
Semenjak berada di pulau P,Azzam tampak menempel kepada Aya. Sedangkan Aya dari tadi sibuk memasang muka masam kepada Azzam. Sedangkan Zahran sibuk menempel pada Abrina. Abrina hanya sibuk dengan buku-buku dan sesekali mengobrol dengan Zahran.
Berbeda dengan Beby, dia selalu menempel pada Zayyan. Kemana Zayyan pergi maka di situ ada Beby. Zayyan kadang memasang wajah dingin kepada Beby.
Sedangkan Daffin dan Mezza tampak seperti musuh bebuyutan. Anak yang seumuran ini memang jarang tampak akur semenjak berumur 5 tahun.
Mereka selalu kesal jika ulang tahun mereka di rayakan berbarengan. Entah perjanjian apa yang di miliki orang tua mereka sehingga mereka selalu berbagi kue ulang tahun setiap tahunnya.
"Daffin tolong antarkan minuman ini kepada Echa." pinta Dita.
"Antar sendiri kenapa ma?"
"Kamu nggak bisa di minta tolong apa?" tanya Dita dengan kesal.
"Sebanyak ini orang, kenapa harus Daffin yang di suruh jika menyangkut Echa." sahutnya dengan kesal sambil mengambil gelas yang di sodorkan oleh mamanya.
Daffin berjalan menuju tempat Mezza yang sedang asik memainkan ponselnya yang duduk di kursi salah satu yang ada di taman belakang.
"Ini dari mama." ucap Daffin dengan muka masam.
"Jika nggak ikhlas nggak usah bawa kesini." ucap Mezza dengan ketus.
"Udah di bantu bukannya terima kasih, malah banyak bacot."
__ADS_1
"Kamu yang banyak bacot."
"Gadis tapi mulut kasar, siapa coba yang mau sama kamu."
"Banyaklah, yang penting jangan kamu aja yang suka saya, amit - amit cabang bayi."
"Rugi aku jatuh cinta sama kamu, nggak ada yang menarik dari wajah kamu yang pas - passan."
"BAGUS BANGET, perempuan sial yang akan menikah sama kamu, karna hidupnya akan penuh sesal jika menikah sama kamu."
"Kamu yang sampai saat ini nggak laku, nggak pernah pacaran karena nggak ada yang mau, aku mah udah punya pacar, cantik nggak level jika di bandingkan sama kamu."
"Dia mah mau sama kamu karna hartanya aja, coba aja dia nggak tau keturunan Arkarna, maka nggak ada yang mau sama cowok kayak es kayak kamu."
"Iya dingin."
"Dingin dari kepalamu, buktinya aku dah banyak ngomong sama kamu."
"Itu karena aku bebuyutan kamu aja, dah pergi sana, sampaikan makasih sama Tante Dita, semoga nggak keracunan karena di pegang kamu."
"Kamu."
"Apa? pergi sana." usir Mezza.
__ADS_1
Tidak jauh dari Mezza tampak Zahran sedang main gitar. Dia di kelilingi oleh Beby dan Abrina anak om Dion,Aya dan Azzam dan Azzura sepupunya Mezza anak dari Tante Bella.
Daffin duduk agak menjauh dari mereka sambil mengerjakan beberapa pekerjaannya. Dia tidak senang menghabiskan waktunya seperti ini. Bagi Daffin bekerja adalah hal nomor satu.
"Liat anakmu, udah jelas kesini mau liburan, eh masih aja bawa pekerjaan."
"Dia akan mengembangkan Arkana Group lebih besar lagi." jawab Abian sambil tersenyum.
"Hasil didikan kamu itu."
"Biarin aja sayang, berati aku berhasil."
"Apa ya berhasil, dia jadi dingin seperti itu."
"Aku juga dingin, tapi kan tidak sama kamu sayang, buktinya kamu tergila-gila sama aku." goda Abian.
Bella tersenyum mengingat ucapan suaminya. Suaminya benar, ia hanya dingin kepada wanita di luar sana, tapi tidak dengan keluarganya.
"Iya, setiap orang mencintai pasangannya dengan cara yang berbeda-beda, aku bahagia bisa mendampingi kamu selama ini." ucap Dita memeluk suaminya.
"Akupun begitu sayang,aku beruntung sekali dapat istri kamu, kamu wanita yang sempurna, I Love you." ucap Abian lalu mencium kening istrinya.
Daffin tersenyum dari jauh melihat kemesraan kedua orang tuanya. Meskipun mereka sudah menikah selama 23 tahun, akan tetapi mereka tetap romantis.
__ADS_1