Cinta Dafizza

Cinta Dafizza
part 85


__ADS_3

Daffin nampak sudah mulai bosan. Setelah Dafizza tidur siang dia hanya sendiri duduk seperti menunggu seseorang.


Mamanya ikut tidur siang dengan cucunya. Sedangkan papanya kembali ke kantor karena ada sedikit proyek agak bermasalah.


"Kemana dia?" tanya Daffin dalam hatinya.


Daffin memandang kembali ke arah pintu masuk. Tidak ada nampak satu orangpun di sana.


"Haduw bosan juga, mana nggak bisa tidur." Daffin mengambil ponselnya.


Daffin mencoba untuk main game agar rasa jenuhnya hilang. Akan tetapi dia malah tidak fokus sehingga marah - marah sendiri.


Karena moodnya sedang tidak bagus akhirnya dia meletakkan kembali ponselnya.


"Apa gua telpon aja ya?" tanyanya pada diri sendiri.


Daffin mencoba mengambil ponselnya kembali. Lalu dia mencoba menelpon orang yang ada di pikirannya saat ini. Dia makin emosi karena wanita itu tidak menjawab telepon darinya.


"Kemana dia? beraninya dia tidak menjawab teleponku." ucapnya dengan geram.


Daffin menelponnya berkali-kali tapi juga di jawab. Kekesalannya semakin menumpuk sehingga dia melempar ponselnya sembarangan.


Daffin membiarkan ponselnya terletak di lantai tanpa mengambilnya. Hatinya saat ini sedang tidak baik - baik saja.


"Selamat siang bos." kebetulan Alfa baru saja datang.

__ADS_1


"Kenapa?"


Alfa kaget ketika menjadi pelampiasan kemarahan Daffin.


"Sore ini aku akan berangkat untuk menyelesaikan proyek yang bermasalah bos."


"Bagus, cari dalang yang membuat masalah di sana, lalu jebloskan ke penjara."


"Tapi sebelum kamu berangkat ada baiknya kamu jemput dokter anestesi yang bernama Mezzaluna Dazuri Kusuma, bawa dia kesini." ucapnya tanpa ingin di bantah.


"Baik bos." ucapnya dengan hati yang berat.


"Dikira gampang apa membawa macan betina itu?" jika dia aja nggak sanggup apalagi aku ini." ucapnya dalam hati.


"Kenapa kamu malah melamun? ayo segera jemput dia, jika dia tidak mau ya kamu pakai cara apa gitu."


Alfa meninggalkan bosnya yang sedang uring - uringan.


"Fa jangan lupa belikan aku ponsel baru." teriak Dafiin.


Alfa hanya menghela nafas panjang karena sudah kesekian kalinya ia harus mencarikan ponsel baru.


Alfa kembali melanjutkan langkah kakinya. Langkah pertama adalah mencari ponsel dengan secepat mungkin. Karena jika Mezza datang terlambat maka akan beresiko fatal.


Setelah membeli ponsel, Alfa lansung menuju rumah sakit tempat Mezza bertugas. Dia tidak ingin sedetikpun.

__ADS_1


Ketika sampai di ruang Mezza, Mezza hanya terpelongo saat melihat kehadiran asistennya Daffin.


"Ada apa fa?"


"Apakah buk bos sudah selesai bekerja?" tanya Alfa dengan hati - hati.


"Belum kenapa?"tanya Mezza bingung.


"Di rumah utama ada masalah besar buk bos, Fizza mencari keberadaan buk bos, trus bos Daffin nggak mau minum obat karena tidak ingin ada buk bos." jawab Alfa dengan sopan.


"Daffin tidak minum obat? kenapa dia?" tanya Mezza.


"Dia hanya ingin minum obat jika ada bos." jawab Alfa.


"Tapi kenapa dengan Fizza? dia jarang mencari mamanya jika bersama dengan Daddynya." tanya Mezza.


"Karena dia kuatir jika Daddynya tidak mau minum obat buk bos."


"Ohw begitu, kirain tadi ada apa, hahahha." ucap Mezza sambil tertawa.


"Gimana buk bos? bisa pulang sekarang? soalnya bos Daffin bisa marah jika Dafizza kelamaan menunggu."


"Baiklah, markipul." jawab Mezza dengan senyum membuka jas dokternya lalu menggantungnya di dalam ruangannya.


"Markipul?"

__ADS_1


"Igiyaga, magariti kigitaga pugulagang, mari kita pulang." jawab Mezza tersenyum lembut.


__ADS_2