Cinta Dafizza

Cinta Dafizza
Part 6


__ADS_3

Mezza POV


Aku merenggut di dalam mobil saat perjalanan menuju rumah kakek. Bagaimana tidak bisa - bisanya lelaki ini membuat aku kesal minta ampun. Udah tau aku minta tolong masa dia tidak mau menolongku.


Untung saja dia ganteng jika tidak maka lihat aja apa yang terjadi. Apa! dia ganteng, tidak hatiku tidak boleh mengatakan bahwa dia ganteng. Banyak yang lebih ganteng daripada dia, tapi tidak ada yang nyangkut di hatiku sampai saat ini.


Dia saat ini hanya fokus menyetir sedangkan Aya yang duduk di belakang sepertinya melanjutkan tidurnya.


Setelah mobil yang ku tumpangi telah sampai di depan rumah kakek, aku melihat sudah banyak orang berdatangan. Rumah itu nampak ramai sekali.


Aku melihat Tante Dita dan om Bian sibuk melayani tamu yang datang. Aku masuk kedalam rumah tapi tidak menemukan uncle Amar ataupun Tante Bella. Apa mereka belum sampai di rumah tanyaku penasaran.


"Yang sabar ya sayang." ucap Tante Dita menghampiri aku yang duduk melamun.


"Tante, mama dan papa nggak apa-apakan?"tanyaku masih kuatir keadaan mama.

__ADS_1


"Nanti kita tanya sama Tante Bella atau yang lain ya."


"Kapan mereka sampai Tan?"


"Mereka sudah di jalan dari bandara, sabar ya." ucap Tante Dit menghiburku.


Tante Dita memelukku dengan hangat. Aku tau bahwa wanita satu ini memang terlalu baik kepadaku. Aku bersaksi bahwa dia adalah wanita baik. Tapi tidak dengan anaknya, begitu mengesalkan anak sulungnya itu.


Aku berdiri ketika melihat ambulan masuk ke perkarangan rumah. Banyak mobil yang mengiringi mobil ambulan. Nampak uncle Amar turun dari Ambulans dengan mata sudah bengkak. Begitu juga dengan Tante Bella aunty Ami dan nenek.


Aku menyampiri Tante Bella untuk memeluknya. Tante Bella lansung memeluk aku balik. Aku merasakan bahwa wanita ini kembali menangis.


"Tente gimana dengan papa dan mama." tanyaku menangis.


"Papa dan mama kamu....." ucapan Tante tidak sampai karena menangis.

__ADS_1


"Kenapa Tante?" tanyaku menangis semakin kuat.


"Meme, mama dan papa nggak apa-apa." ucap om Alan menenangkan aku.


"Bohong, om bohong, jika mama dan papa nggak apa-apa nggak mungkin nggak ikut kalian pulang." ucapku agak marah mendengar kebohongan ini.


Uncle Amar melirik ke arahku setelah dia baru saja membantu meletakkan mayit kakek. Dia menghampiri aku lalu membawanya kedalam pelukannya.


"Uncle tau kamu sedih, tapi percayalah mama dan papa kamu akan baik - baik aja, sekarang kita urus dulu pemakaman kakek ya, kasian kakek jika nggak di kubur secepatnya." ucap uncle Amar dengan tenang.


Aku hanya diam mendengar penjelasan uncle Amar. Aku penasaran dengan nasib kedua orang tuaku. Akan tetapi uncle Amar ada benarnya juga. Keluarga kami harus fokus satu - satu terlebih dahulu.


Setelah mayit sudah di masukkan kedalam rumah, tanpa diletakkan. Aku paham karena ini memang terlalu lama. Dengan menggunakan jet pribadi keluarga membuat ini lebih cepat dari pesawat komersial.


Aku hanya banyak diam tanpa bertanya apa - apa. Belum ada yang bercerita satupun dari sepupuku tentang kedua orang tuaku. Entah apa yang terjadi di sana. Aku semakin kesal ketika adik - adikku tidak bisa di hubungi.

__ADS_1


Aku menangis ketika kakek sudah di masukkan oleh uncle Amar dan om Alan. Aku melihat orang-orang mulai menimbun tanah. Hatiku semakin hancur karena aku tidak akan bisa lagi melihat kakek. Aku sudah berusaha menahan tangis ini. Akan tetapi aku tetap menangis. Tiba-tiba seseorang merangkul diriku dari sambil sambil berusaha menenangkan aku. Dia adalah lelaki yang paling sering membuat ku kesal yaitu Daffin Arkarna.


__ADS_2