
Setelah pernikahan selesai Daffin dan Mezza nampak bahagia. Mereka sudah masuk kedalam kamar Mezza. Disana juga ada Dafizza.
Yah Dafizza sangat senang karena Daddy dan maminya sedang bersama. Pada akhirnya dia bisa merasakan kasih sayang keduanya dengan untuh.
"Mami dan Daddy jangan berantem lagi ya." ucapnya dengan polos.
"Iya sayang, kamu mau kemana nanti?" tanya Daffin dengan senang.
"emang kita mau jalan-jalan dad?"
"Iya, kita akan jalan - jalan bertiga, mau?"
"Mau dad." jawab Dafizza antusias.
"Baik tuan putri, kemanapun tuan putri ingin akan Daddy kabulkan." ucap Daffin memeluk putrinya.
"Dad fi sayang sama Daddy." Dafizza juga memeluk Daddynya di atas ranjang.
"Jadi cuma Daddy yang di sayang?" tanya Maminya meletakkan ponselnya.
"Eh lupa, fi juga sayang sama mami, fi sayang semuanya." ucap Dafizza juga ingin dipeluk maminya.
Mezza memeluk keduanya. Dia ikut bahagia melihat putrinya bahagia seperti ini.
"Di senang tiap malam bisa tidur sama dad dan mami." ucap Dafizza sambil menciumi Daddynya.
Daffin terkejut mendengar ucapan putri nya. Sedangkan Mezza hanya tersenyum melihat wajah Daffin menegang.
"Besok kita udah pindah kerumah kita, di sana Fi punya kamar sendiri seperti kamar di sini, tema kamarnya princess."
__ADS_1
"Ah padahal fi ingin tidur dengan dad dan mami." ucapnya merajuk.
"Fi mau adik nggak?" tanya Daffin tersenyum melihat Dafizza.
"Mau, beli dimana dad?"
Mezza tertawa mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Dafizza.
"Bukan di beli sayang, tapi ada prosesnya, pokoknya fi nggak boleh tidur sama Daddy dan mami."
"Gitu ya dad?"
"Iya, semakin di tidak pernah tidur dengan dad dan mami maka semakin cepat di dapat adik."
"Tapi nanti fi nggak bisa tidur sama Daddy atau mami lagi." ujarnya sambil memonyongkan mulutnya.
"Asikkkkk, fi ngantuk, fi pengen di isap."
"Usap sayang, kalau isap itu kayak gini." ucap Daffin mendekatkan wajahnya ke perut anaknya.
"Geli Daddy."
"Isap itu kayak nyamuk isap darah." ucap Daddynya.
"Baik Daddy, fi mau diusap sama Daddy."
Daffin yang tidur di tengah mengusap punggung anaknya. Dafizza merasa kurang nyaman sehingga dia protes.
"Dad kasar sekali, aku mau di usap mami aja." ujarnya protes.
__ADS_1
Mezza pindah ke tengah. Dia mengusap punggung anaknya dengan lembut.
"Dad memang kurang pandai ngusap nak, mami aja dad usap malah nggak bisa tidur, melek semalaman." ucap Daffin tersenyum.
Mezza mencubit perut suaminya karena menjawab asal - asalan. Daffin meringis menahan sakit. Tapi ia senang situasi seperti ini.
Setelah 30 menit akhirnya Dafizza tertidur di pelukan Mezza. Daffin sejak tadi sibuk membelai punggung Mezza. tangannya sibuk bergerilya di tubuh Mezza.
Sekali - kali ia menciumi punggung Mezza. Terkadang dia agak menggigit pelan. Hasrat lelaki mana yang tidak timbul melihat moleknya tubuh istrinya.
"Sayang......" bisik Daffin di telinga Mezza
Dafiin membalikkan tubuh istrinya agar menghadap ke arahnya.
"Sayang, boleh nggak?" tanyanya dengan mata sayu.
"Apa? ada fi loh, masa nggak malu."
"Lama nunggu besok yang."
"Yang ajak fi tadi tidur di sini siapa?"
"Ya aku karena ingin melihat fi senang."
"Ya udah tahan."
"Ya udah deh cium ini aja." ucap Daffin lansung mencium bibir merah Mezza yang sudah lama di idamkan.
Mezza hanya pasrah ketika lelaki itu menciumi bibirnya. Pertama kedua hanya sekedar cium. Lalu ketiga ciuman berubah menjadi panas.
__ADS_1