
Author POV
Udah siap Daf? tanya Dita kepada anak sulungnya.
"Ma, kenapa aku harus ikut? aku ini wakil CEO loh, masa ikut acara gituan." jawab Daffin memprotes.
"Papa kamu aja yang CEO ikut, kok kamu baru wakil udah sombong kayak gitu, ini acara keluarga jadi semua harus ikut." jawab Dita.
"Acara keluarga apa ma? jika keluarga Arkarna yang mengadakan tidak apa mama memaksa aku."
"Daffin, mama sedih dengan kamu, kamu selalu membantah mama, sehebat apapun kamu jika kamu masih membantah mama maka sia - sia mama mendidik kamu selama ini, terserah kamu jika nggak mau ikut, jangan panggil aku mamamu lagi." ucap Dita dengan akting sedihnya.
"Iya deh aku ikut." jawab Daffin yang sudah tau dengan drama yang di mainkan oleh mamanya.
"Jika ada perhargaan, maka mama pemenang akting terbagus." ucap Daffin mengejek mamanya lalu menyiapkan beberapa barang yang akan di bawanya.
"Tentu saja." jawab mamanya tersenyum lalu berlalu keluar dari kamar Daffin.
Ketika keluar dari kamar Daffin, Dita lansung kekamar Aya. Betapa kagetnya dia, ternyata anak gadisnya itu masih tidur.
"Ya bangun." ucap Dita membangunkan anak keduanya.
"Apaan sih ma?masih ngantuk Ay loh ma." jawab Aya.
"Ay ayo berkemas, kita mau berangkat ke pulau P siang ini juga "
"Ngapain sih ma, Ay kali ini nggak ikut ma."
"Apa rasanya jika mama undang keluarga sahabat mama, tapi mereka datang nggak lengkap?" tanya Dita.
__ADS_1
"Ya mungkin aja mama sedih."
"Bukan mungkin lagi sayang, tapi mama bakalan sedih banget, karena persahabatan ini kami harapkan sampai ke anak cucu kami nanti."
"Ya udah, Ay beberes dulu." jawab Ay dengan berat hati. Ia malas karena nantinya pasti akan bertemu dengan Azzam sepupunya Mezza yang playboy. Namanya tidak sesuai dengan orangnya. Begitu yang ada di benak Aya selalu.
...****************...
"Ma, meme udah siap nih."
"Cie yang paling semangat karena ketemu bang Daffin di sana." ledek si kembar.
"Bacot aja kalian, mana peduli Kakak sama dia, laki-laki sombong kaya dia mana level sama kakak."
"Lain di mulut lain di hati." jawab Zahran.
"Terserahlah mau percaya apa nggak, nggak penting juga." jawab Mezza.
"Ya enggak lah, kenapa harus di ruang lingkup terdekat sih dek, masih banyak lelaki lain, kenapa harus lelaki sombong dan es salju gitu."
"Iya juga sih, aku juga ogah kak masih dengan anak temannya mama atau papa."
"Tapi itu asik tau, kita udah kenal bibit bobotnya." ucap Zahran.
"Ya kamu aja pilih salah satu anak sahabat papa atau mama." jawab Mezza.
"Iya ada Aya, ada Abrina, ada Beby, kamu maunya sama yang mana?" tanya Zayyan.
"Dia nanti sama Beby kayaknya." jawab Mezza sambil tertawa.
__ADS_1
"Jangan Bebylah, gimana anak - anakku nanti jika berjodoh dengan dengan gadis pemalas gitu, udah gitu di sekolah rangkingnya selalu 5 terakhir." jawab Zahran yang di sambut tawa kedua kakaknya.
"Coba aja Azzura nggak sepupu, mungkin udah ku embat dia." ucap Zahran lagi.
"Jadi nggak ada dari tiga tadi?" tanya Mezza.
"Kayaknya Abrina calon idaman ya kak eca." jawab Zahran.
"Macam mau aja dia sama kamu, dia itu maunya paling yang kayak Zayyan, kamu mah lewat." ucap Mezza.
"Kakak pas kali jika ngomong, sakitnya tuh di sini kak." ucap Zahran menunjuk hatinya.
"Lebai, ayo kita keluar, bawa punya kakak ya sekalian."ucap Mezza memerintahkan kedua adik kembarnya.
"Baik tuan putri." jawab mereka kompak.
Mereka berjalan menuju mobil yang sudah di siapkan. Akan tetapi papa dan mamanya belum satupun yang keluar dari kamarnya.
"Mama dan papa lama sekali sih." gerutu Zahran.
"Biasalah, mungkin berdrama dulu merek berdua." jawab Zayyan.
"Alamat terlambat lah jika mereka berdua berdrama dulu." jawab Mezza.
"Banyak - banyak berdoa aja." ucap Zayyan.
Memang benar, mereka menunggu mama dan papanya sekita 30 menit. mama dan papanya baru ke mobil di sambut dengan muka masam mereka bertiga.
"Oops jangan marah dulu, tadi ada pekerjaan urgent yang Papa selesaikan, biar liburan kita aman dan tanpa gangguan." jawab Galuh mencoba memberikan penjelasan dulu kepada anak-anaknya.
__ADS_1
"Ya udahlah, maaf ya lama menunggu, ayo masuk mobil." ucap Siska.
"Ayo." jawab anak - anaknya dengan serempak tapi lemas.