
Sejak Zia dan Dea menginap di mansion nya Audrey dua Minggu yang lalu, hari ini mereka berdua kembali akan menginap di sana.
Mereka sudah janjian akan hangout bersama kali ini. Sudah lama mereka tidak kumpul dan keluar bareng sejak Audrey sibuk dengan pekerjaannya. Begitu juga dengan mereka sibuk dengan kuliah masing - masing.
" De ... apa kita langsung ke mansion aja sekarang !" ujar Zia.
" Hmm ... boleh, deh. Biar kita nunggu Audrey pulang kerja di mansion aja. Jadi kita bisa istirahat, sebelum keluar nanti malam." jawab Dea setuju.
" Okey ... Tapi Bella kemana ya ? Kog, gak kelihatan ... ? Padahal tadi dia langsung keluar begitu selesai kuliah dan bilang bakalan nunggu kita di kantin. Karena Lo dan gue lanjut masuk buat pelajaran berikutnya. Mobil Audrey yang di bawanya juga gak ada." ujar Zia heran.
" Hmm ... udah biarin aja. Paling
dia pergi duluan. " ucap Dea dengan santainya.
" Iya juga sih ... jadi kita berangkat sekarang ke mansion ?" tanya Zia.
" Iyalah ... biar cepat nyampe terus bisa istirahat, deh !" sahut Dea.
" Lo, ya ... kalau urusan tidur aja cepat banget !" cibir Zia.
" Lah, bagusan gue, dari pada Lo ... Orang lain biasanya ijo matanya kalau lihat uang. Nah, Lo malah ijo kalau lihat makanan ! Tapi yang buat gue heran, mau sebanyak apapun makanan yang Lo makan, tapi berat badan Lo segini - gini aja. Jangan - jangan cacingan, Lo ... !" balas Dea.
" Hehehe ... enak aja cacingan. Disitulah letak daya tarik gue yang sebenarnya. Meskipun banyak makan tapi tetap gak pernah gendut !".
" Hahaha ... Ya, udah yuk ... !" .
Zia menganggukkan kepala lalu ikutan masuk ke dalam mobil Dea, karena mereka sudah janjian sebelumnya kalau hanya bawa satu mobil aja, biar gak ribet.
Sementara itu Audrey dan Rina yang baru saja selesai meeting, bergegas menuju parkiran perusahaan, karena Audrey sedang tidak sehat.
Rina terpaksa harus meminta kursi roda buat Audrey karena
Audrey merasa kepalanya tiba - tiba merasa berat, hingga untuk berbicara saja ia gak sanggup.
Belum lagi, sebagian anggota tubuhnya mendadak terasa kaku, sulit di gerakkan.
Tentu saja hal ini membuat semua yang ada di ruang rapat merasa terkejut, terutama Rina.
Padahal Audrey dalam keadaan baik - baik saja ketika mereka berangkat dari mansion pagi tadi.
Rina tidak melihat gejala ia sedang menderita sakit.
Kejadian ini membuat Rina merasa bingung. Bagaimana mungkin dari yang awalnya baik - baik berubah jadi sakit seperti ini.
Rina dibantu oleh asisten dan mbak Vina membawa Audrey ke dalam mobil. Setelah itu, Rina dengan tergesa memacu mobil dan membawanya menuju mansion.
Ia sangat cemas saat melihat wajah Audrey yang pucat menahan kesakitan di kepalanya.
Rina semakin memacu mobil dengan lebih kencang. Ia harus secepatnya sampai ke mansion agar Audrey bisa di periksa oleh dokter langganannya.
Rina tidak jadi membawanya ke rumah sakit karena Audrey tadi sempat meminta untuk di bawa pulang ke mansion saja. Karena ia merasa sakit kepalanya di sebabkan kurang istirahat saja.
Dea dan Zia yang sudah sejak tadi berada di mansion Audrey sangat terkejut begitu mendengar teriakan. Mereka pun bergegas keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah. Mereka melihat Rina sedang mendorong kursi roda dengan Audrey di atasnya.
Semua pelayan yang ada termasuk Lily begitu terkejut melihat keadaan Audrey yang terlihat begitu pucat dan lemah.
Meskipun dalam hatinya, Lily bersorak karena obat yang
di beri nya setiap hari pada Audrey sudah mulai menunjukkan reaksi.
" Non Rina, apa yang terjadi dengan nona Audrey ? " tanya Nana khawatir.
" Gak tahu, mbak ... tiba - tiba aja tadi Audrey kepalanya mendadak sakit dan ia susah bicara !" ucap Rina menjelaskan.
" Oh, kog bisa non ... tadi pagi saat berangkat baik - baik aja ?" ujar Nana heran.
" Saya juga gak mengerti. Sekarang tolong mbak Nana berikan segera nomer dokter pada Dea ! " ucap Rina tak ingin membuang waktu lebih lama.
__ADS_1
" De, tolong bantu hubungi dokter pribadi mansion ini dan suruh segera datang ! Katakan kalau Audrey sedang sakit !" perintah Rina dengan wajah cemas.
" Baik ... !" Dea buru - buru menghubungi dokter setelah nomernya diberikan mbak Nana.
Tidak lama setelah Dea selesai bicara dengan dokter, mereka kemudian membawa Audrey
ke kamarnya dan meletakkannya di tempat tidur.
Lily juga ikut naik ke lantai atas dan masuk ke kamar Audrey. Padahal selama ini, bik Imah tidak pernah mengizinkan dia masuk ke area atas apalagi masuk ke kamar Audrey.
Meski Rina tidak menyukainya tapi ia tidak ingin membuat keributan karena melarang Lily masuk apalagi saat ini yang paling penting baginya adalah kesehatan Audrey.
Sementara Bella yang baru saja sampai di mansion merasa heran karena tidak ada pelayan yang membukakan pintu untuk nya. Pintu malah tidak terkunci.
Bella pergi ke dapur tapi tidak menemukan keberadaan Lily. Ia merasa heran, kemana perginya ?
Biasanya ia selalu melihat Lily berkutat di dapur. Hingga mereka jarang bertemu belakangan ini kecuali saat sarapan dan makan malam saja.
Bella juga sudah beberapa kali melihat Lily melakukan hal yang sama yaitu menaruh serbuk sekarang ditambah lagi sebuah cairan ke dalam masakan yang ia buat.
Ia kembali ke ruang tengah dan berniat untuk naik ke lantai atas, tapi terdengar suara bel di pintu, membuatnya menghentikan langkah dan segera membuka pintu.
Bella lumayan terkejut begitu melihat seorang pria, yang ia tahu merupakan dokter pribadi keluarga Audrey berdiri di sana.
" Maaf, apa nona Audrey di kamarnya ? " tanya dokter pada Bella.
" Hmm ... saya tidak tahu, dokter.
Saya baru aja pulang. " jawab Bella bingung dengan pertanyaan dokter di hadapannya ini.
" Kalau begitu, saya naik sekarang !" ujar dokter sembari buru - buru berjalan ke arah lift.
Ia sudah terbiasa datang ke mansion sejak orang tua Audrey masih ada. Mulai dari orang tuanya hingga dirinya sudah lama menjadi dokter pribadi keluarga ini. Hingga ia tahu di mana letak kamarnya Audrey.
Bella yang masih bingung mengikuti langkah dokter menuju lift dan segera keluar begitu tiba di lantai atas.
Bella langsung terbelalak begitu melihat semuanya berada di kamar Audrey, termasuk Zia dan Dea. Ia pun masuk dan melihat Audrey sedang terbaring di tempat tidur dengan wajah pucat.
Ia pun mendekat ke arah Dea dan Zia.
Bella masih sempat melihat kalau Lily menyeringai padanya.
Sedangkan dokter itu langsung memeriksa kondisi Audrey, yang dalam keadaan pingsan.
" Apa yang terjadi pada Audrey, De ... ?" tanya Bella dengan berbisik.
" Belum tahu ! Tadi Rina bilang waktu di perusahan ia mengeluh sakit kepala dan mendadak tidak bisa bicara. Audrey juga kesulitan menggerakkan anggota tubuhnya." Dea menjelaskan pada Bella.
" Hah ... kog bisa ? Tadi pagi dia baik - baik aja !" tanya Bella terkejut.
" Itu yang membuat Rina bingung. Tadi juga Audrey masih baik - baik aja, tapi ia mendadak sakit kepala begitu di ruang rapat !" ucap Dea dengan wajah sedih.
" Bagaimana dokter, keadaan teman saya ?" tanya Rina begitu melihat dokter selesai memeriksa keadaan Audrey.
" Apa belakangan ini dia kurang istirahat dan sedang banyak yang di pikirkan ?" ujar dokter yang menangani Audrey.
" Ya, memang banyak masalah yang sedang menimpa Audrey, dokter. Jadi dia sedikit kesulitan untuk tidur belakangan ini. Tapi apa mungkin karena hal itu menyebabkan dia jadi tidak bisa menggerakkan. anggota tubuhnya ?" tanya Rina yang memang tidak paham.
" Hmm ... kalau masalah ini, akan di lakukan test terlebih dahulu untuk mengetahui apa penyebabnya." jawab dokter.
" Tapi tadi Audrey bilang sebelum dia jatuh pingsan, dia cuma kelelahan saja dan tidak ingin di bawa ke rumah sakit. Makanya saya bawa pulang ke mansion." ucap Rina.
Selagi Rina dan dokter masih berbicara, Audrey pun siuman dan langsung duduk di tempat tidurnya.
" Ada apa ini ? Kenapa kalian semua bisa kumpul di kamar gue ?" tanya Audrey heran.
Dea, Zia, Rina dan Bella langsung menghampiri Audrey.
__ADS_1
" Lo tadi pingsan, Drey begitu nyampe di mansion !" ujar Rina memberitahu.
" Hah, kog bisa ?" tanya Audrey bingung.
" Lo gak ingat kalau tadi Lo sakit kepala hingga susah ngomong dan menggerakkan kaki Lo !" ujar Rina serius.
" Oh, iya gue ingat ! Tapi gue baik - baik aja sekarang !" setelah selesai mengatakan kalimat ini, Audrey pun bangkit dari tempat tidur dan memperlihatkan kalau ia baik - baik aja.
Dokter pun terlihat bingung melihat yang terjadi. Tadi bahkan kelopak mata Audrey susah untuk di buka saat ia sedang memeriksanya.
" Tapi, Drey ... Lo harus tetap di periksa lebih lanjut ! Kata Rina Lo bahkan gak bisa gerakan kaki.
Lo harus cek ke rumah sakit biar tahu penyebabnya. " ujar Dea.
" Iya, Drey ... Lo ke rumah sakit sekarang biar bisa di cek secara keseluruhan !" ucap Rina mendukung perkataan Dea.
" Benar kata Dea dan Rina, Drey ... sebaiknya Lo ke rumah sakit sekarang biar jelas penyebab dari sakit yang Lo alami." ujar Zia gak kalah cemas.
Lily sedikit cemas mendengar anjuran yang diberikan sahabat - sahabat Audrey. Meski pun ia yakin kalau dokter dan rumah sakit tidak akan menemukan bukti sama sekali.
Tapi ia tidak ingin Audrey di rawat di rumah sakit, karena itu berarti akan memakan waktu lebih lama untuk membuat Audrey lumpuh.
Lily merasa lega dan bisa berteriak keras dalam hati setelah mendengar Audrey menolak saran dari mereka.
" Udah, gue gak papa, kog ... !
Gue yakin, kalau tensi gue lagi turun karena belakangan ini gue susah tidur. Nih, lihat ... gue gak kenapa - kenapa kan !" ucap Audrey sembari berjalan dan berputar di dekat mereka.
" Tapi, Drey ... !" Rina berusaha protes tapi di potong oleh Audrey.
" Udah, Rin ... Lo jangan khawatir. Gue tahu kondisi badan gue. Kalau gue udah gak sanggup, pasti gua akan minta sama Lo semua buat di bawa ke rumah sakit. Masih banyak yang harus gue kerjakan. " Audrey menatap mereka semua secara bergantian.
" Dokter, gue sehat kog, tadi cuma sakit kepala doang ! Sekarang sudah gak. " ucap Audrey seperti tidak mengalami kejadian tadi.
" Hmm ... baiklah ! Tapi saya minta, nanti kalau kamu mengalami hal ini lagi, segera ke rumah sakit. Jangan pernah menganggap remeh penyakit apapun meski hanya sakit kepala, kamu mengerti, Audrey !" ujar dokter mengalah karena ia tahu meskipun Audrey dikenal wanita yang baik dan ramah tapi ia juga keras - kepala. Dokter sudah mengenalnya sejak ia masih kecil.
" Baiklah, dokter ku sayang ... hehehe ." ucap Audrey sembari tertawa.
Dokter hanya bisa menghela nafas dan tersenyum melihat tingkah Audrey yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.
" Okey, tapi kamu harus minum obat ini biar lebih enakan." ujar dokter sembari menulis resep dan memberikan nya pada Audrey.
" Okey ... !" ucap Audrey.
" Baiklah ... kamu baik - baik ya Drey ... jangan sampai sakit !" pesan dokter ini.
" Ya, jangan khawatir. Ini gak akan terjadi lagi. " ucap Audrey yakin.
" Hmm ... ya, udah saya pulang !" ujar dokter.
" Okey, terima kasih ... hati - hati di jalan ya, dokter ... !" ucap Audrey sembari mengantar hingga ke depan pintu kamarnya.
Nana dan Lily ikut keluar dan turun bersama dokter tersebut dan mengantarnya hingga ke pintu keluar.
" Terima kasih, dokter ... !" ucap Nana.
" Ya, sama - sama . Tolong lihat - lihat Audrey, jangan sampai dia jatuh sakit lagi. " pesan dokter ini.
" Ya, dokter ... !" jawab Nana.
Sedangkan Lily hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
Setelah dokter itu keluar dari mansion, Lily bergegas membuatkan minuman buat Audrey dan teman - temannya.
Tapi kali ini, ia sengaja tidak memberikan obat di minuman ini biar Audrey sedikit lebih baik, jadi mereka tidak curiga.
**********************************
__ADS_1