Cinta Dafizza

Cinta Dafizza
Part 100


__ADS_3

Momo kembali kesal melihatnya sikap Rey yang seenaknya. Dia masih penasaran kenapa Rey masih tidak bisa mencintainya padahal dia sudah tidak manja lagi.


Setelah ketahuan menjadi sopir taksi online, Rey melarangnya. Bahkan Rey juga menghapus aplikasi tersebut. Rey marah kepada Momo setelah kejadian ciuman di mobil itu.


Saat ini Momo hanya Fokus kepada kuliahnya yang sudah terbengkalai. Syarat dari Rey adalah dia harus menyelesaikan kuliahnya tahun ini juga. Jika tidak selesai maka Rey akan meninggalkannya.


Momo telah selesai bimbingan dengan pembimbingnya. Menyelesaikan skripsi membuat otaknya jungkir balik.


"Pulang mo?" tanya Riko menghentikan mobilnya.


"Malas, maunya pergi ke kafe gitu, mau ngopi, stress."


"Hahahaha, tenang kamu pasti selesai skripsinya."


"Kamu gimana?" tanya Momo.


"Aku udah di setujui pembimbing pertama, tinggal cari pembimbing kedua." jawab Riko.


"Mantap, aku sampai sekarang masih belum ACC."


"Ya udah, yuk ngopi, kayaknya kamu butuh refreshing." ajak Riko.

__ADS_1


"Baik, aku nebeng mobil kamu aja ya." ucapnya kepada Riko.


"Yakin mobil low tinggal di sini?" tanya Riko memastikan lagi.


"Iya, nggak apa-apa, yuk." jawab Momo masuk ke mobil Riko.


Mobil melaju ke kafe xx. Kafe ini berada di pusat kota. Tidak jauh dari kampus, kantoran dan rumah sakit.


Saat Momo turun dari mobil ada sepasang mata memperhatikannya. Momo tidak sadar akan hal itu.


Baru saja turun, tiba - tiba Momo di serang oleh seorang lelaki. Rey yang memperhatikan hal tersebut lansung mengejar Momo.


Rey lansung menghantam lelaki itu sehingga tersungkur. Riko yang melihat kejadian lansung berlari membantu.


Di sana terjadi perkelahian antara Rey dan lelaki itu. Rey bisa melumpuhkan lelaki itu si bantu oleh Riko.


Warga yang melihat awalnya juga takut ikut campur. Teman Rey yang ada di sana juga ikut membantu sehingga lelaki itu bisa di amankan.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Riko kuatir dengan temannya. Dia kuatir jika terjadi apa-apa dengan anak konglomerat itu.


"Aku nggak apa-apa." ucap Momo ketakutan.

__ADS_1


"Kamu udah aman, kamu nggak apa-apa." ucap Riko mencoba menenangkan Momo.


Lelaki itu membawa Momo kepelukannya. Rey yang melihat itu menjadi panas sendiri. Dia tidak habis pikir dengan sikap istrinya yang tidak menjaga Marwah dirinya.


"Bisa lepasin istri saya." terdengar suara maskulin.


"Istri loe?" tanya Riko sambil tersenyum mengejek.


" Iya, dia istri gue." jawab Rey menarik tangan Momo dengan kasar.


" Hey jangan kasur begitu dong." Riko tidak terima Momo di tarik secara kasar.


"Aku nggak apa-apa ko, maaf kita lain kali ngopi bareng." ucap Momo masih tidak ingin melihat keributan.


"Hei aku akan bunuh kamu perempuan jahanam, semua gara - gara dokter di rumah sakit bapak Lo, jika saja rumah sakit Lo menangani papa saya dengan baik pasti selamat, rumah sakit apa yang tidak bisa menyembuhkan papa saya." ucapnya membuat Momo semakin takut.


" Hey bung selamat mempertanggungjawabkan perbuatan Lo di penjara, satu pesan gua, dokter hanya membantu, urusan nyama memintalah kepada Tuhan." ucap Rey memeluk Momo yang menggigil ketakutan.


Polisi datang dengan cepat. Lelaki itu di bawa ke kantor polisi. Rey dan Riko bersedia untuk menjadi saksi jika diminta oleh pihak kepolisian.


"Kita pulang saja." ucap Rey membawa Momo ke mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2