
Mezza berjalan lagi - lagi di gandeng oleh Daffin. hal ini membuat Daffin seperti posesif sekali dengan Mezza. Daffin tidak menyadari dengan apa yang di lakukannya membuat jantung Mezza hendak keluar.
Sepanjang perjalanan keduanya nampak canggung. Tidak sampai 30 menit keduanya telah sampai di kediaman orang tua Mezza.
Mezza agak kaget ketika melihat banyak mobil di rumahnya..Dia bertanya-tanya dalam hatinya.
"Kok rame?" tanya Mezza kepada Daffin.
"Harusnya aku yang tanya?"
"Apa mungkin mata - mata sedang berkumpul."
Daffin yang mendengar ucapan Mezza lansung menowel hidung Mezza.
"Itu mobil orang tuaku."
"Kan memang orang tua kita mata - mata."
"Artinya mereka senang dengan hubungan kita, bagaimana kita wujudkan kegembiraan mereka." ucap Daffin tersenyum ke arah Mezza.
Langkah Mezza terhenti mendengar ucapan Daffin.
"Apa aku tidak salah dengar?"
"Tidak, kita bisa mencobanya."
"Kamu yakin?"
"Jika kamu bersedia maka aku yakin seyakin-yakinnya, kapan lagi kita bisa mewujudkan impian orang tua kita."
"Tapi apakah berpura-pura baik?"
__ADS_1
"Siapa yang mengajak berpura-pura, ayo menikah denganku." ucap Daffin dengan serius.
"Masa melamar nggak ada romantisnya." ejek Mezza.
"Mau yang romantis, baik." ujar Daffin menarik tangan Mezza kedalam rumah.
Mereka melihat kedua keluarga sedang asik berbincang. Entah apa yang mereka bicarakan.
"Pa, ma, om dan Tante, saya mau menikahi Eca." ucap Daffin membuat semua terdiam.
Daffin berjalan kearah mamanya lalu mengambil suatu benda.
"Mezzaluna Dazuri Kusuma maukah engkau menjadi istriku." ucap Daffin berlutut di depan Mezza.
Mezza lansung menutup mulutnya karena tabjuk melihat Daffin. Dia tidak menyangka bahwa Daffin akan melakukan hal seperti ini.
"Jika kamu mau silahkan ambil cincin ini." ucap Daffin menyodorkan sebuah cincin dalam kotak.
"Akhirnya kesampaian juga." ucap Siska.
"Besanan kita." ucap Dita antusias.
"Kalian serius?" tanya Abian papa Daffin dengan dingin.
"Kok papa kayak gitu sih ekspresinya? bukannya senang." ucap Dita mencubit tangan suaminya.
"Ini pernikahan bukan main - main rumah tangga, jadi kalian harus pikirkan dengan matang." ucap Abian masih kurang yakin dengan Daffin.
"Jika nggak serius nggak mungkinlah mereka ngomong seperti ini." ujar Siska.
"Tapi apakah ini nggak mendadak?" tanya Abian lagi.
__ADS_1
"Kok mendadak sih, mereka itu udah lama menyukai loh, iyakan pa." ucap Siska meminta persetujuan kepada Galuh.
"Eh mungkin." jawab Galuh yang tidak ingin Daffin atau keluarganya mengetahui sesuatu.
"Kok mungkin sih, bena..." ucap Siska terpotong karena di tutup mulut oleh Galuh.
"Apaan sih?" tanya Dita kesal karena ucapan Siska tidak sampai.
"Nggak apa-apa." ucap Siska tersenyum.
"Kalian harus yakin karena pernikahan sakral, tidak untuk di permainkan atau pura - pura." ucap Abian.
"Jadi om tidak setuju dengan hubungan kami?" tanya Mezza menatap Abian.
"Bukan begitu maksud om ca, kamu tau jika om tidak pernah memaksa dengan siapa Daffin berjodoh, yang penting bagi om dia mencintainya."
"Jadi menurut mas Daffin nggak mencintai Mezza?" tanya Dita manyun kepada suaminya.
"Bukan seperti itu sayang, mas hanya bertanya apakah mereka serius."
"Tentu aja serius, jika tidak nggak mungkin Daffin nelpon kita agar membawa cincin kesini pa."
"Sayang kok kamu terus yang jawab, mas tanya mereka loh."
"Kamu serius kan Daf?" tanya Dita dengan lembut kepada anaknya.
"Serius ma, nggak mungkinkan Mezza mau Daffin ajak main rumah - rumahan." ucap Daffin.
"Iya om, Eca juga serius." ucap Mezza.
"Alhamdulillah." ucap semuanya lega.
__ADS_1