Cinta Dafizza

Cinta Dafizza
Part 66


__ADS_3

Daffin sudah berada di kediaman Mezza. Hari ini dia berjanji akan menjemput Dafizza dan akan membawanya ke kediaman Arkarna.


Dafizza sangat senang dengan kedatangan Daddynya. Dafizza yang selama ini tidak pernah merasakan kasih sayang Daddynya selalu nampak nempel. Mereka berdua sudah seperti perangko jika sudah berdua.


"Daddy akhirnya datang."


"Pasti dong, Daddy kangen sama princess Daddy, gimana dong?" ucap Daffin berjongkok di hadapan Dafizza.


Mezza merasa aneh saja melihat sikap Daffin. Dia belum pernah melihat Daffin selebai ini kepadanya. Tapi ketika bersama Dafizza, laki - laki ini hangatnya luar biasa dan juga lebai.


"Fi juga kangen sama Daddy." ucap Dafizza mencium pipi kanan Daddynya.


"Sayang pipi kiri Daddy cemburu, katanya pingin di cium fi juga." ucap Daffin menunjuk pipi kirinya.


Dafizza juga mencium pipi kirinya.


"Bibirnya mau juga Daddy?"


"Nggak boleh nak, itu hanya mami yang boleh cium." ucapan Daffin membuat Mezza memandangnya melotot.


"Kok cuma mami dad, padahal mami sering cium semua wajah fi."

__ADS_1


"Tapi nggak boleh sayang, nanti mami protes sama papi jika kepunyaan mami di ambil." ucap Daffin lagi.


"Jadi nggak boleh ya dad?"


"Ya nggak, termasuk bibir orang lain ya." nasihat Daddynya.


"Ya Daddy." jawab Dafizza bergelayut di lehar Daffin.


Sedangkan Mezza dari tadi menatap Daffin dengan tatapan membunuh.


"Mami kami izin pergi ya, tapi jika mami ingin bersama kamu juga nggak apa-apa kok." 7cao Daffin tersenyum jahil.


"Silahkan pergi Daddy." jawabnya dengan mata masih melotot menahan emosi.


Daffin meninggalkan Mezza yang masih saja berdiri menatap punggung Daffin.Mereka masuk kedalam mobil yang di kendarai oleh sopir Daffin.


Mobil melaju menuju kediaman Arkarna.Tidak sampai 30 menit mereka sampai di kediaman utama Arkarna.


Mereka berbincang sambil berjalan menuju kamar Daffin.


"Pasti mama bakalan pergi dengan papa Rey dad." adu Dafizza.

__ADS_1


"Mereka sering pergi?" tanya Daffin berhenti lalu berjongkok di hadapan anaknya.


"Iya dad, fi sayang sama papa Rey, tapi fi lebih sayang sama Daddy." ucap Dafizza membuat Daffin tersenyum senang.


"Fi mau papa Rey jadi Daddy sambung fi?' tanya Daffin mencoba mempengaruhi anaknya.


"Apa Daddy sambung dad?"


"Dad akan di gantikan, Daddy sedih jika dad akan di gantikan oleh papa Rey, nanti pasti fi tinggalnya di rumah papa Rey, lalu kita jarang bertemu." ucap Daffin memasang wajah sedih.


"Fi nggak mau, fi mau sama Daddy terus, Daddy keren sih."


"Makanya kita berdua harus punya misi yang sama, kita ganggu mami terus jika sama papa Rey, tapi Fi nggak boleh bilang bahwa Daddy yang ajari." ucapan Daffin berakhir dengan sebuah benda melayang di kepalanya.


"Omata? kenapa Daddy dipukul?" tanya Dafizza sedih melihat Daddynya di pukul oleh Omanya.


"Itu karena Daddy fi nakal makanya Oma pukul, dia udah besar tapi masih nakal." ucap Dita marah kepada anaknya yang bisa - bisanya memanfaatkan cucunya.


"Daddy nggak nakal kok Oma, jangan pukul Daddy lagi ya Oma,janji." ucap Dafizza lansung menautkan jari kelingkingnya ke kelingking Omanya.


"Iya." jawab Dita menahan emosi.

__ADS_1


Dita menyadari bahwa pengaruh Daffin luar biasa bagi Dafizza. Dia bahkan tau bahwa bahwa Daffin memang punya pengaruh besar sama seperti Abian. Jika Abian tidak mendoktrin Dafizza secara perlahan kepada Dafizza, bisa jadi Dafizza takut saat pertama kali berjumpa Daddynya. Dita tersenyum lagi melihat kedekatan mereka karena doktrin yang positif.


__ADS_2