
Dea dan Zia lalu memeluk Rina untuk menenangkannya karena mereka melihat air matanya terus mengalir karena perkataan Bella.
Bella rasanya ingin menarik Rani keluar dari kamar Audrey. Ia muak melihat wajah kampungan yang sedang menangis itu.
Apa sih yang mereka lihat dari perempuan ini, sampai mau diajak bergabung ? batin Bella gak senang.
" Bel ... kita semua berteman bukan karena status. Lo pasti tahu itu. Gue mau berteman sama kalian karena gue nyaman dan tahu kalau Lo, Zia dan Dea adalah orang baik. Begitu juga dengan Rina, gue tahu kalau dia juga baik, sama seperti Lo." Audrey akhirnya mengucapkan sesuatu setelah melihat Bella tetap belum bisa menerima Rina.
" Tapi, Drey ....dari mana Lo bisa yakin kalau dia baik, sedangkan kita baru aja kenal tadi sama dia.
Bisa aja dia sengaja pura - pura baik biar kita tertipu terus dia manfaatkan kesempatan buat ngambil keuntungan, terutama dari Lo." bantah Bella gak terima.
" Bel , gue sangat yakin sama yang di ajarkan orang tua gue, kalau kita baik ke orang Insya Allah balik ke kitanya juga baik.
Kalaupun kalau kita sudah baik tapi orang itu punya niat yang jahat sama kita, ada Allah yang akan melindungi kita. " ucap Audrey lembut.
Bella merasa tertampar dan tersindir mendengar ucapan Audrey. Bella tiba - tiba takut kalau Audrey tahu apa yang sedang dia rencanakan dengan Reno. Ia pun langsung merubah wajahnya yang tadi penuh amarah, berubah seperti biasanya. Ia harus pura - pura bisa menerima kehadiran Rina diantara mereka agar Audrey senang.
Supaya Audrey tidak curiga padanya.
" Baiklah, Drey ... maaf, gue salah.
Syukur Lo ingatin. " Bella berpura - pura baik sambil mengembangkan senyumnya.
Audrey memeluk Bella dengan sayang. Ia senang karena Bella menyadari kesalahannya.
" Gue tahu, Lo orang baik Bel ... " ucap Audrey lalu melepas pelukannya.
Bella yang di peluk Audrey cuma mendengus dalam hati. Ia ingin rencana Reno secepatnya di jalankan agar ia tidak harus berlama - lama bersikap seperti ini pada Audrey.
" Thanks, Drey ... Maafin gue juga, karena telah menghina Lo. Semoga kita bisa jadi teman baik."
Bella memasang wajah ramah pada Rina.
Rina yang orangnya memang terlahir baik, mendengar permintaan maaf dari Bella langsung menganggukkan kepalanya.
" Ya, maafin aku juga. Mungkin sikapku tadi yang buat kamu gak suka sama aku." balas Rina tulus.
Bella mendatangi Rina, lalu memeluknya. Ia harus total bersandiwara agar tidak ada yang curiga kalau ia cuma berpura - pura menerima Rina.
" Makasih, benar mereka bilang kalau kamu baik orangnya." ucap Bella tersenyum.
" Makasih juga buat kamu, karena sudah mau menerima aku jadi teman. " jawab Rina, tapi ia merasa kalau Bella tidak berkata dengan tulus.
Bella menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan Rina.
" Nah, gitu dong. Ini baru sahabat gue. " Zia, Dea dan Audrey memeluk Bella.
" Sini, ikutan Rin ... " Audrey memanggil Rina yang hanya berdiri dekat mereka.
Akhirnya mereka berlima berpelukan dengan wajah terlihat bahagia. Terutama Rina, ia berusaha terlihat senang akhirnya bisa di terima oleh Bella.Walau hatinya belum yakin Bella secepat itu bisa berubah sikapnya pada Rina. Sedang Bella yang pura - pura terlihat bahagia, padahal hatinya mengumpat sejak tadi.
Setelah puas berpelukan, mereka akhirnya duduk di sofa kembali.
" Drey, gue pakai gaun yang mana ? " tanya Bella begitu melihat tiga gaun yang indah milik Zia, Dea dan Rani sudah terletak di tempat tidur Audrey.
" Lo pilih aja sendiri, Bel ... Zia sama Dea tadi milih sendiri juga."
Audrey menyuruh Bella.
" Ok, deh ... " Bella lalu berjalan dengan semangat keruangan khusus tempat Audrey menaruh pakaian dan lainnya.
" Gaun Lo mana, Drey ... gue kog belum lihat pilihan Lo ? " tanya Zia penasaran.
" Nanti aja Lo liat, sekarang pada mandi dulu. Lo bawa Rina ke kamar sebelah ya, Zi ... biar gue sama Dea gantian mandi disini." ucap Audrey.
" Okey, honey ... " sahut Zia.
" Yuk, Rin ... kita mandi di kamar sebelah. " ajak Zia pada Rina.
" Baik ... " Rina lalu bangkit dan mengikuti langkah Zia keluar dari kamar.
Rina terkejut begitu melihat ada dua orang pelayan yang sudah menunggu mereka di kamar yang di sediakan Audrey buat mereka.
Kamarnya juga bagus dan mewah, hanya sedikit lebih kecil dari kamar Audrey.
" Ini, non ... handuk bersih dan peralatan lainnya. Selesai mandi, pakai baju ini ... " ucap pelayan sopan sambil membungkuk.
" Gak usah panggil, non ya ... kayanya kita seumuran. Panggil nama saya saja, Rina ... " kata Rina gak enak hati.
Zia tersenyum mendengar omongan Rina. Ia semakin suka dengan sikap Rina.
" Gak sopan, non ... Nona berdua teman dekatnya nona Audrey.
Walaupun non Audrey juga sering menyuruh kami di sini untuk menyebut namanya saja tanpa pakai embel - embel non, kami yang gak enak. Karena kami bekerja disini. Jadi, gak papa non ... kami akan tetap manggil nona berdua sama seperti kami memanggil nona Audrey." salah satu pelayan memberikan alasannya.
" Udah, Rin ... biarin aja. Mereka cuma jalanin tugas. Tapi ingat ya kalo ketemu di luar panggil nama kami saja. " Zia menengahi.
" Baiklah, non Zia ... " jawab mereka berdua.
" Rin, Lo duluan mandi biar gue bisa rebahan bentar." Zia lalu meletakkan tubuhnya di kasur.
" Ya ... " jawab Rina lalu masuk kedalam kamar mandi.
Ia bingung begitu melihat tidak ada ember ataupun gayung untuk mandi di kamar mandi tersebut.
__ADS_1
" Zia, kemari bentar boleh ? " Rina memanggil Zia dari depan pintu kamar mandi.
" Ada apa, Rin ?" tanya Zia begitu sudah di dekat Rina.
" Masuk, kedalam dulu ya ... " Rina menggandeng lengan Zia masuk.
" Elo mau apa ? " tanya Zia heran.
"Gak ada gayung sama ember disini. Gimana caranya gue mandi ? " tanya Rina bingung.
" Hah, hahahaha .... " Zia gak bisa menahan ketawanya begitu mendengar omongan Rina.
" Ih, kog malah ketawa. " sungut Rina.
" Abis Lo itu lucu banget. Disini mana ada gayung ataupun ember yang kaya Lo sebutin tadi. " sahut Zia masih tertawa.
" Jadi gimana gue mandinya ? " tanya Rina tambah bingung.
" Gini ya, Lo pakai ini .... " Zia lalu menjelaskan cara memakai shower dan lainnya.
" Udah ngerti kan ? " tanya Zia buat memastikan.
" Udah, makasih, Zi ... " jawab Rina menganggukkan kepalanya.
" Cepetan mandinya biar bisa gantian." perintah Zia.
" Iya ... " jawab Rina.
Setelah Zia keluar dari kamar mandi. Rina langsung mengunci pintu dan membuka pakaiannya dan mandi. Tubuhnya terasa segar, sabun, shampo, conditioner dan peralatan mandi lainnya tersedia dengan lengkap.
Zia masih tertawa kecil mengingat kepolosan Rina.
Sementara hingga Audrey sudah selesai mandi, dan di gantikan oleh Dea.
Bella belum juga selesai memilih gaun yang akan di pakainya.
Ia sibuk mencoba beberapa gaun yang disukainya. Bahkan ia memakai perhiasan yang ada di situ. Rasanya ia ingin memakai ini semua.
Berapa lama lagi ya gue bisa memiliki ini semua ? tanya Bella dalam hati.
Ah, sebaiknya gue kirim pesan ke Reno biar nanti dia juga ada di sana jadi bisa langsung kenalan dengan Audrey, biar rencana kami bisa cepat di jalankan. Terus gue bisa secepatnya menikmati apa yang di miliki Audrey ... " ucapnya dengan seringai licik yang tercetak di wajahnya.
" Bel ... Lo belum selesai juga milih gaunnya ? " tanya Audrey yang kini berada di hadapan Bella.
"Eh, belum Drey ... gue bingung nih." jawab Bella agak gugup karena ketahuan Audrey ia sedang memakai kalung dan cincin berlian milik Audrey.
" Ngapain bingung, sih ....Lo itu pasti cocok kog pakai gaun yang mana aja. " Audrey tersenyum.
" Ah, Lo bisa aja, Drey. Gak mungkinlah. Lo tuh yang pake apa aja tetap cantik. " jawab Bella balik memuji Audrey, sedangkan hatinya bangga karena pujian Audrey tadi.
" Gue pakai yang ini aja, biar tambah sexy. Jadi gitu Reno lihat nanti dia makin cinta sama gue." ucapnya yakin dalam hati setelah memilih gaun berwarna merah.
Bella lalu keluar setelah menentukan pilihannya. Tak lupa ia membawa tas bermerk G**** yang sama warna dengan gaunnya.
" Lama amat milih gaunnya, Bel ... gue kira Lo ketiduran di dalam." ucap Dea melirik Bella.
" Hee ... gue lama ya. Habisnya tadi gue bingung mau pake yang mana." jawab Bella cengengesan.
" Udah, buruan Lo mandi. Gue sama Dea mau dandan dulu. Audrey yang dandanin Rina." suruh Zia yang sudah selesai berpakaian.
" Iya, bawel ... " Bella lalu masuk ke kamar mandi.
Audrey merias Rina dengan dandanan soft sesuai dengan kulit dan gaun yang dikenakannya.
" Lo, pakai gaun apa, honey ? " tanya Zia, karena ia belum melihat dari tadi gaun yang akan dipakai Audrey.
" Nanti deh, setelah Rina selesai, baru gue pakai gaunnya. " jawab Audrey tersenyum kecil.
Sebenarnya Audrey memiliki ruangan tersembunyi yang hanya diketahui olehnya dan kedua orang tua Audrey. Ruangan itu berisi gaun - gaun mewah, yang hanya di buat khusus buat Audrey, perhiasan langka dan barang - barang penting lainnya.
Sementara tempat teman - temannya memilih gaun tadi, adalah tempat ia menaruh gaun yang ia beli dari butik atau barang - barang bermerk yang bisa di beli oleh siapapun yang memiliki uang lebih.
Audrey sudah memilih gaun berwarna merah malam ini. Ia meletakkannya di kamar kedua orang tuanya.
" Selesai ... " ucap Audrey setelah setelah berhasil memake over wajah Rina.
Zia dan Dea terperangah begitu melihat tampilan Rina. Ia terlihat sangat berbeda. Elegant, manis tapi sexy. Karena Audrey memberikan lipstik berwarna merah terang di bibir Rina, sementara make up nya soft.
" G*** ... sumpah, Lo cantik banget malam ini, Rin. Gak percuma Audrey, model handal kita dandanin Lo. Pangling banget gue ... " ucap Zia semangat.
" Iya, gue aja sampe lupa wajah Lo sebelum make up, Rin ... " Dea menambahi sambil melihat kagum.
" Ada apa, sih ... ? " tanya Bella yang baru selesai mandi.
" Lo liat sendiri aja hasil karya Audrey ... " ucap Zia lalu mendorong maju badan Rina.
Bella juga terkejut begitu melihat perubahan yang terjadi pada wajah Rina. Ia menjadi cantik dan berkelas. Wajah kampungannya tidak terlihat lagi setelah dipakaikan gaun yang mahal dan make up bermerk milik Audrey.
" Ah, tapi pasti tetap cantikan gue lah ... Secara muka gue lebih cantik dari pada pelayan kampungan ini." ucap Bella iri dalam hatinya.
" Cantik kan Rina, Bel ... ? " tanya Dea.
" Eh, iya ...." jawabnya malas.
" Tuh kan, Rin ... lo beda banget.
__ADS_1
Audrey, memang the best ... " puji Zia sambil mengacungkan jempolnya.
" Hehe ... gue turun dulu, ya ... mau pakaian juga, gaun gue dikamar mommy soalnya." ucap Audrey.
" Loh, kog bisa di taruh dikamar mommy Lo, Drey ....? " tanya Bella ingin tahu karena ia jadi penasaran gaun apa yang akan di pakai Audrey.
" Hmm ... iya, kemarin sehabis beli gue lupa bawa ke kamar. Gue kan tidur bareng sama mommy dan Daddy di kamar mereka sebelum berangkat." Audrey menjelaskan.
" Oh, gitu ... " jawab Bella singkat.
" Gue turun ya, nanti kalo udah pada selesai langsung turun aja.
Gue nunggu di bawah aja." ujar Audrey.
" Okey ... " jawab mereka serempak.
Audrey berjalan keluar meninggalkan mereka berempat.
Bella memakai gaun merah pilihannya dan memoles wajahnya dengan make up agar terlihat lebih sexy.
Dea dan Zia yang sudah selesai berdandan, kulit mereka yang putih bersih seperti Audrey terlihat cantik dengan gaun yang dipakai.
Zia memakai warna Lilac, sedangkan Dea memilih warna merah muda.
Bibir Bella sedikit naik mencibir begitu melihat penampilan mereka.
" Cantik, sih ... tapi mereka gak sexy kaya gue. " batin Bella iri.
" Turun, yuk ... kita udah selesai semua. Gue penasaran pengen liat gaun yang di pakai Audrey." ucap Zia sambil melangkah keluar kamar.
" Tunggu gue, Zi ... " Dea berlari kecil menyusul Zia.
Rina ikut keluar begitu melihat tinggal ia dan Bella saja di kamar.
Rina walau sudah memaafkan tapi ia masih merasa ada yang ganjil dengan sikap Bella.
" Sialan, gue ditinggal sendiri lagi." umpat Bella kesal, ia pun melangkah keluar dari kamar Audrey
Begitu melihat Bella keluar, langsung beberapa pelayan masuk untuk membersihkan kamar Audrey.
Bella yang sempat melihatnya sebelum melangkah jauh, hanya berkata iri dalam hati.
" Enak banget hidup Lo, Drey."
Dea, Zia dan Rani yang kini sudah berada di lantai bawah, menunggu Audrey keluar dari kamar mommy nya dengan duduk manis di sofa.
" Nona - nona cantik mau pada minum, gak ? " tanya bik Imah yang langsung datang begitu melihat sahabat Audrey, bersama dua pelayan lain.
" Boleh, bik ... jus jeruk aja. Kalian juga samakan ? " jawab Zia sambil menanyakan pada Dea dan Rina.
" Iya, bik ... samain aja. " jawab Dea dan Rina sopan.
" Eh, gue buatin kopi. " ucap Bella tanpa melihat bik Imah, lalu menjatuhkan badannya duduk di sebelah Zia.
" Baik, non ... " Bik Imah lalu berlalu menuju dapur diikuti kedua pelayan yang selalu mendampinginya.
" Bik Imah lihat kan. Si Bella itu gak ada sopan - sopan nya. Beda banget dengan yang lain." omel salah satu pelayan.
" Iya, bik ... padahal cuma tamu doang tapi sikapnya seperti yang punya rumah aja." pelayan yang satunya lagi berkata kesal.
" Hus ... udah. Nanti kalau dia dengar kalian bisa diadukan sama non Audrey. " Bik Imah berkata sambil berbisik.
Bella yang menyusul ke dapur karena mau minta dibuatkan cemilan mendengar namanya di sebut mereka seperti itu melihat dengan marah. Ia sangat benci jika ada orang yang memandang rendah padanya.
" Lihat aja, kalian yang akan gue pecat pertama jika rencana Reno berhasil." Bella berkata di dalam hati dengan penuh emosi.
Karena kesal ia kembali ke ruang tamu, gak jadi meminta cemilan kesukaannya.
" Kenapa muka, Lo ... kog kaya kesal gitu ? " tanya Zia melihat wajah Bella yang di tekuk.
" Gak ada, gue baru ingat kalo gue belum bayar uang sewa apartemen. Tadi pemiliknya telfon pas gue mau ke dapur. " jawab Bella berbohong.
" Oh, memangnya Lo belum gajian ? " tanya Dea ikutan.
" Udah, tapi harus nutupin hutang orang tua gue dulu, karena mereka di ancam mau di penjarakan kalau gak dibayar." Bella melanjutkan kebohongannya, padahal ia menggunakan uangnya untuk membeli barang - barang bermerk kesukaannya.
" Lo yang sabar, ya Bel ... nanti kita bakal bantuin buat bayar apartment Lo, deh ... " ucap Zia dan Dea bersamaan.
Rina hanya diam tapi ia memperhatikan wajah Bella yang terlihat menahan senyum begitu mendengar perkataan Zia dan Dea. Entah mengapa ia merasa tidak mempercayai Bella. Ia seperti tidak tulus seperti yang lainnya.
" Mana Audrey, ya ? kog belum ..." Dea gak jadi meneruskan perkataannya, matanya terbelalak begitu melihat Audrey yang sangat cantik dan sexy. Padahal gaun yang di kenakan nya panjang dan tertutup, bahkan lengannya juga panjang seperti yang di kenakan Dea dan Rina. Hanya bagian punggungnya yang sedikit terbuka.
Zia, Bella dan Rina melihat Dea terdiam dan terbelalak, ikut melihat kearah yang sama dengan yang dilihat Dea.
Zia dan Rina langsung berdiri melihat Audrey yang terlihat mempesona.
" Sumpah, cantik banget plus sexy Lo, honey. Gak salah memang kalau Lo jadi idola di mana - mana. Gue aja yang teman Lo masih suka heran ada gadis yang sesempurna elo. Udah cantik, kaya, pintar, baik, sexy lagi. Bel, kali ini Lo kalah sexy sama Audrey. Tertutup gini aja dia kelihatan sexy, gimana kalau pake baju terbuka kaya Bella, ya ... ?Kalau gue cowok mungkin akan ngejar Lo sampai dapat. " Zia memuji Audrey dengan tatapan kagum.
Begitu pula dengan Rina, ia hanya melihat Audrey dengan tatapan terpesona. Ia membenarkan semua apa yang di katakan Zia.
Audrey memang benar - benar sempurna.
Bella menatap dengan perasaan iri pada Audrey. Ia selalu benci jika ada yang memuji Audrey. Bella tak terima kalau Audrey dibilang lebih sexy dari dia. Padahal ia sengaja memilih gaun berwarna merah yang terbuka biar bertambah sexy.
**********************************
__ADS_1