketika ia menemukan Daffin kaki terdiam tidak jauh darinya membuat ia sadar bahwa itu semua nyata.


Mezza beranjak mendekati Dafiin. Ia meraih tangan Daffin lalu membawanya ke pipinya. Air matanya meleleh lagi. Entah kenapa hati ya begitu sakit saat mengetahui Daffin belum kunjung bangun.


"Daf bangun."


Sudah dua hari Mezza menemani Daffin di rumah sakit. Tidak sedetikpun ia tampak meninggalkan kamar VVIP khusus yang di sediakan untuk keluarga Kusuma sendiri. Di tambah dengan ranjang khusus agar Mezza bisa beristirahat di sana.


"Kamu nggak kangen sama aku? kamu nggak ingin kita berantem lagi." ucapnya dengan Isak memenuhi ruangan.


"Daf aku nggak kuat jika harus membesarkan Fizza sendiri." Mezza menarik nafas sedalam-dalamnya."apa yang aku jawab jika Fizza mencarimu, kamu nggak pengen ya nanti menikahkan Fizza gitu." ucapnya sambil menghapus air matanya.


Mezza tidak mau tau dengan cerita insiden yang menimpa Daffin. Dua hari yang lalu di urus oleh Alfa dengan cepat. Yang ia pikirkan adalah bagaimana agar Daffin bangun dari tidurnya.


"Daf, aku marah jika kamu nggak bangun, kamu jahat tau nggak jika tinggalin aku lagi." tangisnya pecah lagi.


"Ayolah Daf, aku bahkan belum bilang cinta sama kamu, bangunlah Daf."


Mezza tidak tahan dengan suasana seperti ini. Dia menunduk dan membenturkan keningnya tepat di sebelah tubuh Daffin.

__ADS_1


Hanya suara tangis Mezza yang terdengar memenuhi ruangan rumah sakit. Dia tidak tau bahwa bisa sehancur ini ketika Daffin hanya terbaring diam.


...****************...


"Ca pulanglah dulu, kamu butuh istirahat." ucap Dita baru saja kembali kerumah sakit.


"Nggak ma, aku nggak mau pulang jika Daffin belum bangun." jawab Mezza dengan malas. Ia berjanji akan pulang setelah Daffin bangun.


"Tapi bagaimana dengan Fizza mez? dia juga butuh kasih sayang dari maminya." ucap Dita ingin menyadarkan Mezza karena berlarut dalam kesedihannya.


"Ma aku takut jika Dafiin pergi saat aku tidak di sini." ucap Mezza sangat takut sekali.


"Pemikiran apa itu Mezza, kamu itu seorang dokter, tadi dokter bilang kan perkembangan Daffin bagus, kita hanya menunggu dia sadar." ucap Dita ingin menyadarkan Mezza.


"Kamu semangat, kita sama - sama berdoa untuk kesembuhan Daffin ya." ucap Dita memeluk anak sahabatnya.


"Ma Daffin akan bangun kan ma."


"Iya sayang, hari ini kamu pulang ya, nanti biar Aya yang jaga."

__ADS_1


"Memang Aya udah pulang ma?" tanya Mezza karena adik iparnya itu sedang meniti di luar negeri.


"Sudah, dia ambil cuti."


"Kenapa dia nggak kerja di perusahaan Arkarna aja ma?"


"Dia ingin sukses tanpa bayang - bayang Arkarna grup." ucap Dita.


"Hebat Aya ma, padahal dulu hanya gadis manja."


"Apaan, kamu pikir papanya mau melepaskan dia begitu aja, dia itu masih di kawasi oleh pengawal dari jauh, trus dia itu di sana juga di bantu papanya diam - diam." ucap Dita membocorkan sesuatu rahasia.


"Maksudnya ma?"


"Dia bisa bekerja di sana sebenarnya ada campur tangan papanya, papanya takut dia di tindas."


"Mana ada zaman sekarang ma."


"Bisa jadi ca, dah kamu pulang aja, biar mama yang gantiin, bentar lagi papa juga kesini bareng Aya "

__ADS_1


"Baik ma, nanti jika Daffin bangun kabarin aku ya ma."


"Iya." jawab Dita dengan senyum.


__ADS_2