Cinta Dafizza

Cinta Dafizza
Part 94


__ADS_3

Alfa lansung kalang kabut setelah menerima telpon dari Daffin. Bosnya itu memang bersikap sesukanya membuat dia kesal tertahan.


Alfa lansung mengurus semuanya dengan cepat. Jika di hitung dari sekarang, dia hanya punya kurang lebih 6 jam lagi.


Alfa menghubungi semua orang dekorasi. Dia juga menghubungi papa Abian atas tindakan tidak sabar dari anaknya.


Papa Abian setelah mendapat kabar dari Alfa juga kalang kabut. Dia dengan cepat mengabari istrinya. Dia menyuruh istri dan dan Alfa menyiapkan bingkisan untuk hantaran.


Dita malah menyuruh Alfa untuk menyiapkan hantaran dan semuanya sesuai dengan Mezza. Dita sudah membuat list - list apa yang di beli. Dita juga menyuruh Alfa meminta Daffin membuat list dari anaknya.


Bukan ya berkurang pekerjaannya malah tambah. Dita hanya sibuk mengabari calon besannya Siska. Sedangkan Abian sibuk menelpon Galuh.


Semua orang nampak sibuk mempersiapkan pernikahan mereka. Sedangkan mereka masih santai makan siang di restoran sekitar rumah sakit.


"Kamu yakin aku nggak usah telpon papa."


"Nggak usah, pasti papa kamu sekarang sudah dapat info dan sibuk menyiapkan semuanya."


"Tapi kayak nggak sopan aja Daf, gimana papa nggak setuju." ucap Mezza menakut - nakuti Daffin.


"Nggak mungkin, baiklah biar aku datangi papa kamu." ucap Daffin tiba-tiba merasa takut apa yang di ucapkan Mezza terjadi.


"Coba telpon aja."

__ADS_1


"Nggak siap makan ayo kita temui."


"Telpon dulu, cari tau keberadaannya."


"Pasti dirumah saat ini." ucap Daffin secara pasti.


Setelah makan mereka menuju rumah Mezza. Daffin tidak ingin papanya Mezza tidak menyetujui pernikahan mereka.


Saat sampai di sana, nampak rumah itu sedang di hias. Daffin tersenyum senang karena persiapan sudah berjalan 25 persen.


Akan tetapi senyumnya berubah ketika bertemu dengan papa Mezza yang memasang muka masam.


"Om bisa kita bicara." ucap Daffin dengan sopan.


"Sesuka hati kalian mengganti jadwal, apa kalian sudah nggak sabar." ucap Galuh.


"Udahlah pa, hal yang baik harus di segerakan, papa juga cuma tau beres kok."


"Aku belum latihan akad nikah tau."


"Ah gampang aja pun." ucap Siska.


"Teori gampang, prakteknya dag Dig dug." jawab Galuh.

__ADS_1


"Udahlah pa, papa nggak senang meme bahagia?" tanya Mezza dengan murung.


"Ya senanglah sayang." jawab Galuh tidak ingin melihat anaknya murung.


"Jadi apakah semua udah siap?" tanya Mezza.


"Ya belum, dan kamu cepat sana perawatan." aja Siska menarik tangan anaknya.


"Dia udah cantik Tante nggak perlu perawatan lagi."jawab Daffin.


"Diam kamu, kamu mana tau rahasia perempuan." jawab Siska membawa anaknya ke dalam kamarnya.


"Jika begitu aku pamit dulu om." pamit Daffin tidak ingin menjadi korban kekesalan papa Mezza.


"Kamu nggak nemani om ngeteh."


"Aku kayaknya perlu belajar juga om, biar lancar." jawab Daffin segera pergi sebelum tertahan oleh papa Mezza.


Daffin dengan segera meninggalkan rumah Mezza. Dia memacu mobilnya menuju rumahnya dengan kecepatan sedang. Hatinya sedang berbunga-bunga saat ini. Baginya hari ini hari yang menyenangkan bagi dirinya.


Ketika hatinya sedang senang tiba-tiba senyum di wajahnya menghilang. Tiba-tiba mobilnya terasa oleng. Dia menghentikan mobilnya. Dia keluar merasa ada yang aneh. Dia kesal ketika melihat jam mobilnya kempes.


"Sial, pake bocor segala."

__ADS_1


__ADS_2