
Daffin sudah memboyong keluarganya ke rumah baru mereka. Rumah ini sebenarnya sudah selesai sejak 5 tahun yang lalu.
Rumah ini di hadiahkan Daffin untuk Mezza kala itu. Namun wanita itu malah pergi menghilang dari hidupnya.
Setelah rumah ini jadi, mama Dita menjadi marah. Mama Dita tidak membiarkan keturunan Arkarna tinggal memisahkan diri. Rumah utama Arkarna tetap tempat anak cucunya tinggal.
Rumah utama Arkarna sudah di renovasi berkali-kali. Rumah itu tetap baru meski umurnya sudah puluhan tahun.
Daffin membujuk mamanya jik mereka akan tetap kembali ke rumah utama suatu saat. Mereka berjanji bahwa rumah ini hanya untuk beberapa tahun ini saja.
Rumah yang di bangun Daffin tidaklah sebesar kediaman keluarga Arkarna. Tapi ini di bangun dengan hasil pencapaiannya sendiri.
"Rumah ini memang tidak semegah kediaman Arkarna, rumah ini aku bangun 5 tahun yang lalu saat aku berjuang mempertahankan kamu." ucap Daffin menjelaskan.
"Bagus, aku suka sama desainnya, ini sesuai dengan seleraku."
"Aku tau ini rumah impian kamu, tapi mama tidak mengizinkan kita tinggal di luar rumah utama terlalu lama sayang."
"Ya daf aku paham mama, di masa tuanya dia tidak ingin tinggal sepi tanpa anak dan cucunya." jawab Dita.
"Terima kasih sudah paham sayang." ucap Daffin.
"Daddy."
__ADS_1
" Ya sayang." ucap Daffin ketika melihat anaknya baru saja bergabung dengan dirinya dan istrinya.
"Barusan omata telpon, katanya omata kangen ma fi, jadi omata mau kesini jemput di, kata omata jika fi nggak nginap nanti bisa lama dapat adiknya." ucapnya tanpa berdosa.
"Jadi sekarang omata mau kesini?"
"Nggak, omata suruh sopir yang antar fi kesana, omata dan opa Bian ajak fi liburan."
"Liburan?" tanya Daffin yang tidak tau apa-apa.
"Omata juga ajak opa dan Oma loh mi, jadi kami berlima mau berlibur bersama."
"Kemana?"
"Kurang tau, tapi kata omata akan lebih seru daripada liburan bersama Daddy dan mami, kata omata nanti bisa - bisa fi ditinggal Daddy sama mami pas liburan karena proses buat adik."
Mertuanya itu telah berhasil meracuni otak anaknya yang masih polos.
"Bye dad, bye mom, fi berangkat dulu." ucap Dafizza.
"Tunggu biar Daddy yang antar." ucap maminya.
"Nggak usah mi, soalnya tadi omata udah suruh pak Ujang." jawab Dafizza seperti orang besar.
__ADS_1
"Anakmu pengertian sekali." ucap Mezza kepada Daffin.
"Anak kita sayang." ucap Daffin tersenyum sambil memencet hidung Mezza.
"Sakit tau." ucap Mezza sambil merengut.
"Sepertinya mama sangat ingin kita memberikan cucu kedua, yuk kita lanjutkan permainan yang tertunda semalam." ucap Daffin lansung menarik Mezza menuju kamar utama.
"Daf tapi aku belum mandi, bau." ucap Mezza merasa kurang percaya diri.
"Justru baumu itu candu mas sayang." ucap Daffin tersenyum.
"Apa mas?" tanya Mezza takut salah dengar.
"Panggil aku mas, nggak boleh lagi panggil aku kamu." ucap Daffin.
"Daf lucu aja, kitakan seumur."
"Penghormatan untuk suami sanyang."
"Dad Daf aja ya."
"Emang aku daddymu, nggak panggil mas."
__ADS_1
"Iya deh mas sayang " ucap Mezza sambil mendekatkan diri kepada Daffin.
Daffin terpancing dengan sentuhan istrinya. Ia mengangkat dagu Mezza lalu ******* bibir manis Mezza. Suara ******* Mezza membuat birahinya semakin tertantang. Mereka melaku apa yang sepatutnya mereka lakukan sebagai pasangan yang baru menikah.