
Audrey berusaha terlihat ceria di depan teman - temannya begitu keluar dari kamar orang tuanya.
Ia tidak ingin membuat mereka khawatir lagi seperti tadi saat ia jatuh pingsan.
" Honey, kami udah hampir selesai, nih ... ! Lo, kangen ya sama om dan Tante ?" tanya Zia begitu melihat Audrey datang ke meja makan.
" Maaf, gue kelamaan ya di dalam.
Sekalian ada yang gue ambil, gue ngeliat foto - foto Daddy dan mommy. Ya, gue memang kangen dengan mereka. " ucap Audrey.
" Lo, yang sabar ya, Drey ... kami tahu Lo masih belum bisa terima dengan kepergian om dan tante.
Tapi, elo harus berusaha untuk mengikhlaskan dan tetap kuat.
Masih ada kami yang mendukungmu, Drey ... !" ujar Dea menepuk bahu Audrey dengan lembut.
" Thanks, De ... gue gak papa, kog. Cuma lagi kangen aja !" ucap Audrey berusaha menahan kesedihannya.
" Eh, Bella belum turun juga ?" tanya Audrey yang tidak melihat keberadaan Bella.
" Gak tahu tuh, mungkin pingsan kali tuh anak !" ujar Zia cengengesan.
" Lo, ya ....Zi ! ada - ada aja." ucap Audrey tersenyum tipis.
" Udah, Lo makan dulu, Drey ... biar kita habis ini nonton !" ucap Rina.
" Iya, udah lapar banget gue ... !" ucap Audrey lalu menaruh makanan di piringnya.
Audrey kemudian dengan lahap memakan makanannya.
Lily yang berdiri dekat meja makan bersama Nana, tersenyum sinis saat melihat Audrey makan dengan lahapnya. Apalagi Audrey sudah menghabiskan minuman yang ia buat.
" Mbak ... masakannya enak banget !" ucap Audrey setelah selesai makan.
" Bukan mbak yang buat tapi Lily.
Mbak cuma menghidangkan saja.
Sekarang urusan dapur udah mbak serahkan pada Lily. " ujar Nana.
" Oh, Lily yang buat ? Audrey pikir setelah mbak sembuh, mbak yang megang dapur lagi. " ucap Audrey.
" Gak, non ... sejak sakit kemarin, badan mbak sering kelelahan. Gak tahu kenapa, padahal kata dokter gak ada apa - apa. Hanya tensi mbak rendah. Jadi, Lily meminta saya untuk menyerahkan semua urusan dapur padanya. Lily meminta saya istirahat biar cepat pulih." ujar Nana.
" Lily benar, mbak Nana. Mbak istirahat saja. Jangan sampai sakit kaya bik Imah ." ucap Audrey dengan tulus.
" Makasih, non Audrey ... !" ujar Nana tersenyum.
Audrey membalas senyuman Nana dengan ramah.
" Mbak dan Lily udah makan ? " tanya Audrey.
" Nanti saja non, kami masih belum lapar. " ucap Nana.
" Oh, ya udah ... makan disini aja, mbak, Lily ... kami juga udah mau naik ke kamar. Tapi nanti tolong sediakan makanan buat Bella, ya kalau dia udah bangun. " ucap Audrey sembari bangkit dari kursinya, diikuti Dea, Rina dan Zia.
Sedangkan Rina memperhatikan gerak - gerik Lily.
" Baik, non ... terima kasih !" ujar Nana.
Audrey menganggukkan kepalanya kemudian bersama teman - temannya berjalan meninggalkan ruangan makan.
Lily menatap kepergian Audrey dengan mata tersenyum licik.
" Hmm ... lihat saja. Waktu Lo gak akan lama lagi !" batin Lily.
Saat Audrey dan teman - temannya melewati kamar Bella, pintu kamarnya masih terkunci.
Mereka juga tidak mendengar suara Bella.
" Pingsan beneran kali dia ya ... hehehe." ujar Zia tertawa.
" Huss ... gak boleh gitu, Zi ... mungkin Bella kecapekan jadi dia tertidur. " ucap Audrey tersenyum.
" Capek kenapa ? Dia kan cuma kerja di satu tempat aja sekarang. Di mansion Lo, dia juga gak ngerjain apa - apa ! Ke kampus juga make mobil, Lo ... ! jadi capek dari mana !" ujar Zia menolak perkataan Audrey.
__ADS_1
" Udah, biarin aja ! " ucap Audrey.
" Drey, jadi orang baik itu bagus tapi gak kebaikan juga !" kali ini Dea yang bersuara.
" Hehehe ... ada - ada aja, Lo ! Udah, sekarang kita nonton film apa, nih ... ?" ucap Audrey setelah mereka berada di kamarnya.
" Terserah, asal jangan film hantu !" ujar Zia.
" Hmm ... gimana kalau kita nonton film drama Korea tentang balas dendam dan cinta tapi ada pembunuhan nya juga. Dari referensi, yang gue lihat film nya bagus .. !" kata Audrey.
" Boleh deh ... dari pada film hantu." ujar Zia setuju.
" Dasar penakut, Lo ... ! Dari dulu gak berubah." ujar Dea.
" Biarin ... dari pada gue gak bisa tidur nanti !" jawab Zia sambil mencibirkan mulutnya.
Melihat hal ini mereka pun jadi tertawa. Sejak kecil, Zia memang sangat penakut.
Ia mengalami trauma saat ia masih kecil dan melihat secara langsung ketika ia dan keluarganya menginap di villa, Zia melihat sosok perempuan terbang menghampirinya dengan wajah penuh darah. Tapi setelah itu tiba - tiba menghilang di depan matanya.
" Udah ... kita jadi nonton ini kan ?" tanya Audrey.
" Jadi, dong ... !" jawab mereka serempak.
Audrey lalu mulai memutar film yang ia katakan tadi. Mereka berempat dengan serius menonton film yang di putar Audrey.
" Gila ... jahat banget nih cewek ! udah ditolong sama sahabatnya masih tega ngelakuin hal jahat gitu !" ujar Zia dengan wajah kesal.
" Iya, jahat banget. Udah di bantu sampe segitunya sama sahabatnya malah mau menguasai hartanya. " ujar Dea gak kalah kesal dengan Zia.
" Gue yang paling kesal ngeliat pacar cewek ini, jahat banget !
Pura - pura baik, ternyata dia yang merencanakan semuanya dengan sahabat pemeran utama !" ujar Rina dengan wajah geram.
" Ada ya, orang kaya mereka ! Hanya karena mau menguasai harta sampai tega melakukan hal sekejam itu ! " ujar Dea.
" Iya, kasihan banget gue lihatnya !
Udah harta diambil, di buat cacat pula. Padahal dia udah sebaik itu pada mereka. " ujar Rina.
" Kalau gue ketemu dengan orang kaya mereka, udah gue sate !" ujar Zia.
" Iya, padahal udah sahabatan dari kecil ya mereka. Kog bisa tega, ya ... !" ucap Audrey.
" Itu, makanya Drey ... terkadang orang yang dekat dengan kitalah yang paling memiliki potensi besar melakukan kejahatan pada kita !" ujar Rina.
" Benar apa yang Lo bilang Rin ... dari kasus - kasus yang terjadi kebanyakan orang terdekat korbanlah yang melakukan tindak kejahatan itu !" ujar Dea setuju.
" Tapi yang buat gue gak habis pikir sama kenapa sahabat cewek ini bisa setega ini. Padahal udah di tolong, di kasi kerjaan, di suruh tinggal di rumah si cewek ... eh, malah ngelakuin hal sekejam ini padanya. Apa ada ya, orang sekejam ini ?" ujar Dea gak habis pikir.
" Syukurnya cewek ini masih tetap bisa bertahan hidup, ya ... dan bisa balas dendam pada mereka !" ujar Rina senang.
" Iya, syukuri ... udah ujungnya gak dapat apa - apa malah di penjara ... rasain ! " ujar Zia tertawa lebar.
Saat mereka begitu asyik membahas film yang baru saja selesai mereka tonton, tiba - tiba Bella masuk ke kamar Audrey.
" Lagi bahas apa nih ... kog gue lihat kalian asyik banget !" ujar Bella menghampiri Audrey dan yang lain.
" Lagi bahas film, Bel ... btw, Lo ketiduran ya ? " tanya Audrey setelah menjawab pertanyaan Bella.
" Iya, hehehe ... sorry ! Ngantuk banget gue , Drey ... tapi film apa sih yang kalian tonton sampai saat gue mau masuk ke kamar Lo, Zia masih ngedumel gitu !" ujar Bella.
" Film tentang seorang sahabat yang tega mengkhianati sahabatnya yang sudah menolong dia dalam hal apapun, mulai dari di beri pekerjaan, di kasi tinggal di rumahnya ... eh, gak tahunya malah merencanakan sesuatu yang sangat mengerikan di belakang cewek itu bersama pacar sahabatnya. Mereka mengambil harta dan perusahaan cewek itu dan yang paling parah, mereka malah membuat cewek itu cacat dan akhirnya menghabisinya ! Ada gak ya, orang sejahat mereka di dunia nyata !" ujar Rina sengaja menjelaskan film secara rinci untuk melihat reaksi Bella.
" Ih, amit - amit ! Jangan sampai manusia jahat kaya gitu ada di - dekat kita. " ujar Zia.
" Iya, Lo benar Zi ... mudah - mudahan kita gak punya teman kaya cewek jahat tadi ! Kalau beneran ada, gue harap cewek itu mati aja, dari pada harus mengkhianati sahabatnya sendiri !" ujar Dea menimpali.
"Gue yakin kalian semua adalah sahabat terbaik yang dikirimkan Allah buat gue !" ucap Audrey tersenyum menatap satu - persatu wajah sahabatnya.
Bella sangat terkejut begitu mendengar penjelasan dari film yang mereka tonton.
Hampir saja ia terjatuh karena kakinya mendadak lemas mendengar kata - kata Zia, Dea dan Audrey. Untung saja ia masih tetap berusaha keras untuk bisa bertahan. Kalau tidak mereka pasti akan curiga.
Film itu seakan sedang menyindir dirinya. Hal yang ia lakukan sekarang sama persis dengan film yang mereka lihat.
__ADS_1
" Lo, kog diam aja, Bel ... seru kan filmnya !" ujar Rina menatap Bella dengan menarik sudut di bibirnya.
Ia sempat melihat perubahan di wajah Bella saat ia menceritakan film tadi.
" Eh, nggak papa, Rin ... ! iya, seru banget ya, filmnya. Sayang gue gak ikut nonton bareng kalian. " ujar Bella berusaha menutupi rasa gugupnya.
" Kalau Lo mau nonton, bisa gue ulang filmnya Bel ... !" ucap Audrey .
" Hah ... gak usah, deh ... ! Kalian udah selesai juga nontonnya. Gak enak kalau gue sendiri yang nonton !" ujar Bella mengelak.
" Gak papa, Rin ... kalau Lo mau, kami bisa ikutan menonton ulang ! Filmnya seru ... !" ujar Rina.
" Gak deh, Rin ! ... udah malam juga ! Kalian pasti udah ngantuk. Gue mau ke bawah, lapar nih ... hehehe. " ujar Bella menolak ajakan Audrey dan Rina.
" Ya, udah ... Lo makan, gih ! Kami udah makan dari tadi, saat Lo tidur. Tadi gue udah nyuruh mbak Nana dan Lily buat menyediakan makanan buat Lo. " ucap Audrey.
" Oh, thanks, Drey ... gue turun ya !" ujar Bella sembari berjalan ke arah pintu.
" Eh, Bel ... gue dan Dea tidur di kamar Lo ... setelah kami selesai ngobrolnya. Jadi jangan Lo kunci pintu kamarnya kaya tadi. " ujar Zia sebelum Bella melangkah keluar dari kamar Audrey.
" Oh, okey Zi ... !" ujar Bella lalu keluar.
Begitu Bella udah diluar, ia menarik nafas lega. Ia benar - benar gugup tadi saat berada di dalam kamar Audrey.
Apalagi ia lihat, Zia dan Dea seakan sedang menyindir dirinya. Bahkan dengan ketus tadi Zia menyuruhnya untuk tidak mengunci pintu kamarnya.
Padahal bisa saja mereka tidur di kamar yang lain, kenapa harus di kamar miliknya.
Ia gak menyangka ada film yang sama persis alur ceritanya dengan yang ia lakukan saat ini.
Tapi meskipun begitu, tetap saja hati Bella malah gak tersentuh sedikitpun.
Ia jadi semakin membenci dan ingin cepat menuntaskan semuanya.
" Ini gara - gara Reno ! Lama banget bergeraknya." gumam Bella kesal.
"Kalian gak lihat, wajah Bella aneh banget waktu Rina menceritakan alur film tadi !" ujar Dea.
Rina hanya diam, tidak berusaha mengatakan pada yang lain kalau ia juga melihat perubahan Bella.
" Memangnya wajah Bella kenapa, De ... ?" tanya Zia penasaran, karena ia gak mengerti maksud Dea.
" Bella wajahnya seperti terkejut gitu ! terus kakinya kaya mau jatuh gue lihat !" ujar Dea.
" Ah, masa sih ? Gue kog, gak lihat ya ... ?" tanya Zia dengan tatapan bingung.
" Ya, iyalah ... gimana Lo mau lihat. Lo keasikan ngomel jadinya gak sempat lihat wajah Bella tadi !" ujar Dea.
" Huss ... udah, gak baik ngomongin teman sendiri. Mungkin karena dia lagi capek, jadi wajahnya sedikit pucat " ucap Audrey menegur mereka.
" Bukan gitu, Drey ... gue yakin kalau gue gak salah lihat tadi ! Wajah Bella langsung pucat begitu dengar cerita Rina. " ujar Dea lagi.
" Hmm ... ya, udah ! Mungkin wajah Bella pucat karena lagi banyak pikiran. Gak ada hubungannya dengan film tadi." ucap Audrey.
" Hmm ... mudah - mudahan saja apa yang Lo katakan itu benar, Drey ... ! " ujar Dea akhirnya menyetujui perkataan Audrey.
Sedangkan Rina menahan keinginannya untuk ikut berkomentar di obrolan ini. Meskipun ia juga melihat perubahan di wajah Bella, seperti yang dikatakan Dea. Tapi ia belum bisa mendapatkan bukti kalau Bella tidak sebaik yang ada dalam pikiran Audrey.
" Kalau gitu kami ke kamar Bella, ya honey ... mata gue udah mulai ngantuk, nih ... !" ucap Zia sembari mengucek matanya.
" Okey, tidur sana, kalau udah ngantuk ! ... Lo berdua kan besok harus kuliah !" ucap Audrey.
" Hmm ... ya, udah Drey ! Kalau gitu kami tidur ya ... sampai jumpa besok pagi !" ujar Dea sembari berjalan bersama Zia menuju pintu kamar Audrey.
" Okey, De, Zi ... selamat istirahat !" ucap Audrey.
Mereka berdua pun lalu keluar dari kamar Audrey.
" Yuk, tidur Rin ... gue juga udah ngantuk, nih !" ucap Audrey pada Rina.
" Ya, Drey ... Lo duluan aja tidurnya. Gue mau ke kamar mandi bentar. Biasa, perut gue wajib setor kalau udah malam hari !" ujar Rina.
" Ok, okey ... gue tidur ya !" ucap Audrey.
" Ya ... !" sahut Rina yang sudah berjalan ke arah kamar mandi.
__ADS_1
Tidak lama setelah Rina meninggalkannya, Audrey pun mulai tertidur.
**********************************