
Setelah mengetahui bahwa Dafizza sakit membuat Rey datang mengunjunginya. Dia dan Dafizza sudah dekat sejak dua tahun yang lalu. Bahkan Dafizza memanggilnya papa Rey.
Rey membawakan banyak makanan kesukaan Dafizza. Dia juga membelikan banyak mainan. Dafizza senang melihat kedatangan Rey.
Berbeda dengan Dafizza, Daffin hanya merengut ketika melihat kedatangan Rey. Apalagi katika anaknya sudah memanggil Rey dengan sebutan papa membuat Daffin panas dingin.
"Kamu cepat sembuh ya, Nanti jika sembuh kita bisa pergi jalan-jalan." ucap Rey.
"Tapi fi mau jalan-jalan sama Daddy." jawab Dafizza.
"Ohw berati papa di tinggal dong." ucap Rey pura - pura bersedih.
"Papa boleh ikut kok, kan mami juga ikut."
"Mami juga ikut?" tanya Rey penuh selidik.
"Iya papa Rey."
"Wah jika begitu pasti papa ikut dong, tapi di ajak nggak?" tanya Rey.
"Nggak boleh, ya kan Daddy?" tanya Dafizza.
Daffin bingung mau menjawab apa di hadapan Rey dan Mezza. Dia tidak mungkin menjawab tidak boleh kepada anaknya. Mezza menatapnya dengan horor.
"Ini kata Daddy piknik keluarga, jadi yang ikut hanya keluarga papa." jawab Dafizza.
__ADS_1
"Emang papa bukan keluarga?"
"Bukan, kata Dady keluarga itu yang punya hubungan darah dengan kita."
"Jika papa menikah dengan mami pasti papa akan menjadi keluarga." ucap Rey.
"Apa itu menikah?"
"Seperti opa dan Oma." jawab Rey.
"Berarti mami sudah menikah dengan Daddy, kenapa papa mau ambil mami dari Daddy." ucap Dafizza kesal.
"Mami fi hanya mau mami menikah dengan Daddy saja, biar kaya opa dan Oma selalu bersama." ucap Dafizza dengan polos.
Mezza dan Rey berjalan ke arah luar kamar Dafizza.
"Apa maksud kamu bicara pernikahan ke Fizza Rey, kamu tau dia masih belum mengerti soal ini." ucap Mezza kesal setelah menutup pintu.
"Lalu apa bedanya dengan mantan suami kamu itu, dia sudah menghasut Fizza dengan cara mengkotak-kotakkan aku dan dia." jawab Rey juga kesal.
"Kita belum ada membahas soal pernikahan, masa Iddah aku saja masih belum selesai, apakah etis membahas pernikahan." ucap Mezza kesal.
"Sampai kapan aku menunggu kamu? sampai kamu di rebut lagi oleh lelaki itu?"
"Hei jika aku masih suka sama dia nggak mungkin aku mau pisah."
__ADS_1
"Bisa aja karena rengekan Fizza, apalagi Fizza bebas ketemu dia pasti dia menghasut macam-macam."
"Jika begitu jangan tunggu aku, kamu bisa cari perempuan lain." ucap Mezza makin emosi karena sudah mulai di atur oleh Rey.
"Maaf aku hanya sedikit kesal, aku minta maaf jika aku keterlaluan hari ini."ucap Rey menyesali sikapnya hari ini.
"Maaf, kali ini aku sangat takut kehilangan kamu kedua kalinya." ucap Rey lagi.
"Lain kali jangan begini lagi, untuk saat ini aku tidak ada niat kembali ke dia."
"Ya udah, aku pamit dulu, aku mau kerja lagi soalnya."
Mezza mengantarkan Rey berjalan menuju parkirannya. Ketika masuk kedalam rumah dia berpapasan dengan Zahyan.
"Jangan berduaan dengan lelaki lain jika belum habis masa Iddah." ucapnya dingin.
"Jika mulut nggak bisa bicara yang baik lebih baik diam." ucap Mezza semakin kesal dengan adiknya yang satu ini.
"Aku hanya memberi nasihat."
"Fokus aja ke pekerjaan kamu, dan urus saja percintaan kamu sendiri yang nggak pernah punya pacar." ucap Mezza meninggalkannya Zahyan.
"Nggak punya pacar bukan berarti nggak laku woi." teriak Zahyan yang berbeda satu tahun dengan Mezza.
"
__ADS_1