
Rina hanya bisa menangis melihat Audrey yang belum juga sadar setelah dua hari berlalu. Ia masih dalam keadaan koma, karena benturan keras dari lampu yang menimpa tubuh Audrey membuat sebagian syaraf nya ada yang tidak bisa berfungsi sementara.
Baru hari ini, Audrey bisa di - pindahkan ke kamar setelah selesai operasi dan kemudian seharian di ruang I.C.U. Walaupun hingga kini ia masih belum siuman, tapi dokter mengatakan kalau sekarang keadaan Audrey sudah sedikit lebih membaik.
Pihak agensi model dan panitia acara juga sudah meminta pihak kepolisian untuk menyelidiki kejadian itu. Tapi mereka tidak menemukan ada kesalahan ataupun hal yang mencurigakan.
Sehingga kejadian ini hanya dianggap sebagai kecelakaan biasa.
" Rin ... Audrey belum sadar juga ?" tanya Zia dan Dea yang baru saja datang ke rumah sakit dengan nada prihatin.
" Iya ... " sahut Rina dengan suara serak.
" Bella mana ? Dia gak gantian jagain Audrey ?" tanya Dea.
" Hmm ... dia kemarin cuma datang sebentar. Dia banyak tugas kuliah katanya." ucap Rina.
" Anak itu kenapa, sih ? Apa dia gak ingat kalau Audrey udah banyak membantu nya !" ujar Zia dengan raut wajah kesal.
" Hmm ... waktu kejadian Bella juga gak ikut sama Lo ke rumah sakit. Dia menghilang, malah dia ngasi alasan gak tahu kejadian yang menimpa Audrey. Gak tahunya dia pulang ke mansion
dan enak - enakan tidur." ujar Dea geram.
" Iya, gue jadi curiga lihat Bella. Masa dia bisa gak tahu Audrey kecelakaan padahal dia kan ada disana juga. Terus kenapa dia bisa menghilang saat Lo lagi butuh dia, Rin ... ! " ujar Zia.
" Hmm ... gue memang udah lama curiga lihat Bella ! " ujar Dea.
Rina yang sudah berhenti menangis mendengarkan semua perkataan Dea dan Zia. Ternyata Dea juga mencurigai Bella sejak lama.
" Kenapa Lo berdua bisa curiga sama Bella ? " tanya Rina ingin tahu penyebabnya.
" Banyak sikap dan tingkah Bella yang membuat gue curiga padanya." ujar Dea.
" Kalau gue gak tahu kenapa, mulai curiga aja lihat sikapnya yang aneh belakangan ini. Apa Lo gak curiga sama Bella, Rin ... ? " ujar Zia sembari mendengus.
" Hmm ... gue juga udah curiga dengannya sejak lama seperti Dea. Tapi gue gak bisa membuktikan apa yang membuat gue curiga pada Bella. Gue juga udah pernah ngomong ke Audrey, tapi dia gak percaya. Lo berdua kan tahu sendiri, Audrey itu orangnya terlalu baik. Jadi gue cuma bisa diam dan memperhatikan semua yang di lakukan Bella di mansion." ucap Rina sembari menghela nafas berat.
" Oh, gimana kalau kita bertiga diam - diam memantau setiap pergerakan yang di buat Bella. Kami memantaunya di kampus sedangkan Lo saat Bella berada di mansion. Jadi kita bisa tahu apa yang ia rencanakan. Nanti kalau salah satu dari kita ada yang melihat gerak - gerik yang aneh dan mencurigakan dari Bella kita harus saling memberitahu. Gimana menurut kalian ... baguskan ide gue !" ujar Zia sembari nyengir.
__ADS_1
" Hmm ... ide Lo memang bagus, Zi ... itu yang sudah gue lakukan selama Bella tinggal di - mansion. Cuma gue gak berani memberitahu kalian berdua karena gue gak mau kalian berpikir kalau gue iri dengan Bella.
Sebenarnya ada orang lain lagi yang gue curigaiin." ujar Rina dengan wajah serius.
" Hah ... siapa lagi Rin ... ?" tanya Zia dan Dea penasaran.
" Reno dan Lily !" jawab Rina.
" Lily ... pelayan di mansion ?" tanya Zia dan Dea serempak dengan wajah kaget.
" Ya, Lo tahu kan kalau dia sekarang yang menggantikan sementara buat masak di dapur setelah chef lama berhenti." ucap Rina.
" Terus apa yang buat Lo curiga dengan dia ?" tanya mereka lagi.
" Okey, gue akan menceritakan sebab dari kecurigaan gue !" ucap Rina lalu menceritakan semua detail yang terjadi di mansion.
Wajah Dea dan Zia terlihat benar - benar terkejut setelah mendengar cerita Rina.
" Jadi Lo mendengar Lily dan Bella merencanakan sesuatu ?" tanya Dea.
" Terus bagaimana Lo bisa yakin, kalau Reno ikut terlibat di dalam nya ?" tanya Dea.
" Hmm ... dari awal Reno mendekati Audrey di kampung gue, gue udah curiga dengannya. Apalagi di tambah dengan semua gerak - gerik nya yang mencurigakan saat berdekatan dengan Lily dan Bella. Menurut gue mereka udah lama saling mengenal." kata Rina.
" Oh, terus apa yang paling buat Lo semakin mencurigai Reno ?" tanya Zia penasaran.
" Hmm .... begini ... " Rina lalu me jelaskan alasan dia curiga dengan Reno.
Mata Dea dan Zia langsung terbelalak mendengar semua yang diceritakan Rina. Mereka benar - benar gak menyangka semua ini bisa terjadi di mansion Audrey.
" Jadi, gue minta tolong sama kalian berdua. Gue gak yakin gue bisa melakukannya sendirian. Gue takut akan ada hal buruk lainnya yang akan menimpa Audrey. Jadi suatu saat gue butuh pertolongan kalian, Lo berdua bisa kan bantuin gue ?" tanya Rina dengan serius.
" Tentu ! Kami berdua siap bantuin Lo kapan aja. Apalagi ini semua demi membantu Audrey. Kami bertiga udah bersama dari kecil. Jadi, kapanpun Lo butuh kami, kami pasti siap !" ujar Dea dan ditimpali dengan anggukan kepala dari Zia.
" Hmm ... terima kasih ! gue lega sekarang. Terus terang gue agak takut kalau harus melakukannya sendirian. Apalagi gue dari kampung, gak punya kenalan lain selain kalian berdua. Bik Imah sekarang keadaannya tidak baik. Kalau bik Imah sehat, gue masih lebih berani." ucap Rina menarik nafas berat.
" Udah, Lo jangan khawatirkan itu. Kami siap membantu lo. Teringatnya, Bik Imah tadi datang lagi ke rumah sakit, Rin ... ?" tanya Dea.
__ADS_1
" Enggak, gue yang melarang bik Imah. Mansion gak mungkin di biarkan tanpa ada yang mengawasi. Apalagi bik Imah juga masih dalam keadaan kurang sehat. Ia harus banyak istirahat. Waktu Audrey harus di operasi kemarin aja gue menghubungi bik Imah itu pun karena gue bingung karena Audrey harus menjalani operasi." ujar Rina menjelaskan.
" Oh, Lo benar juga. Harus ada yang tetap berada di mansion." ujar Dea.
" Udah, Rin ... Lo tenang aja, malam ini kita berdua akan ikut menjaga Audrey. Besok kami gak ada jadwal kuliah." ujar Zia.
" Makasih Zi, De ... ! gue memang suka bingung kalau sendirian. Gue takut Audrey kenapa - napa." ucap Rina tersenyum tipis.
" Gak perlu pakai terima kasih, Rin ... ! Kita semua sahabatnya Audrey. Sudah sewajarnya kita ikut menjaganya. " ujar Dea.
" Terus perusahaan Audrey gimana ? Siapa yang menjalankannya. " tanya Zia.
" Gue gak tahu ! Gue gak kepikiran sama sekali." ucap Rina baru menyadari tentang hal ini. Tapi ia juga gak tahu harus melakukan apa karena Rina sadar, ia gak berhak untuk mencampuri urusan perusahaan.
" Udah, Lo gak usah pikirin masalah itu. Gue yakin Audrey punya solusi kalau mengenai perusahaan nya. Yang paling penting sekarang Audrey segera sadar biar kita tahu harus melakukan apa kedepannya. " ujar Dea.
" Ya ... tapi gue minta Lo berdua jangan mengatakan masalah yang gue ceritakan tadi pada Audrey. Gue gak ingin dia jadi berpikir kalau gue melakukan ini karena gak suka dengan Bella dan Lily. Karena dari awal gue udah bilang ke Audrey kalau gue gak percaya dengan mereka berdua. Gue yakin semua kejadian aneh yang terjadi di mansion karena perbuatannya Lily. Tapi karena gak adanya bukti Audrey jadi meminta gue untuk melupakan kecurigaan gue dan berbagai semua itu hanya kebetulan saja." ujar Rina kemudian menarik nafas panjang setalah selesai berbicara.
" Okey ... Lo tenang aja, Rin ... ! Kami gak akan mengatakan hal ini pada Audrey. Susah hati Audrey terlalu baik. Jadi dia selalu berpikir orang lain itu sama baiknya dengan dia." ujar Zia.
" Terima kasih ! Sekarang kita gantian tidur buat jagain Audrey. Lo berdua tidur aja duluan biar gue yang jaga dia." ucap Rina sembari tersenyum tipis.
" Gak, Lo dari kemarin udah gak tidur. Sekarang Lo yang harus tidur biar kami yang jaga Audrey malam ini. Okey ...!" ujar Dea sembari menarik badan Rina dan mengarahkannya ke tempat tidur.
" Iya, Lo harus istirahat yang cukup Rin biar gak jatuh sakit. Kalau Lo ikutan sakit gak ada yang membantu Audrey nanti !" ujar Zia menimpali perkataan Dea.
" Hmm ... makasih teman - teman. Gue bahagia karena bisa di - pertemukan dengan orang - orang baik seperti kalian bertiga !" ucap Rina terharu.
" Udah ... jangan ngomong lagi ! Sekarang Lo tidur !" ujar Zia sengaja melototkan matanya.
" Hee ... okey !" sahut Rina tersenyum lalu mulai merebahkan dirinya ke tempat tidur.
Badannya memang sudah lelah, tapi karena gak ada yang menggantikan dirinya menjaga Audrey membuat Rina harus menguatkan dirinya agar tetap terbangun.Ia takut saat ia tertidur ada yang berniat mencelakakan Audrey lagi, karena entah kenapa hati kecilnya yakin kalau yang dialami Audrey sekarang bukanlah kecelakaan biasa.
Perlahan mata Rina mulai terpejam. Rasa kantuknya sudah gak dapat ia tahan lagi. Sementara Dea dan Zia tersenyum miris melihat ke arah Audrey dan Rina. Mereka gak menyangka ada kejadian mengerikan sebelumnya di - mansion selain yang dialami Audrey sekarang.
**********************************
__ADS_1