
Mezza tampak canggung di meja makan berduaan dengan Daffin. Entah pada kemana yang lainnya sehingga di meja makan pada sepi begini.
Daffin yang tadi mengajak Mezza sarapan juga di buat salah tingkah. Ia tidak menyangka jika di meja harus berduan.
"Pada kemana ya?" tanya Daffin membuka pembicaraan.
"Entah, apa pada siap kali ya." jawab Mezza menatap Daffin sekilas.
"Mungkin ya, gimana dengan kerjanya?"
"Alhamdulillah baik, kamu sendiri?"
"Baik juga, gimana jadi dokter? kamu hebat loh bisa jadi dokter."
"Jadi jika nggak jadi dokter aku nggak hebat." jawab Mezza mulai ketus.
"Nggak, bukan begitu maksud aku, maksud aku itu...."
"Aku masih ingat bagaimana kamu bilang bahwa aku tidak akan jadi apa - apa karena tidak pintar seperti kamu."
"Maaf, jangan kamu bahas lagi masa - masa itu." jawab Daffin merasa tidak enak hati.
"Baru sekarang minta maafnya? kemaren kemana aja?" tanya Mezza wajahnya mulai jutek.
"Kamu kok jadi key gini sama aku?"
"Takutnya kamu merencanakan sesuatu untuk mengerjai aku."
"Maaf jika aku di masa lalu sering menyakiti hatimu, aku janji akan berubah."
"Gimana dengan perjanjian dengan Hanum? apa masih berlaku walaupun sudah berada di kota yang sama."
"Perjanjian apa?" tanya Daffin bingung.
__ADS_1
"Perjanjian dimana kalian bebas cari pasangan saat jauh, tapi ketika berdekatan maka kalian wajib bersama kembali dan memutuskan hubungan dengan pasangan terbaru." jawab Mezza sambil tersenyum.
"Darimana kamu tau itu?" tanya Daffin kaget.
"Aku nggak sengaja dengar saat kamu berada di Bern dulu, Hanum menelpon dan aku yang angkat."
"Kamu...."
"Maaf saat itu lancang, tapi jika bukan karena itu entah apa yang terjadi."
"Tapi itu sudah lewat, pada akhirnya kami juga putus."
"Aku harus berekspresi gimana ya? senang Tau sedih?" tanya Mezza berpura-pura bingung.
"Kamu harusnya senang karena pada akhirnya aku jomblo dan kamu bisa berusaha untuk mendapatkan kamu." goda Daffin.
"Hey jangan ngarang sesuka hati ya." tunjuk Mezza.
"Daffinnnnnnn, satu kali lagi kamu kayak gitu, aku bakalan pukul kamu."
"Jika marah berati betul." ejek Daffin lagi.
"Kamu." teriak Mezza lansung mengejar Daffin.
Daffin tidak hanya diam, dia lansung berlari ketika Mezza hendak memukulnya. Saat berlari menuju ruang tengah, ia kaget karena disana menemukan mamanya, Tante Siska, Azzura, Beby dan Azzam.
"Kalian ngapain di sini?" tanya Mezza memandang mereka sambil menyelidik.
"Tadinya mau sarapan, tapi di cegah ma Tante Dita dan Tante Siska." jawab Beby dengan senyum.
"Biasalah ca, jadi mama kamu dan mama aku dalang di balik sepinya meja makan." ucap Daffin berjalan menuju sofa.
"Bukan seperti itu ca." jawab Dita.
__ADS_1
"Iya, tadi mama hanya mau tanya - tanya mereka sebentar aja me." jawab mamanya.
"Mama dan Tante Dita pengen kali kami bersama ya?" tanya Mezza memancing pertanyaan.
"Pengen banget." jawab Dita dan Siska bersamaan.
"Ya udah, silahkan mama dan Tante cari cara agar kami saling menyukai." jawab Mezza.
"Benaran?" tanya Dita senang.
"Tante cari tau bagaimana caranya agar Daffin bisa melamar Eca." jawab Mezza mengeringkan matanya kepada Daffin.
Daffin tidak tinggal diam mendengar keusilan Mezza. Dia berdiri lalu berdiri di sebelah mamanya.
"Ma susah ma, Eca sengaja memancing begitu karena dia udah lama nunggu Daffin, begituan Ca?"
"Kamu......" teriak Mezza mencubit lengan Daffin.
"Tapi bukannya pas pulang dari Cambridge kamu bilang Eca cantik ya daf?" ucap mamanya membuat Daffin menutup mulut mamanya.
"Dan ada lagi yang lainnnya, Daffin paling sedih ketika kamu hilang di Bern waktu kecil, kecemasannya melebihi mama kamu atau papa kamu." ujar Dita menjelaskannya sedikit informasi.
"Maaaaaa." ucap Daffin merasa malu.
"Jadi kamu udah suka aku sejak kecil dahulu lalu dari." ejek Mezza tertawa.
"Nanti Tante ceritakan yang lainnya." ujar Dita dengan tersenyum.
"Jika ada yang lain nanti calling Eca ya Tan."
"Aman, yang penting kamu sediakan waktu luang ya." jawab Dita sambil tersenyum.
Semua yang ada di sana menjadi tertawa. Sedangkan Azzura, Beby dan Azzam sudah sarapan di meja makan.
__ADS_1