Cinta Dafizza

Cinta Dafizza
Part 64


__ADS_3

Zahyan kesal dengan kakaknya. Sejak dulu yang sering berantem dengan Mezza adalah Zahran. Tapi kali ini dia malah lebih sering berantem dengan kakaknya itu.


Zahyan sibuk dengan ponselnya memeriksa beberapa dokumen perusahaan yang di kirimkan lewat email.


Untuk saat ini Zahyan sedang mencari posisi untuk sekretaris. Namun dia belum menemukan kandidat yang memuaskan.


Dia berniat meminta tolong kepada Daffin..Walau bagaimanapun dia sangat mengenal Daffin. Dia paham bahwa Daffin mempunyai otak yang jenius.


Di saat umur Daffin sudah 25 dia sudah sukses mengembangkan Arkarna grup lebih besar. Bahkan saat ini banyak perusahaan yang bernaung di bawah Arkarna grup.


Sedangkan dia setelah berumur 27 tahun masih baru lulus kuliah. Dia baru saja memulai menjadi CEO di perusahaan keluarga mamanya.


Berbeda dengan Mezza dia lansung berjalan menuju kamar anaknya. Setelah kesal dengan Zahyan, kali ini sasarannya adalah Daffin. Si Daddy anaknya.


Ketika Mezza masuk kedalam kamar dia memandang Daffin dengan pandangan menyeramkan. Daffin pura - pura sibuk dengan Dafizza bermain.


"Kita bisa bicara?" tanya Mezza kepada Daffin.


"Boleh nggak fi?" tanya Daffin.


"Mami awas aja marah sama Daddy, nanti jika Daddy ngambek lalu pergi, fi nggak mau ngomong sama mami lagi." ancam Dafizza.

__ADS_1


"Daddy jika mami marah - marah sama Daddy bilang fi ya, jangan ngambek." ucap Dafizza mengusap pipi Daddynya.


"Baik tuan putri." ucap Daffin sambil memberi hormat layaknya tuan putri.


Mereka keluar dari kamar Dafizza. Setelah menutup pintu kamar wajah Mezza mulai terlihat gondok lagi.


"Kamu sengajakan menghasut Fizza?"


"Menghasut? apa tidak ada kata - kata yang lebih. aku dari itu." jawab Daffin.


"Itu kenapa Fizza bisa ngomong seperti itu sama Rey."


"Ohw jadi kamu marah karena kekasih kamu tidak di anggap keluarga oleh fi."


"Lalu apa?"


"Kenapa kamu menghasut Fizza sampai dia membela kamu seperti itu, kamu hasut apa dia."


"Kamu mana percaya dengan jawaban aku, silahkan tanya Fizza Jika aku menghasut dia, jawaban dia itu spontan, tapi jika bicara keluarga kami hanya bercerita tentang keluarga sebelum tidur."


"Yang aneh itu kamu, apa nggak sabar pengin nikah sebelum masa Iddah habis? sampai promosi ke anak, dan itu fi lagi sakit pula, Jika mau fi terima perlahan dong, sabar." ucap Daffin juga kesal mendengar Rey tadi bicara soal nikah di depan anaknya.

__ADS_1


"Jadi kamu mau menyalahkan Rey gitu?"


"Dia tidak akan pernah salah di mata kamu, yang salah itu aku, puas." ucap Daffin.


"Itu karena memang kamu tidak bisa di percaya." jawab Mezza.


"Terserah, aku juga tidak bisa memaksa kamu percaya sama aku." jawab Daffin membuka pintu kamar Dafizza.


"Fi Daddy pulang dulu ya, Daddy mau mandi."


"Tapi nanti Daddy kesini lagi kan dad?" tanya Dafizza.


"Nanti malam Daddy kesini lagi ya, tapi Daddy nggak tidur di sini ya."


"Jadi Daddy cuma datang sebentar aja, Daddy nggak mau tidur dengan fi lagi?" Rajuk Dafizza.


"Fi bisa tidur dengan Daddy nanti, nanti Daddy jemput pas malam Minggu atau kapan di izinkan mami, ya kan mami?" tanya Daffin meminta persetujuan.


"Iya sayang, nanti gantian tidur sama mami lalu setelah itu sama Daddy."


"Bersama keduanya nggak boleh ya dad?" tanya Dafizza.

__ADS_1


"Nggak boleh sayang, Daddy nggak mau berbagi kasur sama mami, nanti kita berdua nggak bisa sayang - sayangan karena pasti kesempitan." jawab Daffin membuat Dafizza tertawa lucu melihat ekspresi Daddynya.


"Aku pulang." pamit Daffin.


__ADS_2