
Mereka sedang naik kereta gantung dari Lauterbrunnen menuju Murren. Setelah puas mengelilingi Lauterbrunnen mereka memili ke desa Murren. Jika sebagian ke Murren hanya bermain sebentar lalu kembali menginap di Lauterbrunnen. Berbeda dengan pasangan suami istri ini. Mereka memilih bermain sebentar di Lauterbrunnen lalu pergi untuk menginap di desa Murren.
Desa Murren berada di ketinggian sehingga bisa memandang desa - desa lainnya dari sana.Tepatnya di wilayah pegunungan Bernese Oberland. Dari desa ini dapat menikmati pemandangan tiga gunung terkenal di Swiss: Eiger, Mönch, dan Jungfrau. Untuk mencapai Mürren, Anda harus menaiki kereta gantung khusus karena perjalanan tidak bisa dicapai dengan transportasi umum. Sesampainya di Mürren, akan disambut dengan desa mungil nan cantik yang syahdu, lengkap dengan lanskap tiga pegunungan yang magis.
Mereka mang menginap di desa Murren sesuai keinginan Mezza. Mereka dari sini bisa melepaskan penat. Pemandangan di sana membuat mereka enggan untuk pulang.
"Hmmm segar." ucap Mezza merentangkan tangannya.
"Untung kesini perginya lagi musim panas." ucap Daffin memeluk Mezza dari belakang.
"Kenapa emangnya?"
"Kamu tau sendiri jika musim panas di sini akan sepi, karena semua pada pergi berlibur." jawab Daffin.
"Iya tau, tapi apa hubungannya?"
"Enak sepi - sepi begini, jika bisa hanya kita berdua." jawab Daffin membisikkan di telinga.
"Geli tau." ujar Mezza yang merasa geli.
"Ayolah, aku udah kangen sama kamu."
__ADS_1
"Apaan sih, aku selalu di sampingmu kok."
"Masih kurang." bisik Daffin lalu lansung menggendong Mezza sambil tertawa.
Tiba-tiba ponsel Daffin berbunyi. Daffin melihat ada panggilan dari Hanum. Daffin mengangkat telepon Hanum dengan berjalan agak menjauh dari Mezza.
"Halo."
"Kamu dimana?"
"Kenapa tanya - tanya aku lagi? kita sudah putus."
Suara lembut Hanum membuatnya nostalgia dengan yang sudah berlalu.
"Kamu lupa perjanjian kita Daffin? kita bebas dengan yang lain jika kita sama - sama bosan, tapi jika salah satu meminta kembali maka wajib kembali, kamu lupa itu?" suara lembut Hanum membuat dia kangen dengan wanita itu.
Wanita itu selalu berbicara lembut kepadanya. Apalagi dengan tatapannya yang memuja membuat Daffin merasa di cintai sepenuhnya.
"Aku mau kamu kembali Daffin kepadaku."
"Tapi aku..."
__ADS_1
"Kamu kenapa Daffin? kamu menikah tanpa persetujuan aku? kamu kejam Daffin." terdengar suara wanita itu serak. Daffin tau bahwa wanita itu menangis.
Ia tidak bisa mendengar atau melihat wanita itu menangis. Dia tau bahwa wanita itu lemah. Hanum butuh dia. Itu yang ada di otak Daffin.
"Cepat pulang, aku kangen sama kamu." ucap Hanum.
Daffin terdiam sesaat. Saat ini dia merasa sedang menikmati perjalanannya berdua dengan Mezza. Dia merasa mulai sayang dengan Mezza. Akan tetapi dia tidak bisa bohong dai juga masih menyayangi Hanum..Hanum wanita lemah yang gampang di tindas oleh orang lain. Keluarganya yang miskin membuatnya selalu di bully.
Saat ini Hanum bekerja sebagai sekretaris di salah satu perusahaan. Dia kuliah dari hasil jerih payahnya. Daffin merasa bahwa dia harus di samping Hanum setiap saat. Apalagi trauma Hanum yang pernah di tinggalkan oleh ayahnya sejak kecil. Daffin sudah berjanji akan menjaga Hanum sampai kapanpun.
Daffin sudah membulatkan keputusannya. Dia berjalan menuju kamar. Dia melihat Mezza sedang tersenyum melihat pandangan.
"Ca besok kita harus pulang." ucapan Daffin membuat Mezza kaget. Mereka yang rencananya seminggu di sini ternyata harus pulang lebih awal.
"Kenapa?"
"Tadi ada pekerjaan urgent, Alfa tidak bisa mengurusnya, makanya Alfa menelpon." ucap Daffin berbohong.
"Baik."
...****************...
__ADS_1