Cinta Dan Dendam Audrey

Cinta Dan Dendam Audrey
Episode 79


__ADS_3

Bella dengan senyum lebar memarkirkan mobil sport yang


di kendarai nya di parkiran kampus. Tentu saja kehadiran Ferrari merahnya menjadi pusat perhatian mahasiswa. Karena baru kali ini Bella mengendarai mobil ke kampus. Meski ia sering naik mobil mahal juga, tapi mereka tahu kalau yang dinaikinya adalah mobil teman - temannya. Tapi kali ini ia mengendarainya sendiri.


Zia dan Dea yang kebetulan tiba bersamaan dengan Bella tentu saja tahu kalau mobil yang dibawa Bella adalah miliknya Audrey, karena mereka juga pernah membawanya. Tapi yang membuat mereka heran, kenapa Bella bisa membawanya tanpa Audrey.


Buru - buru Zia dan Dea keluar dari dalam mobil dan segera menghampiri mobil yang dibawa Bella. Mereka berdiri di samping mobil menunggu Bella keluar.


Bella keluar dengan senyum bahagia menghias wajahnya.


" Hai, pagi De, Zi ... !" sapa Bella.


" Pagi juga Bel ... ! btw, kenapa Lo bisa bawa mobil Audrey ?" setelah menjawab sapaan Bella, Dea langsung menanyakan mengenai hal ini.


" Iya, kenapa Lo bawa mobil Audrey ? " tanya Zia penasaran.


" Oh, Audrey yang menyuruh gue


membawanya. " sahut Bella santai.


" Kog bisa ... kapan Lo ke mansion Audrey ?" tanya Dea.


" Kemarin ... tapi, ntar aja deh gue ceritain pas istirahat ... gue gak mau telat. Lo, juga kan, Zi ... bisa berabe urusannya kalau sampai si kulkas udah duluan masuk di kelas ! " ujar Bella.


Meski Zia dan Dea masih penasaran dengan jawaban yang diberikan Bella, bahwa kemarin ia ke mansion Audrey. Tapi kenapa malah hari ini ia bisa membawa mobil Audrey. Tapi terpaksa mereka harus menunda sejenak pertanyaan yang ada di benaknya.


Zia juga gak ingin mencari masalah lagi dengan Pak Abdi.


Sementara Dea harus masuk ke kelas yang lain dengan dosen yang gak killer nya.


" Benar, ya ... ntar istirahat Lo harus cerita sama kami !" ujar Zia.


" Iya, gue pasti cerita. Sekarang yang penting kita kuliah dulu. " ujar Bella mulai beranjak dari


sisi mobil.


Mereka bertiga kemudian berjalan


meninggalkan parkiran. Zia dan Bella masuk ke kelas mereka. Sedangkan Dea menuju kelas yang lain.


Tidak berapa lama, Pak Abdi pun masuk ke kelas mereka. Ia menatap ke arah Zia.


Sebenarnya Abdi ingin bertanya mengenai Audrey. Meski ia sudah menyuruh seseorang untuk mengikuti semua yang di lakukan


Audrey, dan ia sudah menerima laporan darinya. Tapi tetap saja Abdi ingin melihat dan mendengar secara langsung dari teman - teman dekat Audrey.


Sejak ia wisuda, Abdi susah untuk ketemu dengannya. Ia bingung harus memberikan alasan apa jika ingin menemui Audrey. Lagi pula, ia sedang berusaha untuk melupakan rasa cintanya pada Audrey, walaupun ia gak yakin bisa.


Ia menghela nafas dengan gusar karena belum mendapatkan solusi, apa yang harus ia lakukan agar Audrey tidak curiga jika Abdi ingin bertemu dengannya.

__ADS_1


" Zi, Lo ngerasa gak, kalau Pak Abdi sejak masuk ke kelas melihat ke arah Lo terus !" ujar salah satu teman di kelas Zia, karena Bella gak duduk di dekat Zia.


" Gak usah ngada - ngada deh ... ngapain juga Pak Abdi ngeliatin gue ! " bantah Zia gak percaya sembari melihat ke depan.


Tapi ternyata apa yang dikatakan teman kelasnya ada benarnya. Saat ia melihat ke arah Pak Abdi alias si kulkas julukan yang Zia sematkan, memandang dengan wajah serius ke tempat Zia duduk.


Hal ini membuat Zia khawatir.


Ia takut kalau tanpa ia sadari sudah membuat kesalahan lagi hingga membuat Pak Abdi marah padanya.


" Gue salah apaan lagi, ya ... tugas yang diberikan Pak Abdi udah gue


kumpul. Nilai gue juga udah lumayan sekarang !" gumam Zia merasa khawatir.


Abdi yang mengetahui kalau Zia sudah mengetahui kalau ia sedang memperhatikannya mengalihkan tatapannya ke arah lain. Ia kemudian bangkit dan mulai menjelaskan mata kuliah yang ia ajarkan. Tidak terasa sudah waktunya ia keluar karena waktu mengajarnya sudah habis.


Abdi pun akhirnya keluar dari kelas dengan langkah berat.


Akhirnya ia membatalkan niatnya untuk bertanya pada Zia. Ia tidak mungkin bertanya di depan beberapa mahasiswa mengenai Audrey. Ia akan mencari cara lain agar tidak menimbulkan kecurigaan.


Zia menarik nafas lega setelah melihat Abdi keluar dari kelasnya.


Ia mulai mengikuti mata kuliah yang selanjutnya.


Sementara itu Audrey dan Rina sebelum pergi ke perusahaan dagang ke rumah sakit terlebih dahulu untuk melihat perkembangan bik Imah.


Tapi sayangnya saat mereka datang, bik Imah masih tertidur karena ternyata semalam bik Imah kembali tidak sadarkan diri.


" Kita tidak jadi ke perusahaan hari ini, Rin ... gue mau disini menunggu bik Imah sampai sadar. " ucap Audrey dengan perasaan sedih memikirkan kondisi bik Imah.


" Okey, Drey ... biar gue hubungi mbak Vina dulu. Sekalian gue ke kantin bentar beli minuman buat kita." ujar Rina sembari mengeluarkan handphone dari dalam tasnya.


" Okey, gue tunggu lo di kamar bik Imah. " ucap Audrey, lalu berjalan meninggalkan Rina yang sedang menghubungi Vina, sekretaris kedua Audrey.


Sementara itu Zia langsung menagih janji Bella yang akan menceritakan bagaimana bisa mobil Audrey bisa ia bawa ke kampus, begitu mereka telah selesai kuliah.


" Sekarang cerita sama kita, gimana Lo bisa bawa mobil Audrey ?" ujar Zia tanpa basa - basi.


Dea juga menatap Bella dengan tatapan ingin tahu.


Bella menarik nafas pelan sebelum memulai ceritanya.


" Sebenarnya gue sekarang tinggal di mansion Audrey. " ujar Bella.


" Apa ... ? Kog bisa ... ?" tanya Dea kaget.


" Kemarin gue cerita masalah gue dengan Audrey yang gak bisa lagi bayar apartment. Setelah itu Audrey nawarin ke gue buat tinggal bersamanya bareng Rina


di mansion. " ujar Bella.

__ADS_1


" Hmm ... jadi mulai semalam Lo udah tinggal di tempat Audrey ? " tanya Dea lagi.


" Iya, De ... sebenarnya gue udah menolak dan cuma minta pinjamin uang buat bayar uang kost. Gue mau ngekost aja biar lebih murah bayarnya. Tapi Audrey malah nyuruh gue untuk tinggal


di mansion nya. " Bella dengan pintarnya memanipulasi keadaan agar Dea percaya.


" Terus, Audrey juga yang nawarin Lo bawa mobilnya ?" tanya Zia.


" Iya, Zi ... gue udah coba nolak juga, sih ... tapi kalian pasti tahu sifatnya Audrey. Dia tetap maksa gue buat bawa mobilnya biar gue gak telat ke kampus, karena Audrey gak bisa nganterin gue. Jadi dia suruh gue bawa sendiri." jelas Bella.


" Gak heran gue sih, kalau ngeliat Audrey. Dia itu baik banget. Dari dulu Audrey memang paling gak bisa kalau ngeliat orang yang sedang mengalami kesulitan. " Zia bicara dengan wajah yang terlihat begitu mengagumi Audrey.


" Iya, Zi ... bukan cuma sama kita. Hampir pada semua orang ia melakukannya. Mudah - mudahan setiap kebaikan yang Audrey lakukan membuat ia dijauhkan dari orang - orang yang berniat jahat. " ujar Dea menambahkan.


" Aamiin ... " sahut Zia.


Bella hanya bisa menahan kesalnya dalam hati mendengarkan setiap pujian yang keluar dari mulut Zia dan Dea mengenai Audrey.


" De, Zi ... gue duluan ya. Gue udah harus berangkat kerja. Kalau gue sampai telat gue bisa di pecat !" ujar Bella.


" Oh, Okey ... !" sahut Zia cepat, sedangkan Dea hanya menganggukkan kepalanya saja.


Bella kemudian buru - buru pergi meninggalkan Zia dan Dea. Padahal masih ada waktu lumayan lama sebelum ia masuk kerja tapi ia sengaja pergi karena malas berlama - lama ngobrol dengan mereka berdua.


" De ... Lo ngerasa gak kalau sikap Bella agak sedikit aneh ? " tanya Zia setelah Bella pergi meninggalkan mereka.


" Hmm ... ya. Gue malah udah sejak lama merasakannya. " ujar Dea jujur.


" Hah ... sejak kapan ?" tanya Zia gak percaya.


" Sejak dia sering menghilang dari kampus. Terus ketika kita menanyakan sama Bella, kalau dia udah punya pacar atau belum


dan banyak hal lain dilakukan Bella yang membuat gue kurang percaya dengannya lagi." ujar Dea.


" Lo benar ... kenapa gue bisa lupa ya ... ! ujar Zia setuju.


" Hmm ... ya udah, mulai sekarang kita harus lebih sering memperhatikan gelagat Bella.


Gue merasa ada hal yang selalu dia sembunyikan dari kita selama ini. " ucap Dea.


" Okey, setuju gue. " jawab Zia.


" Sekarang kita sebaiknya pulang. Gue mau ngerjain tugas. Besok kita nginap di mansion Audrey, gimana menurut Lo ... ?" tanya Dea serius.


" Okey ... gue juga harus pulang cepat hari ini. Papa ngajak kami sekeluarga buat makan di luar malam ini. " ujar Zia setuju.


Zia dan Dea lalu masuk ke dalam


mobil masing - masing dan segera pergi meninggalkan kampus.

__ADS_1


**********************************


__ADS_2