
Setelah mengemas semua cemilan yang berserakan akhirnya Mezza memasak apa yang ada di kulkas.
Mezza memasak sesuai dengan bahan yang ada di kulkas. Sedangkan Daffin tertidur ketika mengompres matanya. Tubuhnya yang lelah membuat dia gampang tertidur.
Mezza membangunkan Daffin jam malam. Daffin sudah segar setelah tidur kurang-lebih dua jam. Setelah makan malam akhirnya mereka kembali ke pusat kota. Daffin menyuruh agar pelayan yang menjaga Cottage kembali bekerja.
"Biar aku saja yang bawa mobilmu." ucap Daffin.
"Tapi mobilmu?" tanya Mezza bingung.
"Biar anak buatku yang jemput."
"Tapi kita....."
"Nggak usah takut begitu, anggap aja aku Daffin teman kecil lu dulu, dulu kita juga sering bareng, dan tujuan aku supaya cepat sampai." ucap Daffin
Daffin memang tidak bermaksud untuk mencari kesempatan. Di pikirannya adalah agar cepat sampai jika dia yang menyetir. Jika menyetir masing-masing maka akan membuat lambat. Dia tidak mungkin meninggalkan Mezza. Bisa bahaya bagi keselamatan Mezza.
"Baiklah jika begitu." ucap Mezza menyerahkan kunci mobilnya.
"Tapi kamu ngantuk nggak? nanti bisa bahaya." ucap Mezza lagi.
"Aman, percaya sama aku." ucapnya tersenyum kecut.
Mezza merasa bahwa lelaki ini mulai bersikap dingin kepadanya. Dia memang sudah lama tidak berkomunikasi dengan lelaki ini.
__ADS_1
Daffin membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mezza hanya berpasrah kepada Allah mengenai keselamatan dirinya.
Mereka sampai salam waktu 1 jam. Mezza akhirnya bernafas lega setelah sampai di depan rumahnya dengan selamat.
"Kamu balas dendam sama aku?" tanya Mezza belum turun dari mobil.
"Balas dendam kenapa? aku hanya ingin cepat menemui fi." jawab Daffin.
"Mana tau kamu ingin mati berdua sama aku karena patah hati." jawab Mezza.
"Hei mana mungkin aku membuat anakku menjadi yatim Piatu, pikiranmu aja yang jelek sama aku." ucap Daffin turun dari mobil Mezza.
"Kok dia malah ninggalin aku?" tanya Mezza juga ikut turun.
Mezza mengikuti Daffin yang berjalan masuk kerumahnya. Daffin lansung di sambut oleh Kedua orang tuanya dan kedua orang tua Mezza.
"Sayang, ini Daddy." ucap Daffin berbisik di telinga anaknya.
"Daddy." ucap anaknya yang belum tertidur lelap.
"Kamu oke?" tanya Daffin.
"Fi kangen Daddy, Daddy mau tinggalin fi lagi? atau mami larang Daddy temui di ya?" tanya Dafizza dengan wajah sedih.
"Nggak sayang, Daddy lupa kasih tau kamu kalau Daddy sibuk bekerja." jawab Daffin.
__ADS_1
"Bekerja menata hati." gumam Mezza sambil tersenyum mengejek.
Daffin hanya diam mendengar gumaman Mezza karena wanita itu berdiri tepat di belakangnya.
"Cepat sembuh ya, jika udah sembuh kita akan pergi jalan-jalan." ucap Daffin.
"Benaran dad? ajak mami juga kan?" tanya Dafizza.
"Jika mami mau ikut."
"Mami mau ikutkan?" tanya Dafizza.
"Mau jika opa dan Oma juga ikut." jawab Mezza.
"Horeee, kita liburan." ucap Dafizza senang.
"Sekarang di tidur ya." ucap Mezza.
"Fi mau tidur jika Daddy tidur di sini." ucap Dafizza.
"Dengan senang hati, Daddy akan menemani princess kesayangan Daddy ini." ucapnya dengan senang naik ke atas ranjang Dafizza.
"Mami mau tidur di sini juga?" tanya Dafizza.
"Opa dan Oma nggak bisa tidur di sini, sempit." jawab Galuh sambil bercanda.
__ADS_1
"Sama opa Bian mau pulang." ujar Abian tidak mau kalah.
"Mama tidur di kamar mama aja ya." ucap Mezza dengan kesal melihat kelakuan papanya dan mantan papa mertuanya.