
Hari pernikahan Mezza dan Rey sudah tiba. Rey sangat gembira karena pada akhirnya bisa memiliki Mezza. Lalu bagaimana dengan Mezza. Dia sendiri tidak tau. Datar.
Mezza sudah di hias dengan cantik. Untuk kali ini pesta mereka di gelar sederhana saja sesuai dengan permintaan Mezza.
Mezza sudah cantik memakai gaun putih. Dia sudah siap menjadi istri dari Rey.
"Me yuk turun, semua udah menunggu." ucap Siska dari balik pintu kamar menyembulkan kepalanya.
"Iya ma, ini mau keluar." jawab Mezza.
"Me kamu yakin dengan pernikahan ini?"tanya Bella Tante Mezza duduk di sebelahnya.
"Kenapa Tante tanya seperti itu?"
"Jika kamu nggak yakin kamu bisa membatalkan sebelum mulai, karena yang tante liat kamu kayak nggak bahagia." ucap Bella nampak berhati-hati.
"Ah kata siapa tan, aku bahagia kok."
"Kamu yakin?"
"Terlalu bahagia di hari pernikahan juga nggak bagus Tan, dulu aku begitu bahagia tapi pernikahan aku tidak sampai sebulan." jawab Mezza.
"Tapi ini bukan karena kasihan kan me?"
__ADS_1
"Nggaklah Tan, lagian nanti jika terlalu bahagia kasihan kaum jomblo yang sedang baca tan, aku udah dua kali menikah dengan lelaki keren, jadi nggak boleh terlalu pamer.
"Ah terserah kamu lah, mi yuk kita bawa Mezza ke bawa." Bella memanggil adik iparnya yaitu istri dari Amar.
"Baik mbak." jawab Tante Ami yang dari sibuk menasehati anaknya Momo yang masih duduk di bangku kuliahan.
Untuk sedikit info Momo ini adik beradik dengan Beby otaknya. Meski mereka tidak bersaudara tapi otaknya sama levelnya.
"Kakak serius menikah dengan kak Rey?" tanya Momo dengan lantang.
"Kamu kenapa bicara begitu mo?" tanya Bella.
"Kakak ini pagar makan tanaman, masa kakak tega mengambil lelaki pujaan hati aku."
"Masa kamu nggak tau bahwa aku sudah lama suka sama kak Rey, udah 5 tahun aku menunggunya kak, kakak pasti pura - pura nggak tau."
"Mo kenapa bicara seperti itu, kita semua tau bahwa Rey itu mencintai Mezza, tidak ada yang merebut siapa di sini, kamu fokus aja sama kuliah kamu." ucap Ami masih kesal dengan anaknya.
"Terserah kalian semua, aku memang beda di keluarga ini, makanya kalian tidak pernah mendengar tentang hatiku." ucap Momo kesal.
"Udah me nggak usah di dengarin, dia masih labil." ucap Ami.
"Ya sudahlah yuk kita turun." ucap Bella.
__ADS_1
Berbeda dengan Daffin. Semenjak menerima surat undangan dari Mezza membuat dia semakin kacau. Dia merasa hidupnya sudah kacau. Tidak ada lagi yang berantakan.
Daffin merasa tidak sanggup untuk menghadiri pernikahan Mezza. Tapi mamanya menguatkan Daffin. Dita tidak mau Dafizza mencari keberadaan Daddynya. Sementara papanya tidak memaksa anaknya datang.
"Jadi gimana Daf? berangkat apa tidak?" tanya mamanya.
"Liat nanti ya ma." jawab Daffin.
"Jika mang nggak kuat nggak usah berangkat, sabar ya, jika jodoh takkan kemana." nasehat papanya.
"Iya Daf, banyak berdoa aja yang terbaik untuk kamu dan dia." ucap mamanya.
"Ya ma."
"Baik mama dan papa berangkat duluan, jika kamu ingin melihat datang, hati - hati nyusulnya,kasian pula Fizza nanti cariin Daddynya." ucap Dita.
"Apa kamu nggak bareng mama dan papa aja? hati mama nggak enak jika kamu berangkat sendirian." ucap Dita lagi dengan cepat meralat ucapannya.
"Mama dan papa berangkat aja dulu, Daf mau kesatu tempat dulu ma." jawab Daffin.
"Baiklah, jangan lama-lama sedihnya, kamu harus tetap kuat demi Fizza."
"Iya ma."
__ADS_1