Cinta Dafizza

Cinta Dafizza
Part 42


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan menuju kota Bern mereka hanya saling diam. Lebih tepatnya Mezza lah yang merajuk. Ia mendiami Daffin sejak tadi.


Daffin tidak ambil peduli. Ia sibuk mengerjakan pekerjaannya di dalam pesawat. Melihat Daffin yang sibuk Mezza lebih memilih tidur.


Melihat Mezza yang tertidur dalam posisi duduk, Daffin meletakkan tabletnya. Ia menggendong Mezza ke dalam kamar.


Setelah membaringkan Mezza di ranjang empuk, ia kembali mengambil tabletnya. Dia duduk di tempat yang sama lalu kembali mengerjakan pekerjaannya.


Satu jam kemudian Mezza terbangun dari tidurnya. Ia menemukan dirinya ada di kamar. Ia yakin jika suaminya lah yang memindahkannya kesini.


Dia keluar dari kamar mencari keberadaan suaminya. Ia lansung tersenyum melihat Daffin masih berkutat dengan tabletnya.


"Masih sibuk aja?" tanya Mezza merangkul Daffin dari belakang.


"Biar di sana bisa sibuk dengan kamu." ucap Daffin sambil tersenyum.


"Nggak mau sibuk malam ini aja?" tanya Mezza menggodanya.


"Kamu istirahat aja sana, siapkan tenaga sebanyak-banyaknya." balas Daffin.


"Tapi mau di peluk kamu." jawab Mezza dengan manja.


"Ini sebentar lagi selesai, sini duduk."


"Peluk ya." ucap Mezza lansung menghamburkan tubuhnya di pelukan Daffin.

__ADS_1


Daffin menjadi tidak konsentrasi mengerjakan pekerjaan. Bagaimana ia konsentrasi jika iaia mencium aroma tubuh Mezza yang memabukkan. Ia mencoba menahannya sekuat tenaga. Ia tidak ingin pekerjaannya tidak selesai sebelum mendarat di kota Bern. Ia tidak ingin acara honeymoonnya terganggu akibat pekerjaannya.


...****************...


Mezza terbangun dari tidurnya. Ia menyadari bahwa ini bukan di dalam pesawat lagi. Ia melihat suaminya tertidur di sebelahnya. Lagi - lagi ia tersenyum ketika tau bahwa suaminya yang membawanya ke apartemen miliknya.


Ia melihat wajah suaminya sampai puas. Karena jika bukan sedang tidur ia tidak akan bisa memandanginya sedekat ini.


"Gagah." gumamnya.


Ia melihat jam baru saja pukul 12.00 CEST. Meskipun ia sudah tertidur lama akan tetapi ia masih merasakan mengantuk. Ia memejamkan matanya sambil memeluk Daffin dengan erat. Ia menghirup aroma tubuh Daffin sedalam-dalamnya. Seakan ia butuh aroma itu agar merasa lega.


Tidak lama kemudian ia tertidur kembali. Keduanya tidur seperti takut di pisahkan.


**


**


"Haaaaaaa jam 11? aku belum subuh loh Daf."Mezza terbangun dengan agak histeris.


"Buruan ayo sholat, akupun tertidur."


"Kamu terlewat juga?" tanya Mezza.


"Iya, ayo buruan."

__ADS_1


"Tapi apakah masih bisa? ini udah siang banget." ucap Mezza bertanya. Lalu matanya melihat jam dinding di kamarnya.


"Itu masih jam 6 CEST, tadi kamu bilang jam 11, kamu mau ngerjain aku?" tanya Mezza mulai sewot.


"Maksud aku tadi jam 11 WIB, maaf aku lupa sehingga masih liat jam tangan." ujar Daffin tersenyum menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Daffinnnnn, kirain terlewat lama, ternyata baru terlewatkan 30 menit." amukan Mezza memekakkan telinga Daffin.


ia berjalan menuju kamar mandi. Setelah berwudhu ia langsung menunaikan ibadah subuh berjamaah.


Setelah sholat Mezza menyalami Daffin. Daffin mengusap kepala Mezza.


"Kita berapa hari di kota Bern daf?" tanya Mezza sambil membuka mukena.


"Dua hari aja, setelah itu kita ke desa Murren, tapi kita singgah juga di desa Lauterbrunnen juga ya." jawab Daffin.


"Pasti, di sana stress kita bisa hilang."


"Kamu dulu waktu kuliah sering kesana?" tanya Daffin.


"Sering jika aku sedang rindu kepada...." jawaban


Mezza terpotong oleh Daffin.


"Kita akan bersenang ke sana, dulu kita juga sering kesana waktu remaja."

__ADS_1


"Indah bukan waktu itu?"


"Apanya yang indah?" tanya Daffin.


__ADS_2