
Setelah membersihkan tubuh mereka masing - masing, kini mereka bertiga menunggu kedatangan Zia dan Dea yang sudah dekat dengan mansion Audrey.
" Rin ... besok sehabis dari kampus baru kita ke tempat kost Lo ... biar Lo gak kesulitan, gue udah nyuruh sopir bawa mobil satu lagi. Jadi barang - barang elo biar bisa di bawa sekaligus. " ucap Audrey.
" Terserah Bu Boss aja lah ... hahaha." canda Rina.
" Hehehe ... okey, anak buah." Audrey membalas candaan Rina.
Bik Imah memandang sedih melihat Audrey yang tertawa dengan sahabatnya. Ia sebenarnya merasa khawatir karena Tuan dan Nyonya nya belum ada memberi kabar lagi sejak yang terakhir.
Ia sudah pernah di beri pesan oleh keduanya untuk menjaga Audrey, jika suatu saat mereka gak bisa kembali ke mansion ini.
Sebelum mereka pergi, orang tua Audrey meninggalkan banyak pesan padanya. Ia juga mengetahui cerita sebenarnya tentang Tuan Eldric. Makanya sekarang ini merasa takut terjadi sesuatu yang buruk dengan Tuan dan Nyonya nya.
" Mudah - mudahan mereka bisa kembali dengan selamat." gumam Bik Imah pelan.
" Apa, bik ... siapa yang selamat ?"
tanya salah - satu pelayan yang kebetulan lewat di depan bik Imah.
" Oh, itu ... tetangga saya di kampung. " jawabnya cepat berbohong. Ia tidak bisa terlalu mempercayai semua pelayan di mansion ini. Karena kemungkinan ada penghianat yang sengaja di masukkan oleh musuh Tuan nya.
" Oh, kirain apa ? " pelayan itu masih tetap berdiri dekat dengan bik Imah sambil memandang ke arah Audrey dan teman - temannya.
" Kenapa kamu malah berdiri disini ? Apa pekerjaanmu sudah selesai di kerjakan ? " tanya Bik Imah dengan wajah serius.
" Eh, belum buk ... saya permisi." ujar pelayan itu langsung pergi ketika melihat bik Imah memandangnya dengan tatapan serius.
Bik Imah menatap dengan mata sedikit curiga pada pelayan yang baru saja pergi itu. Pelayan ini baru saja bekerja di mansion ini selama dua bulan.
Ia menggantikan pelayan yang berhenti karena sedang hamil muda.
Pelayan itu yang merasa di perhatikan oleh bik Imah hanya menarik senyum sinis di sudut bibirnya, sedangkan matanya terus memperhatikan Audrey dan ke dua kakak beradik itu.
Tak lama terdengar suara Zia yang ribut, begitu selesai memarkirkan mobil nya.
" Halo, cinta - cintaku. Gue datang ... " ujarnya dengan gaya lebay menghampiri Audrey dan Rina. Sedangkan Dea mengikuti dari belakang.
Audrey dan Rina tertawa melihat tingkah konyol Zia.
" Halo juga ganteng ... " sapa Zia dengan gak tahu malu pada Rifky.
Rifky merasa malu mendengar perkataan Zia. Ia cuma menganggukkan kepalanya menjawab sapaan Zia.
Zia dan Dea segera duduk di samping Audrey. Sedang Rina dan Rifky, duduk di depan mereka.
" Eh, Zia ... Bella tetap gak bisa di hubungi juga ? " tanya Audrey.
" Gak ... susah ketemu sama anak itu sekarang. Mungkin lagi sibuk pacaran kali. " jawab Zia asal.
" Yang benar Lo ... Bella udah punya pacar sekarang ? " tanya Audrey lagi.
" Gak tahu juga sih, cuma Dea pernah melihat dia di jemput di kampus sama cowok." sahut Zia cuek sambil menaruh kepalanya di bahu Audrey.
" Oh ... mungkin saudaranya kali atau teman kerjanya. " Audrey gak percaya.
" Gak mungkinlah kalau teman kerjanya, Drey ... cowok itu naik mobil sport mewah." kali ini Dea yang bicara.
__ADS_1
" Hmm ... ya, udah biarin ajalah.
Nanti pasti dia bakalan cerita kalau ketemu sama kita." ucap Audrey.
" Ketemu ama Bella aja sekarang susah, Drey ... gimana dia mau cerita sama kita." ujar Dea lagi.
" Tapi kan dia masih ke kampus kan ? " Audrey jadi penasaran juga.
" Masih, sih ... tapi selesai kuliah dia langsung keluar dari kelas tanpa ngobrol sedikitpun dengan kami." sahut Zia dengan raut kesal.
" Oh, gitu ... ? " gumam Audrey.
" Drey ... gue pengen nanyain soal Ama Lo, nih ... Dea juga ada yang belum mengerti. Kita langsung ke kamar aja, yuk ... " ujar Zia.
" Yuk lah ... sekalian gue mau beritahu kalian sesuatu tentang Rina dan Rifky. " kata Audrey
" Ada apa nih ? Kog gue jadi penasaran ... " ucap Zia menatap Rina dan Rifky bergantian.
" Udah, kita naik dulu ke kamar gue. Ky, Lo gak papa kan kalau kami tinggal atau kita naik aja sekalian ?" tanya Audrey sambil bangkit dari duduknya.
" Gak papa lah, Drey ... tapi aku memang mau naik juga ke atas biar sekalian istirahat. Capek juga abis berenang tadi. " jawab Rifky juga bangkit dari tempat duduknya.
" Ganteng sini dekat gue ... " ujar Zia menggoda Rifky.
Rifky hanya tersenyum kecil tanpa menjawab perkataan Zia, lalu bangkit dari tempat duduknya.
Kini dengan beriringan mereka menuju lift untuk menuju lantai atas. Begitu sampai, Rifky langsung menuju kamar tamu yang di sediakan.
" Selamat malam semuanya .
Selamat istirahat ... " ucap Rifky sopan.
Audrey dan yang lain hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah Zia.
Rifky langsung menutup pintu kamar begitu menganggukkan kepalanya.
Begitu mereka juga masuk ke kamar Audrey, Zia langsung merebahkan tubuhnya ke tempat tidur.
" Woi, ... Lo bilang mau nanya soal yang gak Lo ngerti. Kog malah rebahan ." Audrey memukul pelan bokong Zia.
" Iya, bentar honey ... gue suka banget rebahan di tempat tidur Lo ini. " sahut Zia.
" Terserah Lo, deh ... Lo mana yang gak ngerti, Dea ... ? " kini Audrey menoleh pada Dea.
Dea langsung mengeluarkan buku dari tas kuliahnya.
" Yang ini, Drey ... gue bingung lihat rumusnya. Udah gue coba cari jawabannya, tapi tetap gak ketemu. " Dea memberikan buku kuliah nya pada Audrey.
" Oya, sebelum gue jelasin cara nya sama Lo ... ada hal penting yang mau gue katakan sama Lo berdua. " ujar Audrey.
" Hah, apa itu honey ... ? " Zia yang rebahan langsung bangkit dengan semangat begitu mendengar perkataan Audrey.
" Lo, ya ... Lo pikir gue mau cerita tentang gosip. Semangat banget ... " ledek Audrey.
Dea dan Rina langsung tertawa melihat Zia memeletkan mulutnya mendengar ledekan Audrey.
" Dengerin, nih ... Rina sama Rifky akan kuliah di kampus kita." ujar Audrey.
__ADS_1
" Hah, benar nih, Drey ... ? Lo beneran mau kuliah, Rin ... " tanya Zia heboh pada mereka.
" Benar, Zia ... Audrey menawarkan beasiswa buat gue dan Rifky." sahut Rina.
" Bagus ... ini baru berita baik. Jadi ntar Lo manggil gue dan Dea, kakak senior ya .... hahaha." Zia terlihat sangat gembira.
" Gaya, Lo itu Zi ... kakak senior itu harus jadi contoh buat adik kelasnya. Nah, elo ... banyakan ngulangnya dari pada yang lulus." cibir Dea mengulum senyum.
" Eh, cuma dikit ya ... itu juga bukan karena gak lulus. Gue ngulang nilai gue yang dapat C ...
Selama ada Audrey, nilai kita kan aman. " sahut Zia gak mau kalah.
" Hehehe ... udah, udah ... jangan pada ribut Lo berdua. Gimana menurut kalian, setuju kan Rina kuliah di kampus kita ? " Audrey melerai Zia dan Dea yang pura - pura ribut.
" Setuju banget lah, Drey ... jadi begitu Lo sama Dea wisuda ... gue masih ada teman yang pergi bareng ke kampus. " Zia yang menjawab.
" Bagus, Drey ... biar Rina dan Rifky bisa kerja di perusahaan bonafit kaya perusahaan Lo kalau udah tamat kuliah." kali ini Dea yang menyetujui ide Audrey.
" Ide bagus tuh ... Lo sama Zia gak sekalian kerja di perusahaan gue ?" tanya Audrey.
" Pengennya sih, biar kita tetap bisa kumpul bareng terus setiap hari ... tapi Lo tau sendiri kan, Drey ... pasti gue dan Zia harus kerja di perusahaan orang tua kami masing - masing. " Dea terlihat muram saat mengatakan hal ini.
" Gak usah sedih, walau kalian harus kerja di perusahaan masing - masing kan kita masih bisa bekerja sama. " ujar Audrey mengelus bahu Dea.
" Iya, sih ... tapi sebenarnya gue pengen merintis perusahaan sendiri sesuai ide yang gue inginkan. " Dea mengatakan alasan keberatannya.
" Lo santai aja, De ... sambil Lo kerja di perusahaan papa Lo, Lo bisa pelan - pelan merintis perusahaan yang elo inginkan. Jadi keduanya bisa di jalankan.
Gimana menurut Lo ... ? " ujar Audrey.
" Hmm ... benar juga ide Lo, Drey ... sepertinya harus gue coba nanti. " jawab Dea semangat.
" Kalau Lo gimana, Zia ... ? " tanya Audrey.
" Gue sebenarnya cuma pengen jadi isteri yang baik aja ... tapi dengan fasilitas lengkap ... biar gue bisa shopping setiap hari." Zia memasang wajah serius.
Serempak Audrey, Zia dan Rina tertawa mendengar impian Zia.
" Kalau cuma mau jadi isteri yang baik, ngapain juga Lo capek - capek kuliah.
Tanpa menikah, Lo juga bisa belanja tiap hari kaya sekarang ... cukup tinggal minta sama papa Lo. " ejek Dea.
" Iya juga sih ... kalau gitu gak jadi nikah aja deh ... hehehe." sahut Zia tanpa beban.
" Gak jelas, Lo Zia ... udah, sekarang biar gue terangkan soal mata kuliah yang Lo berdua gak ngerti ... abis itu kita tidur." ujar Audrey kekeh.
" Rin ... Lo tidur duluan aja, kalau udah capek. " suruh Audrey melihat mata Rina mulai mengantuk.
" Gak papa kalau gue duluan tidur ? " tanya Rina gak enak, tapi dia beneran udah ngantuk ... mungkin pengaruh berenang tadi.
" Gak papa, Rina ... Lo tidur aja.
Kami masih mau mengerjakan ini." sahut Audrey sambil menunjukkan buku cetak tebal pada Rina.
" Ya, udah ... kalau gitu gue tidur ya ... " ujar Rina pada mereka.
" Yaaaaaa ... " jawab mereka serempak.
__ADS_1
Rina segera memejamkan matanya. Ia memang sangat mengantuk. Tidak lama Rina pun sudah terbang tinggi ke alam mimpi.
**********************************