Cinta Dafizza

Cinta Dafizza
part 37


__ADS_3

Dita dan Siska tampak yang paling sibuk mempersiapkan pernikahan anak mereka. Semua mereka siapkan dengan semangat. Bahkan beberapa kali mereka sering jalan berduaan.


Sesuai dengan kesepakatan bahwa pernikahan akan diadakan satu bulan setelah malam itu. Berjalannya waktu maka berita tentang mereka juga sudah menyebar kemana-mana.


Undangan juga sudah di sebar kemana - mana. Di majalah bisnis juga membahas pernikahan mereka.


Berita pernikahan itu juga sampai kepada Rey. Rey begitu kecewa akhirnya wanita yang ia cintai akhirnya akan di nikahi oleh lelaki lain.


"Selamat mez, akhirnya kamu melepaskan masa lajang juga, aku patah hati." ucap Rey mencoba untuk tersenyum.


"Semoga kamu cepat menyusul ya." doa Mezza.


"Kamu yakin mau menikah dengan dia? mana tau kamu berubah pikiran, aku siap membawa kamu pergi." gurau Rey.


"Udah jangan bercanda, kamu taukan jika aku sudah menyukai dia sejak zaman dulu."


"Tapi itu cinta monyet, setelah dewasa kalian malah tidak ada kecocokan." bantah Rey.


"Mungkin ketidakcocokan itu akhirnya membuat kamu saling melengkapi." jawab Mezza sambil tersenyum.


"Mendadak puitis karena mau menikah, amboilah."


"Makanya kamu harus dukung aku, beri aku semangat."


"Tentu, tapi kita masih bertemankan?"


"Tentu saja, kamu teman baikku." jawab Mezza tersenyum manis.


"Jika nanti dia nggak serius kamu bisa lari ke aku." ucap Rey.


"Hey tenang, aku akan berlari mengadu kepada kamu, tapi kamu jangan jadi bujang lapuk pula."


"Mak mak doanya kejam sekali, aku ini banyak wanita yang mengejar aku, aku aja yang mengejar kamu."


"Udah jangan bercanda lagi, aku mau pulang dulu."


"Besok dah mulai cuti ya."


"Iya dua Minggu."

__ADS_1


"Emang dia nggak suruh kamu resign?"


"Mana bisa dia suruh aku resign segala, pekerjaan ini adalah nyawa aku."


"Lebai." ucap Rey merapikan anak rambut Mezza.


Dengan cepat Mezza menepis tangan Rey. Karena seakrab apapun mereka bagi Mezza dia tetap menjaga Marwah calon suaminya.


Drrrrrrrrrrr


"Aku izin angkat telpon dulu."


Mezza lansung mengangkat telepon dari Daffin.


"Hallo Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, aku sedang di depan ruangan kamu."


"Ngapain?"


"Jemput kamu, kenapa?"


"Aku sudah izin dengan ketua pemilik yayasan."


"Ya udah, tunggu sebentar." ucap Mezza menutup sambungan telponnya.


"Siapa?"


"Calon suami, aku pamit dulu ya, dia udah nunggu."


"Yupz, jika anak Presdir siapa yang melarang pulang sebelum waktunya."


"Bukan gitu loh, ini karena urgent."


"Baiklah, hati - hati, ingat jika ada masalah dengan pernikahan kamu cepat cari aku."


"Bacot lah." ucap Mezza tertawa meninggalkan ruangan Rey.


Sedangkan Rey nampak miring setelah wanita itu pergi.

__ADS_1


"Kijang dah lepas ke rimba." gumamnya.


Mezza berjalan dengan agak terburu-buru menuju ruangannya. Dia melihat Daffin yang berdiri di depan ruangannya.


"Ayo masuk." ujar Mezza ketika di depan pintu.


Daffin mengikuti langkah kaki Mezza kedalam ruangan kerja wanita itu.


"Kok izin nggak bilang-bilang dulu sama aku?" tanya Mezza kepada Daffin sambil membuka jas dokternya.


"Biar suprise aja."


"Jadi kita mau kemana?"


"Mau kesalon aja, mau perawatan."


"Tumben."


"Dipaksa mama, hehehe." jawab Daffin menyeringai.


"Di kantor jangan banyak-banyak senyum ya." ucap Dita memberi peringatan.


"Kenapa pula?" tanya Daffin penasaran.


"Senyum kamu manis sih, takutnya banyak gadis yang klepek klepek." ucap Mezza mengambil tasnya.


"Berati senyum ini hanya milik kamu?" tanya Daffin menarik tangan Mezza sehingga tubuh Mezza terjatuh ke pelukan Daffin.


Jantung keduanya bergetar lebih cepat. Apalagi ketika mata mereka bertemu. Jarak mereka yang begitu dekat membuatnya terhipnotis. Aroma nafas keduanya bisa mereka rasakan.


Daffin mendekatkan wajahnya ke wajah Mezza. Mezza memejamkan matanya. Namun saat itu pintu terbuka.


"Hmmmm."


Daffin dan Mezza nampak kaget ketika mendengar suara deheman. Itu suara uncle Amar yang sudah berdiri di pintu.


"Udah nggak sabar ya, sampai harus di dalam ruangan rumah sakit, untung bukan perawat yang masuk." ucap Amar masuk tanpa permisi.


"Maaf uncle." ucap Daffin.

__ADS_1


Mezza hanya diam dengan wajah memerah. Dia sangat malu dengan pamannya ini. Dia merasa begitu bodoh sehingga hampir berciuman di area rumah sakit.


__ADS_2