
"Apa yang kamu lakukan Eca?" tanya Daffin emosi melihat apa yang ada di depannya.
Mezza dan Rey terkejut mendengar suara Daffin. Mezza segera menjauhkan diri dari Rey. Hatinya sedang kacau sehingga malas jika harus adu mulut.
Mezza lansung berjalan mengambil tasnya dan lansung berjalan meninggalkan ruangannya tanpa bicara. Dia hanya pergi melenggang tanpa bicara sama kedua lelaki yang ada di ruangan itu.
Daffin mengikuti Mezza dari belakang. Ia takut jika masih ada keluarga pasien yang masih menunggunya.
Ketika mereka tidak jauh berjalan dari ruangan Mezza, uncle Amar juga datang menghampiri Mezza. Ia tau jika papanya Mezza tidak akan menjumpai anaknya didepan umum demi kenyamanan bersama.
"Daffin untung kamu datang, ajak Mezza lewat rooftop rumah sakit, papanya telah menyediakan helikopter di atas." ucap Amar.
Daffin merasa sangat bodoh kala ini. Bisa - bisanya dia tidak menyiapkan segala sesuatunya padahal keluarganya orang terkaya nomor 1 di negara ini.
"Ya uncle, terima kasih."
"Hei dia adalah keponakan ku tertua, nggak mungkin uncle biarin dia sendirian melewati semuanya, dan jika kamu yang menyakitinya maka aku yang akan duluan memberimu pelajaran." ucap Amar membuat Daffin terdiam.
Daffin memang tau sendikit dari cerita uncle Amar dari neneknya Mezza. Menurut neneknya bahwa diantara semua anaknya uncle Amar lah yang paling nakal. Tapi beliau jugalah yang paling gaul dan sangat menyayangi keluarganya.
__ADS_1
Daffin membawa Mezza berjalan menuju rooftop rumah sakit mengikuti uncle Amar. Dia tidak ingin terjadi hal yang tidak di inginkan. Dia ingin semua di selesaikan dengan prosedur hukum karena ia tau Mezza tidak akan membuat kesalahan yang fatal.
Mereka berduamenaiki helikopter yang sudah di sediakan oleh papanya Mezza. Sedangkan uncle Amar kembali turun untuk menyelesaikan masalah. Mezza hanya diam sepanjang perjalanan. Bahkan ia enggan menengok wajah Daffin.
Hatinya sangat sakit jika melihat lelaki itu. Melihat lelaki yang membohonginya beberapa Minggu ini. Dia yakin bahwa perubahan lelaki ini adalah baliknya mantan kekasihnya.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Daffin di atas helikopter.
"Aku nggak apa-apa, nggak usah sok peduli begitu." jawab Mezza ketus.
"Sok peduli? hei aku dari kantor cemas mikirin kamu, dan kamu bilang aku sok peduli, nyesal aku ke sana buru - buru."
"Bagusnya memang kamu nggak kesana, toh tanpa kamu papa dan uncle ku sudah memikirkan semuanya."
"Orang jika gampang menuduh orang, bisanya dia pelakunya."
"Maksud kamu apa?"
"Bisa jadi kamu yang melakukan itu? kan kita nggak tau selama ini." ucap Mezza dengan senyum mengejek.
__ADS_1
"Aku nggak ngerti dengan ucapan kamu."
"Ya udah lupain aja, aku capek."
Helikopter mereka sudah mendarat di rooftop rumah orang tua Mezza. Galuh memang sengaja membawa anaknya kerumahnya. Ia tau jika Daffin bisa memberikannya perlindungan, akan tetapi dia hanya begitu kuatir dengan anaknya.
"Ayo kita pulang." ajak Daffin.
"Maaf tuan, menurut tuan Galuh Mezza untuk sementara tinggal di sini sampai kasus ini selesai." ucap ketua body guard mereka.
"Saya bisa melindungi istri saya, bilang sama papa Galuh saya punya hak di sini, saya akan bawa Mezza ke rumah utama Arkarna."
"Kami hanya menjalankan tugas."
"Aku mau pulang kerumahmu, dengan syarat biarkan aku bertemu dengan Alfa di depan mama."
"Buat apa?" tanya Daffin.
"Jika kamu tidak bersedia maka biarkan aku di sini, aku capek."
__ADS_1
"Baik, ayo pulang." ucap Daffin ingin membawa Mezza.
"Aku menemui mama dulu sebentar, mama pasti cemas dengan aku." ucap Mezza berjalan ke dalam rumah mencari keberadaan mamanya.