Cinta Dafizza

Cinta Dafizza
Part 87


__ADS_3

Daffin sudah masuk kerja seperti biasa. Dia semakin semangat saat berangkat bekerja. Senyuman tidak lepas dari wajahnya. Bibirnya sellau melengkung di sepanjang jalan.


Semenjak Daffin merasakan kembali cintanya, orang yang paling di untungkan adalah Alfa. Lelaki yang menjabat sebagai asisten dan sahabatnya agak lega sedikit. Setidaknya emosi bosnya sudah ada yang menjinakkan.


Pagi ini Alfa mengendarai mobil Daffin. Dia melihat dari kaca spion bahwa Daffin masih tersenyum - senyum. Alfa menggelengkan kepalanya.


"Apa begitu jatuh cinta? ternyata jatuh cinta kayak orang gila." ucapnya dalam hati.


"Kamu mengatai aku gila?" tanya Daffin ketika melihat ekspresi wajah Alfa.


"Mana berani saya bos." jawab Alfa ketika bosnya bisa menebak isi kepalanya.


"Makanya jatuh cinta."


"Cukup mencintai diri sendiri dulu bos."


"Ah kamu nggak pernah berubah, dari dulu aku bilang jangan terlalu takut untuk jatuh cinta."


"Bos kayaknya mulai suka menasehati yang bukan job desk bos deh."ucap Alfa dengan malas.


"Oke oke, aku nggak akan ikut campur."


Mobil telah sampai di kantor Arkana Group. Daffin dan Alfa berjalan dengan elegan melewati para karyawan Arkarna Group. Mereka masuk melewati lift yang biasa di gunakan khusus untuk bos besar.


Mereka lansung keruangan masing-masing. Karena memang tidak ada pekerjaan yang sedang di diskusikan berdua.

__ADS_1


Daffin berjalan menuju ruangannya. Dia melihat sudah ada sekretarisnya di mejanya. Ketika Daffin lewat sang sekretaris lansung membungkukkan badannya pertanda memberi penghormatan.


"Hari ini apa ada meeting di luar?" tanya Daffin berhenti di depan meja sekretaris.


"Nggak ada pak, Tadi ada proposal yang harus bapak periksa dan tanda tangani." lapor sekretarisnya.


"Oke, terima kasih." jawabnya sambil tersenyum meninggalkan sekretaris.


"Tumben senyum, biasa masam aja." gumam sekretaris agak lega.


"Apa kesurupan kali ya." gumamnya lagi sambil duduk.


"Hati - hati ngomong, nanti bisa potong gaji." ucapnya dari balik pintu lalu menutup pintunya.


Sang sekretaris lansung tersenyum gugup.


"Kira - kira pagi ini dia ngapain ya?" tanya Daffin sambil mengeluarkan ponselnya.


"Apa dia sedang operasi?" tanyanya lagi.


"Huhhhhh kenapa selalu ada kamu di sini." ucapnya tersenyum memegang dadanya.


"Jadi pengen cepat-cepat rujuk sama dia, apa nanti siang aku ke tempat dia aja." ujarnya lagi.


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Daffin segera berpura-pura sibuk. Karena dia tau yang masuk tanpa ketuk adalah papanya atau mamanya atau si Alfa asistennya yang kadang kurang ajar kepadanya.

__ADS_1


"Sibuk ya?" terdengar suara lembut yang sedang dalam pikiran Daffin saat ini.


"Eca, kamu di sini? ngapain?" tanya Daffin sangat senang.


"Ganggu ya? ya udah aku sebentar aja." jawab Mezza merasa tidak enak hati karena datang di waktu yang salah.


"Nggak kok, sini sayang, aku senang banget kamu kesini." ucapnya sambil berjalan menuju Mezza.


Daffin langsung menarik tangan Mezza membawanya ke dalam pelukan lelaki itu.


"Kamu datang di waktu yang tepat, aku sedang memikirkan kamu." ucapnya menghirup aroma tubuh Mezza.


"Udah ah, aku datang membawakan sarapan dari mama." ucap Mezza mencoba melepaskan pelukan lelaki itu.


"Kamu nggak kangen aku?" tanya Daffin.


"Ya kangen lah, jika nggak mana mau aku bawain ini kesini." ucapnya sambil malu-malu.


"Jika kangen biarkanlah seperti ini sebentar." ucap Daffin.


"Kamu udah sarapan?"


"Diam dulu sayang, mari kita lepaskan kerinduan kita dulu." ucap Daffin.


ceklek ( suara pintu terbuka).

__ADS_1


"Daf hari ini......." Abian kaget melihat anaknya dengan anak sahabatnya.


Mereka berdua juga kaget saat melihat Abian sudah berdiri di pintu. Mezza segera melepaskan pelukan Daffin. sedangkan Daffin segera memasang wajah datarnya.


__ADS_2