Cinta Dan Dendam Audrey

Cinta Dan Dendam Audrey
Episode 31


__ADS_3

Setelah mereka selesai menikmati makanan yang di sajikan, Zia dan Dea memutuskan untuk menginap di mansion Audrey agar besok bisa bersama - sama ke kampus.


Tapi mereka akan pulang ke rumah mereka dulu buat mengambil perlengkapan mata kuliah buat besok. Baru mereka datang ke mansion Audrey.


Sedang Reno, mengatakan akan pergi ke kampus mereka besok agar bisa menemani Audrey.


Karena Rina besok harus pergi pagi buat pulang ke tempat kostnya bersama Rifky.


Selain itu mereka juga ingin menemui pemilik rumah yang mau mereka beli.


" Thanks ya, Reno ... udah traktir gue dan teman - teman gue makan. " ucap Audrey begitu mereka memutuskan untuk segera pulang karena besok sudah aktivitas masing - masing.


" Sama - sama, Drey ... aku yang harusnya berterima kasih, karena bisa berkenalan dengan teman - teman kamu. Kalian semua asyik diajak ngobrol. Besok, apa boleh aku datang ke kampus kalian ?


Kebetulan aku besok gak harus ke kantor. " Reno gak ingin kehilangan kesempatan untuk terus mendekati Audrey. Ia harus


secepatnya menyelesaikan misinya. Jika tidak pria tua misterius itu bisa melakukan hal yang merugikan buat dirinya dan perusahaan.


Walau di depan pria itu, Reno membangkang tapi sebenarnya ia khawatir. Ia tidak ingin jatuh miskin. Apalagi, ia juga tidak akan rugi jika bisa mendapatkan Audrey, justru ia akan semakin menambah pundi - pundi kekayaannya jika berhasil menguasai harta Audrey.


Toh, pria misterius itu hanya menginginkan kematian Audrey bukan hartanya.


Audrey memandang ke arah teman - temannya mencoba meminta pendapat mereka.


Ternyata mereka menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Hanya Rifky yang terlihat tidak senang.


" Heran, kenapa para wanita ini terlalu gampang percaya sama si Reno ini ? " batin Rifky kesal.


" Makasih ya ... Oya, kampus kalian dimana ... aku kan belum tahu kalian kuliah dimana ? " Reno pura - pura bertanya.


Zia menyebutkan nama kampus mereka. Setelah mendengar nya


Reno langsung tersenyum senang. Ternyata tidak terlalu sulit mengambil hati Audrey dan teman - temannya.


" Ya, udah ... kita pulang yuk.


Lo berdua kan harus kerumah Lo dulu baru nginap di mansion gue.


Takutnya kemalaman, lagian kasihan Rina ... besok dia harus pergi pagi." ajak Audrey.


" Eh, iya ... kita balik dulu ya, Reno ... " ujar Zia ramah.


Dea hanya menarik sudut bibirnya membentuk senyuman kecil.


" Okey, sampai jumpa besok." sahut Reno.


Serentak Audrey dan teman - temannya menganggukkan kepalanya. Setelah itu mereka pun bangkit bersamaan.


Audrey berjalan bersisian dengan Rina dan Rifky, sedang Zia dan Dea berada di belakang mereka.


Sedangkan Reno yang memutuskan untuk tidak keluar bareng dengan mereka terlebih dahulu menghubungi Bella.


Tapi ponsel Bella tidak aktif.


" Hmm ... kemana dia ? " gumam Reno curiga.


Reno pun berjalan menuju parkiran, mobilnya parkir di lantai atas.


" Ky, Lo kog diam aja sih dari tadi ? " tanya Audrey penasaran begitu mereka sudah di dalam mobil.


" Iya, Ky ... mbak lihat sejak di mall kamu terus diam. Ada yang sedang kamu pikirkan ? " Rina juga jadi penasaran melihat sikap adiknya yang tidak biasa.


" Aku gak suka lihat Reno. Aku tetap merasa dia punya niat yang gak baik buat Audrey." sahut Rifky lalu menghela nafas kasar.


" Oh, karena Reno. Kamu gak boleh gitu, Ky ... mbak juga awalnya curiga, walaupun sekarang belum terlalu percaya tapi mbak berusaha gak berpikiran buruk dengan dia. Iyakan, Drey ... " Rina berusaha membuat adiknya agar lebih berpikiran positif.


" Hmm ... benar. Curiga boleh, Ky ... tapi kita tetap harus berpikiran yang baik pada orang lain agar hasilnya juga baik buat kita. " sahut Audrey bijak.


" Terserah kalian berdua, deh ... tapi aku tetap gak bisa percaya sama dia. " ujar Rifky serius.


" Ya, udah ... tapi kalau boleh, kamu jangan terlalu kelihatan jika gak suka melihat Reno. Kamu harus bersikap biasa saja kalau ada dia. Okey, ... " Audrey mencoba memahami perkataan Rifky.


" Iya, Ky ... biasa - biasa aja kalo ada dia. " Rina menambahi perkataan Audrey.


" Ya ... " sahut Rifky singkat.


Audrey dan Rina hanya tersenyum lebar melihat tingkah Rifky yang terlihat menahan kesal.


Setelah sampai di mansion kembali, Audrey, Rina dan Rifky menunggu kedatangan Zia dan Dea, dengan santai duduk di taman belakang mansion.

__ADS_1


" Ky, Lo gak pengen berenang ? " Audrey menanyakan pada Rifky yang terus melihat ke arah kolam.


" Boleh ... ? " tanya Rifky malu karena ketahuan Audrey.


" Ya, boleh lah ... yuk kita lomba." ujar Audrey mengajak Rifky.


" Drey ... udah malam loh. Apa Lo gak capek nanti ? Besok kan Lo harus ke kampus. " Rina berusaha melarang keinginan Audrey dan adiknya.


" Gak papa, Rin ... lagian gue udah biasa renang malam hari. Kalau ada mommy dan Daddy, kami sering melakukannya karena seharian kami sibuk dengan kegiatan masing - masing. Jadi cuma malam asa waktu buat berenang." ujar Audrey menjelaskan pada Rina.


" Oh, gimana kabar orang tua Lo, Drey ... ? " tanya Rina begitu mendengar perkataan Audrey.


" Belum ada kabar, Rin ... bibi juga gak ada terima telepon dari mereka. Makanya biar gak stres, kita olah raga yuk ... Lo bisa kan renang ? " Audrey berusaha menutupi perasaan sedihnya dengan tetap menunjukkan wajah ceria di depan Rina dan Rifky.


" Gitu ya, Drey ... Lo yang sabar, ya. Mungkin orang tua Lo lagi sibuk banget, jadi belum bisa menghubungi Lo. " Rina yang mengerti perasaan Audrey berusaha menghibur walau ia gak yakin kata - katanya bisa mengurangi rasa khawatir di hati Audrey


" Hmm ... iya. Eh, Lo bisa renang juga gak kaya Rifky ? " Audrey mengalihkan pembicaraan agar jangan kelihatan sedihnya.


" Bisa dong ... anak kampung jarang gak bisa berenang. Di kampung kan banyak sungai, Drey ....jadi kami udah biasa nyemplung di sana." sahut Rina bangga. Karena memang kenyataan seperti itu. Bahkan Rina dan Rifky sering menyelam untuk mencari kepah di dalam sungai agar bisa di masak oleh ibu mereka.


" Bagus kalau gitu, sekarang kita mending renang aja dulu sambil nunggu Zia sama Dea datang." ujar Audrey.


" Okey, siapa takut ... " sahut Rina dengan senyum kecil.


Setelah mengganti pakaian mereka dengan celana pendek dan kaos oblong, mereka bertiga segera melompat masuk ke dalam kolam. Ternyata Rifky yang paling jago di antara mereka.


Walaupun Audrey sering berenang, ia bisa di kalahkan oleh Rifky. Tanpa sepengetahuan Rina, mbak nya, Rifky sebenarnya pernah menjadi atlit renang walau masih tingkat sekolahan. Ia sudah pernah juara beberapa kali dalam perlombaan antar sekolah. Seharusnya ia bisa mengikuti perlombaan di tingkat selanjutnya dan mendapatkan pelatihan tapi dengan syarat ia harus tinggal di asrama bersama atlit lainnya namun ia menolak karena tidak ingin meninggalkan Ibu nya sendiri waktu itu. Sedangkan Rina harus bekerja mencari nafkah buat mereka. Selain itu ia juga pintar membuat program di komputer walau hanya menggunakan komputer bekas temannya. Makanya ia ingin kuliah dan mengambil jurusan Ilmu Komputer dan Tehnik Informatika.


" Eh, Ky ... Lo jago berenang nya.


Kenapa gak jadi atlet aja ? " ujar Audrey sambil bersandar di dinding kolam.


Rifky terkesiap mendengar perkataan Audrey.


" Hehehe ... gak lah biasa aja. Seperti mbak Rina bilang, kami anak kampung udah biasa nyemplung di sungai jadi aku sedikit lebih mahir. " jawab Rifky dengan rendah hati.


" Hmm ... terus rencananya Lo mau ngambil kuliah jurusan apa ?"


Audrey bertanya pada Rifky.


" Pengennya sih aku ngambil jurusan Ilmu Komputer dan Tehnik Informatika. Tapi berhubung aku belum ada pekerjaan, kaya nya aku memutuskan tahun depan aja kuliah nya, biar selama itu aku nabung dulu. Jadi gak merepotkan mbak Rina. " kata Rifky dengan menatap Rina.


Audrey yang bisa melihat ke dua kakak beradik ini ikutan terharu.


Tiba - tiba terlintas ide bagus di pikiran nya buat mereka berdua.


" Hei, Lo mau kuliah kan, Ky tapi kalau Lo udah ada kerjaan ? " ucap nya semangat.


" Iya, sih ... tapi seperti nya memang harus tahun depan aja aku kuliahnya.


Karena gak mungkin juga aku bisa langsung kuliah begitu masuk kerja. Pendaftaran awalnya butuh biaya yang lumayan, kalau cuma mengandalkan gaji aja kaya nya belum bisa. Jadi biar gue nabung selama setahun ini." Rifky yang konsisten dengan keputusannya memberikan jawaban yang sama pada Audrey.


" Hmm ... kalau Lo, Rin ... pengen kuliah gak ? " kini Audrey bertanya pada Rina.


Rina langsung terdiam mendengar pertanyaan Audrey. Selama ini ia memendam keinginannya untuk kuliah di dasar hati nya paling dalam agar Ibu dan adik nya tidak mengetahui. Ia lebih mengubur keinginannya dan memilih untuk bekerja agar bisa membantu keluarga nya walau pun tidak banyak.


" Kog, Lo malah diam sih, Rin ... Lo pengen kuliah juga kan ? " Audrey bisa menduga melihat Rina yang gak bisa langsung menjawab pertanyaan nya.


" Ya, tapi itu dulu waktu gue tamat SMA, sekarang gue lebih memilih bekerja. " sahut Rina akhirnya.


" Gak usah bohong, deh ... gue tahu Lo masih ingin kuliah sama seperti Rifky, gimana kalau gue nawarin Lo berdua kuliah dengan jurusan yang kalian inginkan secara gratis tapi dengan sebuah syarat." Audrey mengulum senyum ketika mengatakan ini.


Rina dan Rifky saling bertukar pandangan ketika mendengar omongan Audrey. Mereka sebenarnya semangat begitu mendengar penawaran Audrey. Tapi apa syarat yang akan


di katakan Audrey membuat mereka sedikit berdebar.


" Syarat apa, Drey ... ? " akhirnya Rina gak sabar untuk bertanya.


" Hmm ... gue tahu Lo berdua bakalan mengatakan gue jahat karena memaksakan kehendak gue pada kalian tapi ini gue lakuin buat kebaikan kita bersama. " wajah Audrey terlihat gak nyaman saat mengatakan hal ini.


" Apa itu, Drey ... katakan aja dulu.


Baru kami bisa menilai, apa Lo beneran jahat apa gak pada kami." Rina mengatakan ini sambil menatap dengan penuh penasaran pada Audrey. Begitu juga dengan Rifky, ia begitu antusias ingin segera mendengar perkataan Audrey.


" Lo berdua harus tinggal di apartment gue. Dari pada kosong, sayang kan ... mending Lo tempati. Gue tahu Lo ingin mandiri dengan membeli rumah sendiri. Tapi maaf, bukan gue sepele atau memandang rendah pada kalian, uang hasil penjualan rumah kalian itu tidak akan cukup untuk membeli rumah di Ibukota walau Lo bilang rumah itu udah gak di tinggali lagi dan kecil.


Yakinlah, dengan uang sebesar seratus lima puluh juta kalian gak akan mendapatkan rumah itu.


Orang di sini lebih egois, di bandingkan dengan orang di kampung Lo, Rin ... jangan karena Lo mikir karena rumah itu gak di tinggali lagi jadi anak pemilik rumah itu akan melepas dengan harga seperti yang kamu inginkan.


Kalau Lo gak percaya, sekarang Lo bisa menghubungi pemilik rumah itu. Lo pasti punya kan nomernya ? Coba Lo telepon sekarang. " Perintah Audrey dengan serius setelah bicara panjang lebar.

__ADS_1


Rina yang merasa sedikit tersinggung dengan perkataan Audrey langsung keluar dari kolam dan duduk di kursi. Begitu juga dengan Audrey dan Rifky.


Mereka kini ikut duduk di kursi yang tersedia di sekitaran kolam renang.


Rifky yang sebenarnya juga tersinggung dengan omongan Audrey, mencoba berpikir positif, ia harus membuktikan dulu, apakah perkataan Audrey itu benar atau tidak.


Rina lalu meraih ponselnya dari dalam tas.


Ia pun menekan nomer telepon anak pemilik rumah tersebut. Ia merasa lega karena teleponnya diangkat oleh buk Ros.


" Halo, siapa ini ? " terdengar suara buk Ros di ponsel Rina.


" Maaf, Bu ... ini saya Rina yang kost dekat rumah Ibu. Waktu itu saya pernah bertanya rumah Ibu itu di jual apa nggak , dan Ibu mengatakan akan menjualnya bila ada yang berminat. Kalau boleh saya tahu, berapa harga rumahnya ? Mana tahu saya cocok dengan harganya, saya dan adik saya ingin membelinya. " Rina mengungkapkan keinginannya segera.


" Oh, begitu ya ... Ini, loh sebenarnya rumah itu baru saja dibeli hari ini. Jadi, maaf sekali ya ... saya tidak jadi menjual nya pada kamu. Saya pikir waktu itu kamu hanya sekedar bertanya saja. Jadi begitu ada yang serius ingin membeli langsung saya jual saja. " ujar Bu Ros terkesan sepele saat mengucapkan Rina cuma nanya doang.


" Oh, ya ... gak papa Bu. Belum rezeki namanya ... tapi kalau boleh tahu berapa ya Ibu menjualnya ? " tanya Rina lagi, ingin memastikan harga rumah itu.


" Saya jual murah saja, cuma tiga ratus lima puluh juta. Rumah nya kan kecil, terus masih banyak yang harus di benahi ... jadi mau gak mau saya harus menjual dengan harga murah. Memangnya kamu mau beli dengan harga berapa ? Kalau kamu mau membeli dengan harga yang lebih tinggi, mungkin saya bisa membatalkannya. " Ternyata Bu Ros ini orang yang serakah. Sikapnya selama ini hanya pura - pura ramah dan baik saja di depan Rina.


Rina langsung terhenyak lemas mendengar harga rumah itu. Ternyata apa yang di katakan Audrey benar. Bukan karena dia sepele atau ingin memaksa Rina dan Rifky buat tinggal di mansion dengannya.


" Oh, gak usah Bu ... saya cuma bertanya saja. Saya juga udah dapat tempat tinggal yang lebih layak. Makasih ya, Bu ... ' Rina langsung menutup sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari bu Ros lagi.


" Lo benar, Drey ... uang segitu gak bisa membeli rumah di sini." ujar Rina lemas.


" Udah, bukan itu maksud gue.


Dengan uang yang kalian punya, kalian bisa memenuhi kebutuhan sehari - hari selagi Rifky belum bekerja. Sedang masalah tempat tinggal, Lo bisa tinggal di apartment gue, kalau Lo memang gak mau tinggal di mansion ini.


Biar urusan kuliah Lo berdua, gue yang nangani. Kebetulan Daddy punya saham di kampus gue. Jadi gue bisa mengusulkan nama kalian untuk menerima beasiswa di sana. Gimana ... kalian setuju dengan usul gue ? " ujar Audrey dengan serius menatap mata kedua kakak beradik itu.


"Gue setuju, tapi dengan syarat kami gak mau semua serba gratis. Sepulang kami kuliah, gue dan Rifky akan bekerja sebagai pelayan di mansion Lo. Terserah mau di suruh ngerjain apa. Gimana, kalau Lo setuju, gue juga akan setuju dengan syarat dari Lo. " gantian Rina mengajukan syarat pada Audrey.


"Masa sahabat gue jadi pelayan di mansion gue sendiri ... gak mungkin lah, Rin ... nanti apa tanggapan teman yang lain kalau gue melakukan hal ini dengan kalian berdua. Gini, aja ... selagi Lo berdua di mansion, Lo, Rin .. cukup melakukan beres - beres di kamar gue aja. Sedangkan Lo, Ky , bisa bantu pak sopir buat membersihkan mobil - mobil gue. Sekalian Lo, Ky latihan bela diri sama bodyguard gue yang kemarin. Jadi Lo nanti bisa jadi bodyguard pribadi gue.


Gimana ... cocok, gak ? " Audrey menatap mereka dengan senyum kecil di bibirnya.


Rina yang tahu, Audrey akan melakukan segala cara agar mereka berdua setuju hanya bisa tersenyum lebar mendengar perkataan Audrey.


" Baiklah, gue tahu Lo pintar banget cari alasan ... gue dan Rifky setuju. Gue juga mau sekalian belajar bela diri dengan Rifky biar bisa melindungi diri dari orang - orang jahat yang mau gangguin kita . Lo gak sekalian belajar bareng kami, Drey ... ? " Rina akhirnya memutuskan menerima penawaran Audrey.


Ia juga ingin kuliah agar bisa menjadi orang yang berhasil.


Mungkin Allah mengirimkan Audrey kepada mereka berdua sebagai perantara agar derajat mereka bisa terangkat dan tidak di pandang remeh lagi oleh orang lain.


" Okey, gue setuju banget.


Kalau gue, Lo gak usah mikirin ...


sejak kecil gue udah terbiasa latihan dengan berbagai jenis bela diri. Lo tahu sendiri, orang tua gue sebagai pengusaha banyak memiliki musuh. Jadi gue di tuntut untuk bisa melindungi diri sendiri. Walaupun diam - diam Daddy selalu menyuruh bodyguard mengikuti gue kaya ke kampung Lo, kemarin.


Kalau gue sih, lebih senang pergi tanpa ada pengawal. Nah, kalau nanti Rifky udah jago ... orang pasti gak akan menduga jika dia bodyguard pribadi gue.. Lo tetap harus seperti ini, Ky ... jangan sampai ada yang tahu kalau Lo berdua bisa bela diri. Okey ... " wajah Audrey terlihat senang saat mengatakan hal ini.


" Okey ... " sahut Rifky juga dengan raut wajah senang.


" Btw, Lo mau ngambil kuliah jurusan apa, Rin ... biar besok sekalian kita berangkat ke kampus. ... jadi gue bisa langsung daftarin Lo berdua. " tanya Audrey.


Rina terdiam sejenak mendengar pertanyaan Audrey. Ia benar - benar gak bisa percaya kalau akhirnya bisa meneruskan pendidikannya.


" Kalau Lo masih bingung, gimana ambil jurusan kaya gue ... Ekonomi bisnis. Jadi Lo bisa belajar dengan menggunakan buku gue. Terus bisa ketemu Zia, Dea dan Bella, mereka juga kuliah dengan jurusan yang sama kaya gue. " Audrey memberikan usul pada Rina.


" Ya, gue setuju ... jadi kalau gue ada yang kurang mengerti gue bisa nanya sama kalian." sahut Rina semangat.


" Sip ... dan Lo Ky, jadi kan mau ambil jurusan Ilmu Komputer ? " kini Audrey menatap Rifky.


" Jadi, Drey ... " sahut Rifky singkat karena berusaha menenangkan hatinya yang ingin teriak karena senang bisa kuliah.


" Eh, kalau mau teriak ... teriak aja.


Jelek banget muka Lo di tahan kaya gitu ." goda Audrey.


Rina dan Rifky langsung teriak dengan keras begitu Audrey selesai bicara.


" Udah, puas teriaknya ... sekarang kita masuk kedalam yuk ... terus mandi, bisa masuk angin kita kalau tetap memakai baju basah kaya gini. " ujar Audrey langsung bangkit dari tempat duduknya dan melangkah masuk ke dalam.


Rina dan Audrey yang masih belum hilang rasa senang di hatinya karena akhirnya bisa meneruskan pendidikan mereka, berteriak kencang sekali lagi, sebelum ikut menyusul Audrey masuk.


Audrey tertawa ketika mendengar kembali teriakan mereka berdua.


**********************************

__ADS_1


__ADS_2